Pengantar
Ketika suatu struktur sosial dianggap begitu membelenggu kehidupan, maka orang mencoba mencari interpretasi baru dalam ajaran-ajaran agama atau memakai agama itu sendiri guna mendorong suatu perubahan sosial, mengubah struktur yang membelenggu itu. Tentang hal ini, sejarah telah banyak memberi contoh, baik dari perubahan yang berlangsung secara gradual maupun perubahan yang berlangsung secara tiba-tiba dan cepat (revolusi). Tetapi seringkali juga agama itu dijadikan sekedar alat guna melanggengkan status quo, mempertahankan struktur yang ada. Bagaimana kedudukan agama dalam persoalan ini? Tentu ini bukan persoalan sederhana yang dapat dijawab secara sederhana pula.
Menurut Sastrapratedja, pengalaman religius memang akan memperkaya manusia, tetapi tidak memecahkan semua masalah. Agama memiliki keterbatasan-keterbatasan sendiri. Walaupun begitu, ia berpendapat bahwa pada akhirnya agama harus menegaskan kebebasan manusia di tengah berbagai determinisme yang ditimbulkan oleh perkembangan masyarakat moderen.
Menurut Abdurrachman Wahid, dalam melihat peranan agama, kita seringkali tergoda kepada paradigma-paradigma di luar agama itu sendiri. Walaupun mempunyai dampak pembebasan, tetapi proses pembebasan itu berlangsung lambat dan jangkauannya jauh sekali. Dalam hal mendorong perubahan sosial, ia berpendapat bahwa agama hanya menyediakan “fasilitas” dan bersifat suplementer.
Pendapat kedua tokoh ini kami tampilkan dalam rubrik “Dialog” Prisma kali ini. Redaksi.
Agama Tidak Memecahkan Semua Masalah, Sastrapratedja, Dosen dan Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara
Gejala bangkitnya kesadaran religius sebetulnya merupakan sesuatu yang sangat kompleks. Pendekatan terhadap masalah itu kerapkali menjurus pada satu segi saja. Kebangkitan religius itu dapat memiliki berbagai bentuk. Dapat kita sebut misalnya, munculnya perhatian yang besar terhadap kerohanian Timur. Ini terjadi baik di dunia Barat maupun Timur sendiri: penghargaan kembali atas religiositas Timur yang memberi tempat kepada konsentrasi mental, sikap tubuh, kontemplasi dan gaya hidup yang membantu manusia untuk mencapai apa yang mereka sebut yang benar-benar nyata.

Jangan Paksakan Paradigma Luar terhadap Agama, Abdurrachman Wahid, Pemimpin Pesantren Ciganjur, Jakarta Selatan.
Seringkali dipersoalkan bahwa di satu pihak agama dapat membebaskan manusia dari satu himpitan struktural tertentu, tetapi di pihak lain agama sering tidak mampu melakukan hal itu. Persoalannya tidak sesederhana itu. Kita harus meninjau bahwa agama memang memiliki dampak pembebasan. Hanya saja proses pembebasan itu berlangsung lambat dan jangkauannya jauh sekali.
