Prisma

PENGANTAR REDAKSI

“KAMI merasa sangat bersyukur kepada Allah Swt. dan berterimakasih kepada Bapak, karena kami yang berada jauh di pelosok Irian Jaya ini masih sempat Bapak perhatikan,” tulis dokter Musalkazim Ali, Kepala Puskesmas Wilayah Kecamatan Wasior, Irian Jaya, dalam suratnya. Surat itu ditujukan kepada Dr. H. Haryono Suyono, Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, sebagai balasan untuk surat Kepala BKKBN yang diterima dr. Musalkazim sebelumnya. Haryono Suyono, seperti diakuinya, sering melayangkan surat bagi aparat program KB di berbagai pelosok. Dan surat untuk Musalkazim, menurut dokter kepala Puskesmas itu, “membuat semangat kami tambah menyala.” Dia tambahkan, dalam tugasnya di Irian Jaya dia banyak menghadapi kendala yang di luar dugaan.

Banyak kendala yang dihadapi oleh mereka yang bekerja jauh di pelosok, bukanlah masalah baru. Untuk Irian Jaya, wilayah di ujung Timur masalah seperti itu tentunya amat terasa.

Walau begitu di provinsi ini pada triwulan I 1987/1988 tercatat 273 peserta KB baru. Untuk tingkat nasional, dalam periode itu jumlah peserta KB baru mencapai 70.800 akseptor. Di balik angka ini ada beberapa data.

Lebih sepertiga (34,1%) dari peserta KB baru ini adalah mereka yang berasal dari pasangan muda – berusia antara 20-24 tahun. Yang berumur antara 25 dan 29 tahun mencapai 29,6%. Dan dari segi pendidikan, persentase terbesar (58,1%) adalah tamatan SD. Kebanyakan dari mereka (57,4%) bekerja sebagai petani dan nelayan. Lebih dari 31%, ikut program KB atas kemauan sendiri tanpa diajak petugas lapangan. Hampir separuh dari mereka (47,7%) tidak menginginkan anak lagi.

Program KB adalah bagian dari kebijakan kependudukan Indonesia dewasa ini. Dalam hal jumlah saja, untuk masa mendatang, seperti yang diproyeksikan Biro Pusat Statistik, Indonesia dalam soal kependudukan ini masih akan menghadapi masalah: pertambahan yang terus berlangsung. Seterusnya, berbagai masalah baru yang diakibatkannya ketenagakerjaan, produksi bahan makanan, pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, serta berbagai masalah sosial lainnya perlu pula diselesaikan.

Walau tidak menerangkan semua soal, Prisma edisi “Kependudukan dan Keluarga Berencana” ini – yang diterbitkan atas kerjasama dengan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) mencoba melihat masalah tersebut. Bagi PKBI sendiri, lembaga swadaya masyarakat di bidang KB, yang berdiri pada 23 Desember 1957, penerbitan ini untuk menandai tiga dasawarsa kegiatannya.

____________________________________________________________________________________________________________

Pemimpin Umum: Arselan Harahap, Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad, Wakil Pemimpin Redaksi: Masmimar Mangiang, Pemimpin Perusahaan: Maruto MD, Sidang Redaksi: Aswab Mahasin, Edward S. Simandjuntak, Ismid Hadad, Masmimar Mangiang, M. Dawam Rahardjo, Sekretaris Redaksi: Poppy Soeyono, Tata Usaha/Sirkulasi: Sudartoto, M. Sholeh, Jinan Mohammad, Iklan/Promosi: Anda Z. Noorzy, Produksi: Awan Dewangga, Idjas Shaham, Suradi Suprapto.

Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia: SIUPP. No. 072/SK/MENPEN/SIUPP/D.I/1986, 4 Maret 1986. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420. Telepon, 597211. Tromolpos 493, Jakarta 10002 Indonesia. Bank: BUKOPIN, Cabang S. Parman, Jakarta Nomor Rekening 004.0010.5 Pencetak: PT Temprint, IBM Setting: Bagian Penerbitan LP3ES Jakarta; Anggota SPS. ISSN 0301 – 6269.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan