Pengantar
BELASAN juta sudah buku bacaan untuk siswa sekolah dasar yang dibeli dengan mempergunakan dana Instruksi Presiden sejak tahun 1973. Hampir dua ribu eksemplar buku bacaan ini sudah memenuhi lemari perpustakaan setiap sekolah dasar di Indonesia. Ini suatu pertanda, pendidikan mendapat perhatian besar dari pemerintah, dan membaca buku cerita bukan lagi hanya menjadi milik anak-anak gedongan di kota besar, tetapi juga anak-anak desa yang jauh dari jalan raya beraspal.
Adanya pembelian dalam jumlah besar terhadap buku-buku bacaan itu telah pula mendorong lahirnya banyak pengarang muda dan penerbit. Bahkan nasib pengarang terangkat jauh dari tempat berpijak sebelum adanya dana Inpres untuk membeli hasil karya mereka. Bila dulu orang selalu mengatakan tidak mungkin bisa hidup dari mengarang cerita anak-anak, sekarang dengan bangga mereka menepuk dada mengajak: “Marilah beramai-ramai mengarang buku bacaan anak-anak untuk Inpres karena dari sana akan bisa hidup berkecukupan.”
Hal serupa juga dilontarkan penerbit untuk buku Inpres, padahal sebelumnya, para mereka enggan menerbitkan buku-buku bacaan untuk anak-anak karena tidak menguntungkan. Itu sebabnya, penerbitan buku untuk anak-anak mengalami masa suram sebelum tahun 1973, kalau tidak hendak dikatakan mengalami kevakuman. Laporan Khusus kali ini berniat menampilkan masalah dunia buku anak-anak ini dari beberapa sisi sampai pada bisnisnya. Bahan dikumpulkan oleh Mursidi Musa dari Yogyakarta bersama M. Ahmad Soemawisastra dan Edward S. Simandjuntak yang sekaligus merangkumnya sebagai Laporan Khusus. Redaksi


