Prisma

Pengantar Redaksi

Pada setiap mobil, traktor, kapal laut, pesawat terbang, atau roket yang ke bulan – minyak. Di balik kemegahan setiap pabrik, pencakar langit, kawasan industri, mesin komputer atau pancaran televisi – minyak. Di dalam pupuk, obat-obatan, peluru kendali, plastik, tekstil sintetis, serta puluhan ribu barang hasil produksi lainnya – terdapat zat cairan yang sama, yang kecuali tiga tahun terakhir ini, selalu dianggap sebagai harta terpendam yang tak akan kunjung habis, seolah-olah bebas digunakan untuk apa saja sampai kapan saja. Sedikit sekali yang menyadari, bahwa peradaban dunia modern dan kejayaan negara-negara industri yang kaya-raya itu, sebenarnya dibangun di atas dan begitu tergantung pada satu jenis harta saja yang luar-biasa uniknya: emas hitam. Apalagi kemudian ternyata, bahwa dari Timur-lah mengalirnya minyak itu untuk menghidupi negara-negara industri di Barat. Hingga ketika negara-negara Arab sedikit menutup kran-kran sumber minyak mereka pada tahun 1973-1974, Dunia Barat goncang dilanda krisis. Dan mereka tak bisa lagi melihat negara-negara sedang berkembang penghasil minyak itu sebagai negeri lemah, yang bisa diperintah seenak si Kaya. Perang Arab-Israel di Timur Tengah ternyata bisa dihentikan hanya oleh kekuatan minyak.

Presiden Aljazair Boumedienne mengatakan bahwa minyak bukan hanya sekedar sumber energi atau bahan bakar, tapi sumber kehidupan itu sendiri. [eos]Itulah sebabnya, raja-raja konservatif, tokoh-tokoh revolusioner dan pemimpin-pemimpin moderat negara-negara sedang berkembang di Asia, Afrika dan Amerika Latin bisa kompak bersatu dalam wadah OPEC, bukan karena ikatan agama, ideologi atau politik yang sama, tapi hanya karena persamaan kepentingan terhadap satu benda cair yang hitam dan licin. [eos]Dari hasil bumi itu pula mulai munculnya “nasionalisme ekonomi” negara-negara sedang berkembang dalam dasawarsa 1970-an ini. [eos]Suatu kesadaran baru yang segera mendorong gagasan dan perjuangan untuk menegakkan “tata baru ekonomi internasional” guna membebaskan dunia dari dominasi negara-negara industri di Barat.

Apa keunikan minyak hingga membuatnya demikian berpengaruh terhadap kehidupan umat manusia? Berbeda dengan jenis komoditi yang lain, minyak bukanlah bahan yang lestari. Sekali habis, sumber bahan itu tak bisa diperbaharui lagi. Minyak juga tidak bisa disimpan, ditabung dalam suatu cadangan guna melindungi pemiliknya dalam menghadapi keadaan darurat. Satu-satunya cadangan yang ekonomis adalah di dalam ladang-ladang minyaknya yang asli, di bawah-tanah, di mana ia hanya bisa dikuasai oleh mereka yang tinggal di atas tanah tersebut. Sejarah minyak selalu ditandai oleh bangkit dan jatuhnya mereka yang maha berkuasa atas cairan hitam, licin dan mudah terbakar itu. “Raja minyak Indonesia, Ibnu Sutowo, tergelincir oleh minyaknya sendiri. Raksasa Pertamina hampir terbakar oleh hutang-hutang yang dibuat di atas kekayaan minyak kita yang terbatas. Apakah sejarah minyak Indonesia kemudian akan diikuti oleh lembaran hitam? Tentu tidak. Dan mustahil itu akan terjadi, karena selain kita telah banyak belajar dari pengalaman pahit, juga potensi dan kearifan kita dalam membangun negeri ini cukup menjamin untuk bisa menyongsong hari depan yang cerah.

Penerbitan Prisma nomor minyak ini kami sajikan sekarang, bukan hanya untuk menyongsong Konferensi OPEC yang diselenggarakan di Bali, Indonesia, akhir bulan ini, tetapi juga untuk menggugah kita semua akan besarnya arti harta kita yang satu itu, agar bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya, supaya kita tidak jatuh tergelincir kedua kalinya.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan