PADA paruhan pertama 1960-an, dunia kesusasteraan Indonesia diguncang oleh pertarungan antara kelompok sasterawan pendukung Manifes Kebudayaan (sebuah pernyataan seniman Indonesia yang menegaskan hak seniman untuk terbebas dari tekanan politik), di satu pihak, dan kelompok sasterawan pendukung Lembaga Kebudayaan Rakyat (yang menekankan komitmen sosial dalam kesenian Indonesia), di pihak lain. Tetapi, dengan perkembangan politik setelah 1965, dan afiliasi politiknya, pengaruh kecenderungan Lekra dalam kesusasteraan Indonesia secara otomatis terhapuskan, dan pertarungan ini pun selesai.
Tetapi bagaimana perkembangan kesusasteraan Indonesia sejak itu? Untuk beberapa waktu, kebebasan dari “komitmen sosial” yang tegas dimanfaatkan oleh sasterawan Indonesia untuk menghasilkan karya-karya sastera yang imajinatif, kaya dengan eksperimen, untuk menjelajahi bagian-bagian terdalam dari kehidupan sebagai manusia. Sementara hal ini sempat memperkaya kesusasteraan Indonesia moderen, tidak jarang pula karya-karya yang ditampilkan terjerumus untuk lebih mementingkan style dari pada substance. Sehingga, di akhir 1970-an, banyak orang melihat bahwa sastera dan sasterawan Indonesia telah begitu terisolasikan dari masyarakatnya, dalam keasyikan melakukan eksperimentasi.
Kerinduan akan karya sastera Indonesia yang kembali mengangkat persoalan-persoalan dalam masyarakat, dan yang dapat menjangkau audience yang tidak sekadar eksklusif, menjadi pendorong perdebatan tentang sastera Indonesia pada 1980-an. Sampai sekarang, perdebatan ini sekadar terputus, namun tak sampai (atau tak mungkin?) terselesaikan. Sebab, perdebatan ini menyangkut hal-hal yang sangat esensial tentang makna kehadiran karya sastera dan sasterawan dalam masyarakat: Adakah sasterawan memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat? Kalau tanggung jawab ini ada, bagaimanakah ia mempengaruhi kebebasan seorang sasterawan dalam berekspresi? Apakah sastera Indonesia moderen memang harus terisolasi dari masyarakat luas? Dengan isolasi ini, sampai titik manakah kecenderungan pada eksperimentasi subyektif dalam kesusasteraan Indonesia masih bisa berkembang? Apakah “sastera kontekstual” merupakan sebuah tantangan yang sungguh-sungguh, atau sekadar “mode” yang akan menghilangkan dampak berarti? Agar tidak kehilangan perspektif mengenai perkembangan kesusasteraan Indonesia selama lebih dari dua dasawarsa terakhir ini, maka kali ini Prisma menampilkan perkembangan kesusasteraan Indonesia selama Orde Baru sebagai tema edisi.
Dalam edisi ini kami tampilkan artikel-artikel oleh Ariel Haryanto, pengajar pada Universitas Satyawacana, Salatiga, Jawa Tengah, yang menulis tentang perkembangan politik kesusasteraan Indonesia selama Orde Baru; Sapardi Djoko Damono, penyair terkemuka, yang menulis tentang perkembangan puisi di Indonesia selama dua dasawarsa ini; Keith Foulcher, seorang peneliti Australia yang berperhatian terhadap kesusasteraan Indonesia, yang menulis tentang pasang surut berbagai kecenderungan dalam kesusasteraan Indonesia selama Orde Baru; dan Frans Meak Parera, Wakil Pemimpin Redaksi Penerbit PT Gramedia, Jakarta, yang menulis tentang kesusasteraan kontemporer dari sisi lain – perkembangan jenis novel pop dan fungsinya dalam masyarakat Indonesia kini. Redaksi
Pemimpin Umum: Arselan Harahap ● Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad ● Wakil Pemimpin Redaksi: Masmimar Mangiang ● Pemimpin Perusahaan: Maruto MD ● Sidang Redaksi: Aswab Mahasin, Ismid Hadad, Masmimar Mangiang, M. Dawam Rahardjo, Vedi Renandi Hadiz ● Sekretaris Redaksi: Poppy Soeyono ● Tata Usaha/Sirkulasi: Sudartoto, M. Sholeh, Jinan Mohammad ● Iklan/Promosi: Anda Z. Noerzy ● Produksi: Awan Dewangga, Idjas Shaham, Suradi Suprapto.
Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia. SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/SIUPP/D.I/1986, 4 Maret 1986. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420, Telepon, 597211. Tromol pos 493, Jakarta 10002 Indonesia. Bank: BUKOPIN, Cabang S. Parman, Jakarta, Nomor Rekening 004.0010.5 Pencetak: PT Temprint. Pengaturan IBM: Bagian Penerbitan LP3ES Jakarta; Anggota SPS. ISSN 0301 – 6269.