Pengantar
BEBERAPA waktu belakangan ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Fuad Hassan, banyak disibukkan oleh acara peresmian berbagai pameran kesenian. Kegiatan itu melelahkan. “Tapi tak apalah,” katanya, karena apa yang menyibukkan dia itu memang menjadi bagian dari “strategi” yang kini dia jalankan. Kesenian, menurut Prof. Fuad, diperlukan untuk mengisi sisi lain dalam rohani kita, yang terasa kosong akibat banyaknya perhatian yang diberikan pada masalah dan perkembangan ekonomi pada masa sekarang. Dengan pameran-pameran itu, dia ingin mengingatkan kepada semua orang bahwa masih ada sesuatu yang lain yang bisa kita nikmati.
“Dialog” dengan Menteri P dan K ini, dirancang untuk mengungkapkan lebih jelas, strategi apa yang kita jalankan di bidang kebudayaan. Diskusi tentang ini sudah berlangsung lama, dan tidak kunjung selesai. Dan menurut Prof. Fuad, kalau hanya bicara saja, kita tak akan pernah selesai, membuang waktu terlalu banyak dan mengawang-awang terus. Karena itulah, dia mengajukan dua tawaran yang lebih kongkrit: pengembangan bahasa Indonesia; dan menggairahkan kesenian. “Saya pilih dua bidang ini, karena kedua-duanya dapat dikhalayakkan,” katanya.
Bagi pemerintah, apakah pentingnya kebudayaan itu selain sebagai legitimasi politik, misalnya? “Penting untuk identitas kita sebagai bangsa,” kata Menteri Fuad Hassan. Dunia yang akan datang, katanya, adalah dunia yang batas-batas masyarakatnya makin kabur. Di situ, katanya, kebudayaan yang kita miliki sebagai bangsa, diperlukan sebagai basis untuk kembali. Redaksi
