Prisma

Laporan Khusus: Menelusuri Jejak Para Pengemis

Pengantar

JIKA di suatu pagi Anda melihat serombongan penumpang colt yang turun di perbatasan Yogyakarta segera mengganti pakaiannya dengan baju compang-camping, serta menyiapkan “make up” yang menampilkan kesengsaraan, Anda telah menyaksikan bagaimana kawula desa memulai harinya di kota sebagai peminta-minta. Boleh jadi mereka datang dari Karang Rejek, sebuah pedukuhan di Kabupaten Bantul, yang dikenal sebagai kampung para pengemis. Mereka sepanjang siang akan menelusuri setiap lorong dalam kota, meminta belas kasihan orang, mengharapkan sedekah. Apakah yang ada di belakang regu para peminta-minta itu?

Di belakangnya, ada kemiskinan. Dan di dalam diri mereka ada pula mentalitas. “Laporan Khusus” kali ini bercerita tentang itu. M. Nasruddin Anshoriy Ch., seorang anak muda dari Yogyakarta, yang gandrung mempelajari masalah-masalah sosial, mencoba melihat potret kepengemisan di kalangan warga Karang Rejek itu, dengan melakukan penelitian beberapa waktu yang lalu. Dia — antara lain — menemui dan berwawancara dengan 106 kepala keluarga di pedukuhan tandus tersebut. Sebagian bahan yang dia peroleh dari situ, dia tulis menjadi laporan ini. Redaksi

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan