Prisma

Minyak dan Kekuasaan: Multinasional, OPEC dan Nasionalisme Ekonomi*

Kamis, 18 Oktober 1973. Frank Jungers, Presiden dari Aramco menerima laporan bahwa Radio Riyadh telah mengumumkan keputusan Raja Faisal untuk mengurangi produksi minyak dengan sepuluh persen. Tanpa bertanya lagi, Jungers memerintahkan pengurangan produksi sedikit lebih dari angka yang diminta, demi menjaga kecermatan. Tetapi tiga hari kemudian ia dipanggil oleh Seikh Zaki Yamani, Menteri Perminyakan Saudi, untuk menerima pemberitahuan bahwa pengurangan sebesar 10% itupun baru merupakan tahap permulaan, sebab rencana pengurangan untuk bulan Oktober itu akan mencapai sekitar 25%. Dan seperti dicatat oleh sejarah, kejadian itu merupakan permulaan dari embargo minyak dan krisis yang menggemparkan dunia.

Seminggu sebelumnya, George Percy dari Exxon dan André Bénard dari Shell yang mewakili perusahaan-perusahaan minyak multinasional dalam perundingan dengan Zaki Yamani di Wina telah bersikeras untuk menolak usul kenaikan harga yang diajukan oleh enam negara Teluk Persia. Mereka datang kepada Yamani di tengah malam, setelah perundingan resmi menemui jalan buntu. Dan Yamani, mendengar keputusan mereka itu konon terdiam barang 10 menit. Ia memesan coca-cola untuk para tamunya, minum barang seteguk dan iseng sendiri selama beberapa saat untuk menunggu mereka memperlunak pendirian. Setelah ternyata tidak ada perubahan, ia menilpun Bagdad dan berbicara dalam bahasa Arab yang agitatif. Ia menilpun utusan Kuwait, yang datang dengan pakaian tidur, untuk berdiskusi lagi sampai akhirnya mereka tiba juga pada jalan buntu. Yamani mulai menengok jadwal penerbangan ketika utusan perusahaan-perusahaan minyak multinasional itu menanyakan apa yang akan terjadi selanjutnya. Dengan tenang konon Yamani menjawab: “Dengarkan radio.” Dan itu berarti pernyataan sepihak negara-negara penghasil minyak Timur Tengah tentang kenaikan harga dari $3,011 per barel menjadi$ 5,119 per barel, yang diumumkan enam hari berikutnya dari Kuwait. Esok harinya ke luar pengumuman dari negara-negara Arab tentang embargo dan pengurangan produksi minyak. Dan perebutan kekuasaan atas “emas hitam” itupun sampai pada titik kulminasinya, kali ini untuk keuntungan negara-negara penghasil minyak.


* Tulisan ini diolah dari “The Oil Crisis in Perspective”, Daedalus, Fall 1975, khususnya dari tulisan Mira Wilkin, “The Oil Companies in Perspective”, Robert B. Stobaugh, “The Oil Companies in the Crisis”, Zuhair Mikdashi, “The OPEC Process”, Norman Girvan, “Economic Nationalism” dan Ian Smart, “Uniqueness and Generality”, serta dari buku Anthony Sampson, The Seven Sisters: The Great Oil Companies and the World They Shaped, New York: The Viking Press, 1975).

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan