Pada zaman yang penuh gelombang pelbagai aliran ini, fakta yang paling pokok bagi hubungan kebudayaan adalah berubahnya peranan dari negara-negara yang baru mencapai kemerdekaannya, terutama yang terletak di Asia dan Afrika. Sebagaimana yang dikatakan oleh pemimpin-pemimpin mereka sendiri, periode setelah kemerdekaan tersebut membukakan kesempatan yang tidak pernah diduga dan tidak pernah terjadi sebelumnya. Kesempatan-kesempatan tersebut muncul di tengah kontak kebudayaan yang meluas di seluruh dunia dan dengan demikian memerlukan suatu pemikiran kembali yang asas tentang identitas, peranan dan hubungan yang berlaku untuk negara-negara yang lebih tua dan lebih makmur, juga bagi negara-negara yang lebih muda dan saat ini lebih miskin. Situasi ini mengemukakan tantangan bagi semua bangsa, terutama tantangan dan peluang bagi Asia dan
Afrika dalam membentuk dunia yang baru. Asia dan Afrika memiliki bekal yang kaya untuk tugas ini, terutama dalam hal nilai dan ide. Dunia yang sudah maju membutuhkan pertolongan karena kegagalan sebagian pemimpin-pemimpinnya, terutama dalam menangani masalah-masalah nilai seperti persamaan hak dan keadilan. Selama ini lebih banyak retorika dari pada pemikiran kembali terhadap nilai-nilai, lebih banyak propaganda dan politik dari pada penggarisan kebijaksanaan. Dimensi yang religius secara khas dikesampingkan oleh para pragmatis dan cendekiawan. Akibatnya kita terombang-ambing antara eksploitasi komersiil nilai-nilai dan kelalaian atas nilai-nilai itu. Peniadaan dimensi religius secara meluas dalam kehidupan sehari-hari dan institusionalisasi yang ketat dari agama memperparah masalah ini.
Orang-orang Asia dan Afrika kadang-kadang telah mampu menghindari pandangan-pandangan yang begitu sempit tentang kehidupan dan dengan demikian telah mencapai suatu keserasian dengan angkatan muda dari negara-negara makmur. Nilai-nilai bagi mereka adalah transendental dan juga fungsionil, dan inter-relasi dari kedua hal itu mempunyai jangkauan yang jauh. Termasuk ke dalam nilai-nilai yang sifatnya fungsionil ialah survival, sebagai tujuan keseimbangan ekologis dan nilai-nilai dalam hubungannya terhadap alam dan bumi. Namun nilai-nilai tersebut mungkin dan memang sering tidak dapat menjawab pertanyaan apa gunanya kita bertahan hidup, survive. Adalah mungkin untuk survive dan menolak eksistensi manusia yang tak berarti. Mungkin pula kita beranggapan bahwa kita hidup di dunia yang kecil, saling tergantung satu sama lain dan kita bertanya-tanya: “Apa artinya ini?” Barat telah meninggalkan zaman ideologi-ideologi besar sekalipun barangkali Barat masih dihinggapi sisa-sisa zaman itu. Barat telah sadar bahwa masyarakat tidak dapat bertindak menyalahi hati nuraninya tanpa hukuman yang setimpal dan dalam hal ini Barat mungkin menemukan persatuan dengan Asia dan Afrika.