Prisma

Resink dan Penulisan Sejarahnya yang Usang

G.J. Resink, Raja dan Kerajaan Yang Merdeka, 1850-1910, Jakarta: PT Penerbit Djambatan, 1987, 254 halaman.

SETELAH depresi ekonomi 1930-an, boleh dikatakan bahwa gerak organisasi politik di Hindia Belanda mengalami kemandekan. Hal ini merupakan dampak dari makin represifnya negara kolonial terhadap aktivitas organisasi politik pada waktu itu. Represi negara kolonial dimaksudkan untuk menstabilkan kembali keadaan ekonomi pemerintah Hindia Belanda.

Dalam perkembangan berikutnya, pemerintah kolonial hanya mengizinkan aktivitas keorganisasian yang dapat membantu kepentingan ekonomi pemerintah. Ketika itulah muncul Stuwgroup, sebuah kelompok yang anggotanya terdiri dari orang-orang Belanda seperti, Profesor Logeman, van Asbeck, dan van Mook. Berdirinya Stuwgroup adalah reaksi terhadap Vanderlandsche Club (VC), sebuah kelompok yang anggotanya terdiri dari para pengusaha besar Belanda. VC menginginkan Belanda tetap berkuasa di Hindia Belanda selama 100 tahun lagi, setelah berkuasa selama 350 tahun. Irama politik VC ditolak oleh Stuwgroup dengan alasan bahwa Belanda tidak pernah menjajah Hindia Belanda hingga ratusan tahun, tetapi orang-orang Belanda tinggal di Indonesia selama ratusan tahun memang benar. Lebih lanjut Stuwgroup berpendapat bahwa sebaiknya Negeri Belanda memberikan kemerdekaan kepada Hindia secara bertahap dan agar masalah sumber daya ekonomi dikelola secara bersama, sebagaimana layaknya negara-negara persemakmuran. Jadi, perselisihan pendapat antara Stuwgroup dan VC terjadi di sekitar masalah memberikan kemerdekaan secara bertahap, atau tetap mempertahankan Hindia Belanda di pangkuan Belanda.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan