PADA minggu keempat November 1971, majalah ini pertama kali terbit, dan sejak itu hingga edisi ke-155 ini, Prisma dengan setia dan teratur selama lima belas tahun tak pernah sekali pun berhenti mengunjungi pembacanya. Dalam sejarah media bulanan di Indonesia, mungkin inilah majalah ilmiah pertama yang berumur dan bernafas paling panjang. Juga dari segi oplah dan jangkauan pembacanya, mungkin ia termasuk jurnal ilmu pengetahuan yang paling luas penyebarannya. Dengan oplah rata-rata 10-15 ribu tiap kali terbit, bahkan pernah mencapai 55.000 eksemplar, Prisma bukan lagi media eksklusif para akademisi dan kaum profesi, tapi telah menjadi bacaan ilmiah-populer bagi lapisan pembaca yang jauh lebih luas dari Banda Aceh hingga Jayapura. Menilik kembali proses kelahiran majalah ini, ibarat menelusuri suatu impian muluk masa lalu yang kemudian menjelma sebagai kenyataan rutin masa kini.
Sejarah kelahiran Prisma tentu saja tidak terpisah dari sejarah pembangunan di zaman Orde Baru. Juga ia merupakan bagian dari sejarah LP3ES, lembaga yang menerbitkan jurnal ini. Setelah hiruk-pikuk perjuangan menumbangkan Orde Lama, dan memasuki era pembangunan pada Pelita I, bagi para aktivis dan eksponen ’66 terasa benar-benar kebutuhan untuk merenung, mencari pemikiran-pemikiran konstruktif untuk pemecahan masalah sosial-ekonomi jangka panjang. Namun bagi mereka yang memilih bekerja di luar jalur DPR dan birokrasi pemerintahan, terasa betapa wadah dan jalur kegiatan yang ada tidak banyak memungkinkan mereka melakukan fungsi tersebut dengan efektif. Gagasan baru, konsep dan rancangan pembangunan praktis hanya monopoli segelintir elite pemikir di lingkungan pemerintahan di Jakarta dan sekitarnya. Diskusi kreatif dan komunikasi terbuka tentang konsep dan pemikiran alternatif, bagaikan ladang yang kering bagi masyarakat luas ketika itu.
Dengan latar dan suasana seperti itulah Prisma diterbitkan, dengan maksud — seperti tersirat dalam namanya — untuk menangkap dan menyeleksi pikiran konstruktif ataupun kontroversial dalam masyarakat serta membiaskannya kembali sebagai pancaran pandangan yang perlu ditimbang dalam derap pembangunan ekonomi, perkembangan sosial dan perubahan kultural yang dialami Indonesia. Namun impian besar itu sungguh tak mudah diwujudkan. Karena keterbatasan tenaga dan sarana serta sulitnya memperoleh penulis dan penyumbang naskah yang bermutu, maka pada empat tahun pertama Prisma diterbitkan hanya sebagai jurnal dwibulanan, dan dalam dua tahun pertama seluruh pekerjaan redaksi, produksi, distribusi dan iklan praktis hanya ditangani oleh redaturnya seorang diri. Baru mulai 1973 redaksi Prisma diperkuat oleh Fuad Hashem yang sejak akhir 1975 diganti oleh Aswab Mahasin dan Rustam Ibrahim. Kemudian, dengan dibantu oleh almarhum Imam Waluyo pada tahun penerbitannya yang kelima, Prisma baru mampu menjadi jurnal bulanan hingga saat ini. Sejak 1976 itu pula wajah dan isi Prisma terus dimantapkan dan diintensifkan dalam pola tanggungjawab kolektif Dewan Redaksi yang kemudian diketuai oleh Daniel Dhakidae hingga keberangkatannya menempuh studi pascasarjana di AS tahun 1984, dan kini dilanjutkan oleh Masmimar Mangiang.
Prisma senantiasa diharuskan menyiapkan diri menghadapi dimensi baru dari tantangan dan missi yang sama, yang mengundang kehadiran jurnal ini lima belas tahun yang lalu.