Prisma

PENGANTAR REDAKSI

Sedjak tahun 1966, bahkan djuga tahun2 sebelum itu, kita selalu dihadapkan pada problema2 pelik jang memerlukan aksi dan pemetjahan seketika, pemikiran2 djangka pendek. Kita senantiasa tenggelam dalam manuver2 politik praktis dan masalah2 rutin, hingga tak pernah sempat memikirkan rentjana masa depan Indonesia dari pandangan jang mendalam. Oleh karena itulah dizaman modern dimana tantangan2 pembangunan republik ini lebih menuntut digunakannja fikiran2 jang matang, makin terasa bahwa kita sekarang perlu kontemplasi, sambil madju terus mengedjar keterbelakangan. Apalagi bila kita tidak mau menemui bentjana2 dalam menjongsong Repelita Ke-II.

Tapi djustru disinilah keterbatasan kita, jaitu tidak tjukup mempunjai media jang merangsang dan menjalurkan hasrat2 kontemplatif tersebut, serta tjermin pantjarannja diantara masjarakat. Kalaupun ada, djumlah dan sifatnja masih terbatas,dan media penerbitan2 serupa itu umumnja kurang kontinu. kalau tidak pandjang umurnja.

Dalam kerangka itulah, kami memberanikan diri menerbitkan madjalah PRISMA ini, jang mudah2an akan teratur mengundjungi pembatja dan bisa dimanfaatkan untuk forum diskusi setjara bebas dan kreatif. Seperti ditundjukkan oleh namanja, PRISMA bermaksud menangkap dan men-seleksi fikiran2 konstruktif ataupun kontroversial dalam masjarakat serta membiaskannja kembali sebagai pantjaran pandangan2 jang perlu ditimbang dalam derap pembangunan ekonomi, perkembangan sosial dan perubahan2 kulturil jang dialami Indonesia dewasa ini. Sudah tentu, ini hanja suatu upaja. Adakah kami berhasil, dan apakah upaja ini ada manfaatnja bagi masjarakat kita kelak, tentu tergantung dari sambutan2 masjarakat dimasa mendatang.

Pada penerbitan pertama, nomor perkenalan ini, Prisma mulai dengan pembahasan masalah2 jang achir2 ini mendjadi aktuil, jaitu soal faktor2 non-ekonomi dalam pembangunan Indonesia. Sebenarnja istilah itu sendiri dirasakan kurang tepat, terutama bila pembangunan kita itu dilakukan dengan tjara pendekatan jang integral (integrated-approach). Sebab, seperti dikatakan Prof. Dr. Mukti Ali, faktor2 pembangunan tak bisa di-pisah2kan atau dilakukan diskriminasi seperti adanja faktor2 ekonomi, non-ekonomi (sosial-budaja), pertahanan-keamanan, dan sebagainja, jang berdiri sendiri-sendiri. Itulah sebabnja kami sadjikan pandangan2 bekas Duta Besar RI di Washington, Soedjatmoko, meskipun diungkapkan setahun jang lampau tapi mendjadi sangat relevan dalam pembahasan masalah tersebut dewasa ini. Kemudian bisa diikuti analisa Dr. Suhadi Mangkusuwondo serta hipotesa Dorodjatun K. Jakti, jang keduanja selalu chusus mengamati masalah2 tersebut dari sudut makro-ekonomi, dan mendjadi pemrasaran utama soal tersebut ketika ISEI menjelenggarakan Kongres Ke-VI di Tretes baru2 ini. Dan terachir “faktor2 non-ekonomi” agaknja tak bisa dipisahkan dari problim lingkungan (environment) berhubung dengan digunakannja teknologi modern, jang setjara ringkas dibahas oleh Rio Rachwartono.

Pada bagian lain, bisa diikuti laporan pendahuluan hasil survey keradjinan rakjat – suatu sektor jang menampung hampir 30 pCt tenaga Indonesia – didaerah Djawa Barat dan kemungkinan2nja untuk ekspor. Bagi mereka jang berminat untuk mengetahui bagaimana suatu projek itu dinilai atau disiapkan se-baik2nja, Drs. Saad A. Basjaib menguraikan tehnik2 “project appraisal” tersebut. Achirnja artikel mengenai kegiatan konsultan di-negara2 sedang berkembang jang disadjikan nomor ini, mudah2an akan memantjing suatu pembahasan lebih landjut oleh praktisi2 dan penulis2 Indonesia.

Dalam nomor berikut nanti, Prisma ingin menjadjikan masalah2 regional jaitu pembangunan tidak hanja dilihat dari masing2 sektor kegiatan atau produksi, tapi bagaimana interaksinja disuatu daerah. Selain itu djuga problim2 sosial jang menarik dewasa ini.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan