BAGI Indonesia, tahun-tahun terakhir ini adalah tahun-tahun penyesuaian ekonomi. Jatuhnya harga minyak, komoditi yang menjadi andalan selama ini, di pasar internasional, telah memaksakan pelaksanaan sejumlah langkah penyesuaian oleh pemerintah, guna menjamin keberlanjutan proses pembangunan ekonomi di masa mendatang. Mungkin tidak terlalu berlebihan kalau dikatakan bahwa sekarang adalah masa tersulit yang dihadapi Indonesia dalam usaha pembangunannya, setidak-tidaknya sejak restrukturisasi akhir 1960-an, pada masa awal Orde Baru ini. Dan, keputusan-keputusan yang dibuat sebagai tanggapan terhadap keadaan ini, sangat mungkin, akan berpengaruh besar terhadap wujud pembangunan kita pada masa-masa jauh ke depan.
Secara sedikit paradoksal, beberapa pihak mengatakan bahwa jatuhnya harga minyak itu, meskipun membawa dampak yang begitu dahsyat terhadap upaya pembangunan kita, sebenarnya merupakan suatu blessing in disguise. Artinya, sekarang mau tidak mau, tindakan-tindakan yang tegas harus diambil untuk mengoreksi ekses-ekses, atau penyimpangan yang telah dilakukan di masa lalu – hal-hal yang hanya dapat ditoleransi ketika rezeki dari minyak masih melimpah-limpah. Oleh karena itu, mereka mengatakan bahwa sekarang sudah waktunya untuk menghapuskan praktek-praktek, misalnya proteksionisme berlebihan yang hanya menguntungkan segelintir orang, yang menyebabkan perekonomian Indonesia selama ini digerogoti oleh inefisiensi.
Pada masa awal Orde Baru, pembangunan ekonomi Indonesia cenderung lebih mengandalkan dana bantuan asing. Kemudian, datang boom minyak yang memperkuat kemampuan negara untuk melakukan campur tangan dalam setiap aspek kegiatan ekonomi. Dengan uang minyak itu, pertumbuhan ekonomi yang dipacu dengan begitu pesat, hampir membuat semua orang yakin bahwa saat ‘tinggal landas’ bagi Indonesia hanya persoalan waktu. Tetapi, mungkin justeru pada periode kejayaan minyak ini, kita telah menjadi agak terlena. Dan, kemerosotan harga minyak itu melanjangi superficiality dari kemajuan yang telah dicapai. Setidak-tidaknya, mungkin selama ini kita merasa sudah menggenggam sesuatu yang sebetulnya belum di tangan.
Sekarang sudah jelas bahwa minyak tidak lagi bisa menjadi andalan, dan kita harus beralih kepada ekspor komoditi nonmigas. Artinya, perekonomian Indonesia sedang dipaksa, oleh tekanan-tekanan eksternal, untuk menjadi lebih kompetitif. Dalam konteks inilah lahir sejumlah kebijaksanaan deregulasi, sejak 1983, yang dimaksudkan untuk mengurangi ekses dari praktek-praktek masa lalu, yang kalau dibiarkan bertahan dalam masa pasca-minyak ini, akan menjadi beban yang semakin sulit untuk dipikul.
Edisi Prisma kali ini menampilkan 6 artikel yang dirancang untuk menangani berbagai aspek dari upaya penyesuaian ekonomi pada masa pasca-minyak ini, sehingga, tidak hadirnya rubrik “Dialog” tidak akan membuat pembaca merasa adanya kekurangan dalam edisi ini. Anwar Nasution memberikan overview yang komprehensif tentang keadaan ekonomi Indonesia dewasa ini – keadaan yang menurut dia, menyebabkan keperluan untuk melakukan “penyesuaian internal untuk menghadapi kesulitan eksternal;” Sjahrir, dengan perspektif yang mengaitkan fenomena ekonomi dan politik, mengaji apa yang ia lihat sebagai pertarungan antara kekuatan pro dan anti deregulasi sekarang ini; Mari Pangestu, menulis tentang feasibility gagasan “Indonesia Inc.”, suatu gagasan yang sudah lama dilontarkan untuk mengoptimalkan kerjasama pemerintah dan swasta dalam menggalakkan ekspor; Hero U. Kuntjoro-Jakti, meninjau strategi industrialisasi Orde Baru, dengan menyoroti peranan Jepang di dalamnya; sedangkan Widjajono Partowidadgo dan Sahala Hutagalung, masing-masing menyumbangkan artikel yang menelaah keadaan dan prospek sektor perminyakan di Indonesia dewasa ini.
_________________________________________________________________________
Pemimpin Umum: Arselan Harahap • Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad • Wakil Pemimpin Redaksi: Masmimar Mangiang • Pemimpin Perusahaan: Maruto MD • Sidang Redaksi: Aswab Mahasin, Ismid Hadad, Masmimar Mangiang, M. Dawam Rahardjo, Vedi Renandi Hadiz • Sekretaris Redaksi: Poppy Soeyono • Tata Usaha/Sirkulasi: Sudartoto, M. Sholeh, Jinan Mohammad • Iklan/Promosi: Anda Z. Noerzy • Produksi: Awan Dewangga, Idjas Shaham, Suradi Suprapto.
Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia. SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/SIUPP/D.I/1986, 4 Maret 1986. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420, Telepon, 597211. Tromol pos 493, Jakarta 10002 Indonesia. Bank: BUKOPIN, Cabang S. Parman, Jakarta, Nomor Rekening 004.0010.5 Pencetak: PT Temprint; Pengaturan IBM: Bagian Penerbitan LP3ES Jakarta; Anggota SPS. ISSN 0301 – 6269.