Prisma

Antara Obyektivitas dan Orisinalitas

MENGAPA esei ditulis – boleh ditulis atau perlu ditulis? Di dalam pertumbuhan rohani setiap orang, dia ternyata hanya bergerak bolak-balik antara dua anggapan: sekali dia menganggap penting (sekali) apa yang dilakukannya, dan pada waktu lain dia memperlakukan semua yang dibuatnya sebagai tidak (begitu) penting.

Pada awalnya seorang murid taman kanak-kanak memulai semua pelajarannya sebagai permainan belaka. Ketika dia kemudian memasuki sekolah dasar dan selanjutnya ke sekolah menengah, maka semakin pula dia dituntut untuk bekerja bagi dan dalam pelajarannya. Menjelang ujiannya sebagai sarjana dia seakan terpaksa menganggap bahan pelajarannya sebagai satu-satunya hal terpenting di dunia. Dia menemukan dirinya terbiasa dengan tatatertib tertentu dalam menulis, dan senang-senang dia harus menerapkan konvensi yang sudah berlaku jamak dalam lingkungan akademik: metode, sistematik, logika dan lain-lain. Bertahun-tahun kemudian setelah lama berkecimpung dalam bidang studinya, datang juga saatnya dia mengalami disilusi tentang kepentingan yang dilebih-lebihkan. Ilmu dan filsafat kemudian begitu direlativir dan berubah wujudnya dari tremendum ke fascinosum.

Ternyata melalaikan sesuatu yang penting adalah sebuah tragedi tetapi melebih-lebihkan kepentingannya adalah sebuah komedi. Daya-jangkau ilmu dan daya-tembus filsafat sesungguhnya sangat terbatas. Ternyata ilmu dan filsafat hanyalah konvensi yang dibuat (dan dalam banyak kasus: sangat dibuat-buat). Kuriositas Dr. Faust yang tak terkendali dapat berubah menjadi kesia-siaan seorang Sisiphus. Memang, ada saatnya kita menganggap ilmu dan filsafat penting dan ada saatnya semua itu harus diremehkan kembali. Pada ketika seperti itu, ilmuwan berhenti menulis buku-teks dan para filsuf enggan menulis traktat.

Esei mulai ditulis kembali seperti juga puisi akan dicari untuk dibaca kembali. Kehidupan rupanya terlalu besar untuk hanya dijadikan obyek penelitian, dan terlalu agung untuk tidak dirayakan.

Esei adalah tulisan yang ditandai oleh ada-tidaknya surprise. Kekuatannya tidak terletak pada argumen yang dikandungnya, melainkan pada lukisan pikiran dan perasaan. Esei tidak berpretensi mengajukan suatu pemikiran yang kokoh dan keras, melainkan menyajikan suatu obrolan yang cerdas dan memikat.

Kalau filsafat melakukan discourse, kalau ilmu melakukan analisa, maka esei adalah sebuah dialog. Kalau dalam filsafat seseorang bekerja dengan otaknya, kalau dalam ilmu seseorang mengolah pengamatannya, maka dalam esei seorang bercanda dengan imajinasinya. Esei adalah bermain dalam tulisan. Dan seperti layaknya sebuah permainan, maka setiap pemain harus bermain dengan sungguh-sungguh, tanpa menjadikan permainannya sesuatu yang sungguhan.

Filsafat berusaha mencapai ketegihan spekulatif, ilmu berjuang menuju kesempurnaan deskriptif, dan esei memamerkan ketangkasan ekspresif. Spekulasi mengundang refleksi, deskripsi mengharuskan pengujian, sedangkan ekspresi menggedor impresi. Kalau ilmu dan filsafat berusaha mencapai kematangan orang dewasa, maka esei mempertahankan innocentia masa kanak-kanak.

