Prisma

Dialog: Produktivitas Menjawab Kesulitan Ekonomi

Pengantar

Produktivitas tenaga kerja merupakan kunci keberhasilan beberapa negara industri baru di Asia. Arah pembangunan nasional yang menuju era industrialisasi, menurut Menteri Tenaga Kerja Sudomo, harus didukung dengan pengembangan sumber daya manusia. Peningkatan kualitas manusia ini merupakan human investment dalam arti produktif, terampil, profesional, bekerja efisien dan efektif. Pada Pelita IV situasi ekonomi kurang menguntungkan dan justeru pada saat kepepet inilah kerja keras menjadi penting artinya. Gerakan efisiensi dan produktivitas nasional merupakan jawabannya. Tapi apa dan bagaimana tenaga kerja Indonesia itu?

Tenaga kerja di Indonesia, dalam penilaian Dr. Anugerah Pekerti, sering bekerja asal-asalan sehingga hasilnya kurang baik. Kurangnya latihan dan bekerja tanpa terpaut dengan cita-cita yang jelas, menurut Direktur Institut Pendidikan dan Pengembangan Manajemen (IPPM) ini, menyebabkan tenaga kerja itu tidak bekerja maksimal. Nilai-nilai luhur, seperti kejujuran dan kerja keras, dapat menjadi andalan bagi peningkatan produktivitas, selain tekad untuk melakukan eksperimen bagi peningkatan kualitas diri.

Dalam berbagai kasus perusahaan, tampaknya soal produktivitas bukan merupakan hal yang asing, apalagi ini merupakan mati hidupnya perusahaan. Tanri Abeng, M.B.A. menilai, produktivitas merupakan kesatuan total dengan efisiensi manajemen. Kesalahan memilih strategi manajemen, menurut Presiden Direktur PT Multi Bintang Indonesia itu, akan menjadi sumber tidak efisiennya dan kurang produktifnya suatu perusahaan. Namun Drs. Suprapto Budjosastro mengingatkan, seandainya harus dilakukan penghematan usaha, hendaknya kebijaksanaan itu dilakukan secara bertahap, agar tenaga kerja tak menjadi korban efisiensi.

“Dialog” Prisma kali ini mengupas masalah produktivitas dan efisiensi nasional dalam menjawab kesulitan dan tantangan ekonomi, sekarang dan untuk masa datang.  Redaksi

Meningkatkan Kualitas dan Investasi Sumber Daya Manusia, Sudomo, Menteri Tenaga Kerja RI.

Tanya (T) : Masalah produktivitas pada Pelita IV tampaknya menjadi perhatian utama pemerintah. Kenapa?

Jawab (J) : Produktivitas berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia (pengembangan sumber daya manusia). Ini merupakan proses melatih orang sehingga kualitas manusia itu meningkat. Pengembangan sumber daya manusia berarti suatu human investment. Dalam Pelita IV soal produktivitas tenaga kerja menjadi penting, sebab tanpa peningkatan kualitas manusia — dalam arti produktif, terampil, profesional, bekerja efektif dan efisien — kita tak mungkin memasuki era industrialisasi atau tinggal landas pada Pelita IV mendatang.

Produktivitas Nasional Butuh Kepanjangan Tekad, Anugerah Pekerti, Direktur Institut Pendidikan dan Pembinaan Manajemen.

Pada umumnya patokan yang dipakai untuk mengukur produktivitas tenaga kerja adalah hasil kerja setiap orang dalam satuan waktu tertentu. Misalnya tukang batu Indonesia mampu memasang 600 batubata sehari untuk pembangunan gedung, sementara tukang batu Singapura dapat memasang batubata sampai 1.200 buah, ini berarti produktivitas tukang batu Indonesia hanya separuh tukang batu Singapura.

Efisiensi Manajemen, Penentu Produktivitas, Tanri Abeng, Presiden Direktur PT Multi Bintang Indonesia.

Faktor tenaga kerja memang punya arti penting dalam maju mundurnya perusahaan, tapi produktivitas tenaga kerja hanyalah bagian kecil dari produktivitas perusahaan secara total. Tenaga kerja dapat lebih produktif. Misalnya, semula seorang pekerja hanya menghasilkan tiga buah produk lalu meningkat menjadi lima buah, tapi kenaikan produktivitas tenaga kerja itu sangat dipengaruhi oleh manajemen. Tanpa keputusan manajemen yang tepat, sebesar apa pun kenaikan produktivitas tenaga kerja, saya kira prestasi ini masih belum berarti untuk perbaikan perusahaan secara menyeluruh. Malahan perusahaan bisa bangkrut hanya karena bagian produksi terlampau produktif tanpa diimbangi oleh produktivitas bagian-bagian lain, misalnya bagian pembelian, keuangan dan pemasaran.

Bertitik tolak dari pemikiran itu, saya melihat masalah produktivitas lebih sebagai efisiensi manajemen secara total daripada hanya sebagai perbandingan antara output dan input sebagaimana dipahami oleh masyarakat umum saat ini. Secara lebih luas kita harus menilai kemampuan perusahaan untuk bertahan, bersaing dan berkembang dalam kehidupan bisnis sekarang dan di masa mendatang.

Meningkatkan Produktivitas Tanpa Korban Pekerja, Suprapto Budjosastro, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Apindo-Kadin.

Soal produktivitas bagi perusahaan dari dulu sudah merupakan pusat perhatian, sebab ia merupakan inti hidup matinya usaha. Tanpa produktivitas yang tinggi, tak mungkin perusahaan menghasilkan produk yang kompetitif, apalagi pada masa kini di mana dunia usaha sedang dilanda kelesuan. Peningkatan produktivitas selalu dilakukan oleh perusahaan menurut cara atau sistem yang sesuai dengan kondisi usahanya.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan