HUBUNGAN antara politik dan kebudayaan dapat dirumuskan pada beberapa tingkat. Pertama, kebudayaan dapat dilihat sebagai sasaran kebijaksanaan politik dan sejalan dengan itu juga sebagai obyek pengamatan studi politik. Kedua, politik dapat dipandang sebagai gejala suatu kebudayaan, dan proses serta tingkahlaku politik dapat diperlakukan juga sebagai obyek pengamatan studi kebudayaan. Masalah pertama lebih sering dikenal dengan nama politik kebudayaan, sedangkan istilah budaya politik biasanya merujuk kepada masalah yang kedua.
Prisma nomor ini dimaksudkan sebagai upaya untuk melihat persoalan politik kebudayaan secara khusus, walaupun dalam praktek kedua masalah itu tidak selalu dapat dibedakan dengan jelas, apalagi dipisahkan. Pertanyaan pertama yang segera muncul adalah apakah kebudayaan dapat memberikan penjelasan yang memadai tentang suatu gejala politik – misalnya masalah kesukuan? Argumen lain membuktikan bahwa ada berbagai sebab-musabab sosial-ekonomi yang sama menentukan, sehingga apa yang dari segi kebudayaan tampak seolah-olah tak terjelaskan, pada dasarnya sangat masuk akal kalau dilihat dari sudut-tinjauan lain.
Sudah disebut bahwa kebudayaan sering diperlakukan sebagai obyek studi politik. Namun demikian, sama benarnya bahwa kebudayaan pun diperlakukan sebagai pendekatan, perspektif dan bahkan metode dalam studi-studi politik. Pertanyaan yang sangat menarik adalah apakah metode kebudayaan ini menunjukkan beberapa sifat khas yang diidentifikasikan?
Dilihat dari latarbelakang sejarah perkembangan ilmu-ilmu sosial di Indonesia cukup jelas bahwa metode kebudayaan sering digunakan, dan banyak kasus memperlihatkan kecenderungan kepada watak yang disebut konservatif, karena membela, membenarkan dan malah mengukuhkan suatu statusquo.
Namun demikian, menarik untuk dicatat bahwa penelitian beberapa sarjana menunjukkan hal yang sebaliknya: kebudayaan dapat menjadi metode yang digunakan untuk mempertanyakan suatu establishment, dan dari situ mendapat wataknya yang kritis, sekaligus dapat menjadi cara untuk membela kaum yang terlupakan dan menjadi pendorong ke arah perubahan – dan dari situ mendapat wataknya yang progresif.
Dirumuskan lebih persis: apakah kebudayaan hanya dapat berfungsi sebagai sarana legitimasi politik atau juga instrumen untuk kritik politik? Sudah jelas bahwa wujud akhir kebudayaan dipersepsikan oleh setiap peneliti, akan sangat tergantung dari cara interpretasi mereka, yaitu dari caranya memandang kebudayaan sebagai sistem tanda dan sistem lambang atau struktur makna.
Berdasarkan penggalian yang bersifat “archeology of knowledge” semakin nyata bahwa tanda dan lambang tidak bersifat arbiter tetapi sangat tergantung kepada sistem yang menjadi referensinya. Dalam eksplorasi para penganut paham post-strukturalis ditemukan bahwa orang seyogyanya tidak cukup meninjau kebudayaan hanya dari segi struktur makna dan sistem lambang, yang ternyata bukanlah sesuatu yang ada dengan sendirinya, melainkan hasil suatu konstruksi yang berkembang dalam sejarah.
Pemahaman tentang suatu konstruksi dalam kebudayaan mengandaikan pemahaman tentang bagaimana dan untuk tujuan apa suatu konstruksi dibangun. Untuk keperluan itu dibutuhkan upaya dekonstruksi yang diuraikan secara rinci di sini dalam hubungan dengan penelitian kebudayaan sebelumnya. Alhasil, tinjauan mengenai hubungan politik dan kebudayaan akan meliputi juga eksplorasi mengenai bagaimana sistem lambang menjadi produk dari suatu konstruksi politik. Redaksi
____________________________________________________________________
Pemimpin Umum: Arselan Harahap ● Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad ● Wakil Pemimpin Redaksi: Masmimar Mangiang ● Pemimpin Perusahaan: Maruto MD ● Sidang Redaksi: Aswab Mahasin, Ismid Hadad, Masmimar Mangiang, M. Dawam Rahardjo, Vedi Renandi Hadiz ● Sekretaris Redaksi: Poppy Soeyono ● Tata Usaha/Sirkulasi: Sudartoto, M. Sholeh, Jinan Mohammad ● Iklan/Promosi: Anda Z. Noerzy ● Produksi: Awan Dewangga, Icjas Shaham, Suradi Suprapto.
Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia. SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/SIUPP/D.I/1986, 4 Maret 1986. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420, Telepon. 597211. Tromol pos 493, Jakarta 10002 Indonesia. Bank: BUKOPIN. Cabang S. Parman, Jakarta, Nomor Rekening 004.0010.5 Pencetak: PT Temprint; IBM Setting: Bagian Penerbitan LP3ES Jakarta; Anggota SPS. ISSN 0301 – 6269.