Dengan adanya perubahan kebudayaan konsumen yang terjadi belakangan ini di Jepang, dapat dilihat bahwa stagnasi pertumbuhan tingkat pendapatan dalam perekonomian yang stabil mempengaruhi perkembangan industri perdagangan eceran. Namun, yang lebih mendasar ialah sifat konsumsi menjadi kian matang karena pengaruh tingkat pendidikan, partisipasi wanita dalam masyarakat, harapan hidup, tingkat pendapatan, penggunaan kartu kredit dan juga peningkatan waktu luang.
MENURUT Sensus Perdagangan Jepang tahun 1982 seluruh toko yang dewasa ini melakukan perdagangan eceran di Jepang berjumlah 1,72 juta buah dengan 6,37 juta orang pekerja, dan peredaran per tahun 94 trilyun yen. Jumlah toko tersebut berarti 3 sampai 5 kali lipat lebih banyak daripada yang ada di Eropa dan 20% lebih banyak dari Amerika Serikat (1,45 juta) dengan jumlah penduduk 2 kali lipat dari penduduk Jepang. Perbandingan jumlah penjualan per tahun terhadap GNP 36% lebih tinggi dibandingkan dengan di negara-negara lain, ini memperlihatkan pentingnya peranan industri perdagangan eceran di Jepang dalam kegiatan ekonomi. (Tabel 1).