Pengantar
PAPAN bertuliskan; “Maaf perjalanan Anda terganggu. Ada perbaikan jalan” bukan sesuatu yang baru di kota-kota besar. Pernyataan meminta maaf secara “sopan” itu baru muncul menjadi kebiasaan setelah belasan tahun yang lalu banyak orang mengeluhkan terjadinya kemacetan lalu lintas akibat galian-galian dan perbaikan jalan yang seakan-akan berlangsung sepanjang tahun. Membosankan memang melihat pembangunan dan perbaikan yang tidak ada hentinya itu, sebab selain menyebarkan debu tanah dan pasir pada musim kemarau, atau becek lumpur di musim hujan, rehabilitasi dan pembangunan fisik itu juga mengganggu lalu lintas di samping tidak jarang menimbulkan kecelakaan bagi pemakai jalan.
Pekerjaan menggali parit, perbaikan kampung, jalan dan sebagainya yang selalu bergantian itu kini dikerjakan secara terpadu dalam program P3KT, artinya pekerjaan-pekerjaan tadi berada dalam satu koordinasi. Namun pengaturan satu tangan itu tidak mudah, karena harus menyatukan jadwal kerja berbagai departemen dan lembaga-lembaga yang ikut ambil bagian dalam pembangunan fisik itu. Jadwal kerja tiap departemen yang selama ini berbeda-beda kini harus disesuaikan dengan departemen lain, padahal dana yang dibutuhkan untuk itu pun tidak turun dalam waktu yang bersamaan.
Kesulitan ternyata bukan hanya pengaturan jadwal dan dana, tetapi juga menyangkut tenaga-tenaga pelaksana yang profesional. Di Daerah Tingkat II yang menjadi sasaran P3KT itu ternyata sangat miskin tenaga profesional. Selama ini mereka sudah terbiasa menunggu tenaga profesional dari Daerah Tingkat I atau bahkan dari Pusat.
Kesiapan-kesiapan untuk melaksanakan P3KT belum merata di semua Daerah Tingkat II. Untuk melihat sampai seberapa jauh sebenarnya kesiapan mereka Prisma mengamatinya di beberapa kota, yaitu Rustam Ibrahim (Pekanbaru), Achmad Soemawisastra (Balikpapan), Paulus Widiyanto (Malang), Mursidi Musa (Yogyakarta dan Semarang), serta Edward S. Simandjuntak (Bandung), dan menurunkannya sebagai Laporan Khusus. Redaksi