Berlainan dari ilmu dan filsafat yang berpretensi menjadi tertib dan berdisiplin, maka esei adalah tulisan yang nakal dan kocak. Ilmu dan filsafat berusaha untuk runtut dan beralar, sementara esei sengaja meloncat-loncat dan jenaka. Yang pertama berpedoman pada rasionalitas manusia, yang kedua berpedoman pada kebebasan manusia. Yang pertama menjadi bagus karena dapat diramalkan, yang kedua menjadi indah karena bermain dengan ketakterdugaan. Esei adalah tulisan yang mengolah kebetulan-kebetulan.

Berdasarkan tujuannya, ilmu dan filsafat adalah bakti kepada kebenaran, puisi adalah inkarnasi keindahan, sedangkan esei adalah devosi kepada kegembiraan hidup. Demi tujuannya, ilmu dan filsafat mengharuskan distansi dari alam; demi tujuannya puisi menuntut kesatuan yang lebur dengan alam, sementara esei mencukupkan diri dengan mengapresiasi dan menikmati alam. Dalam hubungan dengan alam manusia, maka ilmu dan filsafat berusaha mengontrol psikologi, puisi mengaktivir psikologi sedangkan esei mentolerir psikologi.

Semua itu berarti bahwa ilmu dan filsafat adalah dokumen tentang usaha manusia mencapai kebenaran melalui pengetahuan dan pengertian, sedangkan esei adalah catatan tentang berbagai kebingungan dan kekeliruan sebagai risiko kemerdekaan. Pada ilmu dan filsafat kebenaran dianggap sempurna, di mana setiap pencapaian yang berhasil tidak lebih dari sebuah langkah sementara dalam aproksimasi. Dalam esei kebenaran lebih mirip berkas cahaya, yang sangat tergantung pada letak matahari, di mana setiap pencapaian adalah suatu keberuntungan melalui rahmat. Pada yang pertama setiap tahap kebenaran harus diuji, pada yang kedua setiap tahap kebenaran harus disyukuri. Kebenaran ilmu dan filsafat bersifat ontologis, kebenaran dalam esei adalah sesuatu yang soteriologis.

Kata-kunci pada ilmu dan filsafat adalah “penelitian kritis”. Kata-kunci pada esei adalah “kesaksian yang simpatik”. Filsafat berusaha mempertajam pengertian, ilmu menguji mutu pengetahuan, sementara esei mengundang intensitas keterlibatan. Dengan demikian, sementara ilmu dan filsafat berkutat untuk menyingkirkan kesalahan dan kontradiksi, maka dalam esei banyak kesalahan dapat dimaafkan dan kontradiksi dapat menjadi unsur yang menyegarkan. Kalau ilmu dan filsafat mendefinisikan manusia sebagai mahluk pencari kebenaran, maka esei mendefinisikan manusia sebagai mahluk pemburu kebahagiaan. Yang pertama berdiri di atas asas ketegaran pikiran, yang kedua berdiri di atas asas keleluasaan jiwa. Tokoh dalam ilmu dan filsafat adalah manusia yang tahu dan tidak tahu. Tokoh dalam esei adalah manusia yang tenang atau gelisah.


Diutamakannya keindahan, penekanan pada unsur daya-tarik serta dihalalkannya kebebasan dan subyektivitas, menyebabkan bahwa esei selalu dibicarakan sebagai suatu genus litterarium, sebagai suatu jenis kesusasteraan. Namun demikian, sebagai jenis tulisan esei memperlihatkan arti penting untuk perkembangan dan pertumbuhan bahasa.

Sudah umum diketahui bahwa bahasa dalam ilmu dan filsafat adalah bahasa yang dibakukan. Kata-kata tidak lagi bertumbuh liar seperti rumput di padang atau pakis di hutan, tetapi telah dibudidayakan dalam taman, dalam vas, dalam greenhouse. Pembakuan bahasa jelas diperlukan, karena itu ada alat yang siap-pakai, bilamana manusia harus bekerja dengan menggunakan bahasa sebagai instrumennya. Dalam filsafat dan ilmu bahasa ditaklukkan, kata-kata dijinakkan untuk menjaga pengertian-pengertian yang sudah disepakati.

Dalam esei – seperti halnya dalam puisi – bahasa dilepaskan kembali dari kungkungan formalisme. Kata-kata dibebaskan dari kewajibannya menjadi komponen sebuah konsep, dan dibiarkan terbang atau bertumbuh dengan kekuatan sendiri seperti elang liar atau cempaka di hutan. Menulis ilmu dan filsafat adalah melakukan organisasi dan reorganisasi susunan vas atau bentuk taman. Menulis esei adalah merangkai kembang liar yang dipetik sendiri di lereng bukit atau diambil dari tengah semak-belukar. Esei dan puisi adalah kesaksian bahwa bahasa yang pada mulanya diciptakan manusia, pada akhirnya akan hidup sebagai dunia tersendiri, dengan dinamika yang tak selalu dapat diduga apalagi dikuasai. Esei adalah pembebasan bahasa dari penjajahan konseptual.

Dalam filsafat, bahasa menghubungkan ide dengan ide dan menjadikannya sebuah konstruksi. Dalam ilmu, bahasa menghubungkan ide dan empiri dan menjadikannya sebuah operasi. Dalam esei, bahasa menghubungkan ide dengan imaji dan menjadikannya sebuah kanvas lukisan. Kalau filsafat memperlakukan ide sebagai refleksi pikiran tentang pikiran, kalau ilmu memperlakukan ide sebagai refleksi pikiran tentang kenyataan empiris, maka esei memperlakukan ide sebagai ekspresi spontanitas subyektif melalui pikiran. Dengan demikian bahasa filsafat mempertanyakan, bahasa ilmu bersifat menjelaskan, sementara bahasa esei melukiskan. Menulis esei adalah memberikan sapuan warna-warni kepada pikiran dan perasaan. Inilah sebabnya mengapa filsafat menguji ide berdasarkan rasionalitas, ilmu menguji ide berdasarkan obyektivitas, sedangkan esei menguji ide berdasarkan orisinalitas.

Yang menarik ialah bahwa pembagian dan distingsi tadi belum banyak menerangkan keadaan dalam praktek. Ternyata tidak sedikit filsuf dan ilmuwan yang memilih menulis dalam bentuk esei dan bukannya dalam diskursus yang tegar atau analisa yang ketat. Peter L. Berger dengan cara yang explisit berulangkali minta kepada pembaca supaya memperlakukan buku-buku sosiologinya sebagai esei dan bukan sebagai buku teks. Demikian pun siapa yang membaca karya C. Geertz: Negara: The Theatre-State in Nineteenth Century Bali, akan merasa bingung apakah dia sedang berhadapan dengan sebuah studi antropologi politik ataukah sebuah esei kesusasteraan yang panjang tetapi gilang-gemilang.

Mungkin di situlah jawaban harus dicari. Filsafat yang melakukan diskursus dan ilmu yang melakukan analisa, tampaknya mengandaikan pengorbanan pembaca untuk menghadapi sebuah teks dengan tekun. Membaca diandaikan sebagai suatu kerja, bahkan sebagai suatu kerja keras. Memahami filsafat dan menambah ilmu pengetahuan dianggap sebuah kesenangan, yang hanya dapat diperoleh setelah seseorang mau bersakit-sakit dahulu.

Sebaliknya, seorang penulis esei mengandaikan bahwa teks adalah sebuah permainan. Para pembaca atau calon pembaca harus merasa terpikat untuk turut bermain di sana, tanpa harus berkorban terlalu banyak. Sebuah konstruksi memang harus dipelajari, dan sebuah operasi harus dilaksanakan dengan cermat, tetapi sebuah lukisan hadir untuk dinikmati. Filsafat dapat menajamkan akal, ilmu dapat mengatur pengetahuan, tetapi sebuah esei ditulis untuk mempertahankan harapan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan