Usman Sayid bin Timan dan Basri BN memberikan dukungan bagi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Sakwet bin Kenyet adalah warga Kepala Banteng, dan memberikan suara bagi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Sedangkan, Lei Pie Hay alias Haryanto, lebih percaya kepada Golongan Karya (Golkar). Tetapi Tuti, tak mengerti semuanya itu.
Aspirasi politik kelima orang itu kita coba untuk menangkapnya lewat “Dialog” kali ini. Dari mereka kita tangkap citra partai politik pada lapisan masyarakat yang hampir tak pernah didengar orang selama ini. Mereka tidak risau oleh urutan nama untuk calon anggota parlemen, tetapi mereka memiliki alasan-alasan buat simpati dan dukungan yang diberikan.
Alasan Usman Sayid menusuk tanda gambar PPP dalam pemilihan umum, adalah seperti yang dia katakan, “Untuk Islam dan buat menghormati ulama.” Pedagang sate ayam asal Madura yang kini bermukim di Tanah Abang, Jakarta Pusat itu, mengaku warga Nahdlatul Ulama. Tetapi, Sakwet menusuk tanda gambar Kepala Banteng, karena tak hendak mengingkari apa yang sudah digariskan orangtuanya. Penarik gerobak barang di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, dan bekas tukang beca kelahiran Tegal ini, memandang banteng sebagai lambang kemakmuran bagi petani. Untuk yang satu ini Sakwet tak mau dihalangi atau dipaksa. Paksaan, seperti dikatakannya, akan dia “layani”, jika perlu.
Kalau Usman dan Sakwet memiliki kesadaran seperti itu, Tuti tidak demikian. Wanita muda yang menjadi kupu-kupu malam di daerah Jatinegara ini menyatakan sama sekali tak mengerti, baik tentang partai politik ataupun pemilihan umum. Dia turut serta dalam kegiatan pemungutan suara hanya sekedar “untuk diakui oleh masyarakat”. Tuti memiliki bayangan bahwa segala sesuatunya itu ada sangkut pautnya dengan surat keterangan berkelakuan baik yang suatu saat dia perlukan.
Seorang pria keturunan Cina, Lie Pie Hay, yang mengganti namanya menjadi Haryanto sejak menjadi warga negara Indonesia, memberikan dukungan bagi Golongan Karya untuk Dewan Perwakilan Rakyat, karena merasa suasana yang diciptakan dewasa ini cukup baik buat berdagang. Suaranya dia berikan buat PDI untuk DPRD DKI Jaya, karena dia seorang Katolik. Pedagang suku cadang kendaraan bermotor di Asam Reges, Jakarta Pusat itu punya kekhawatiran, jika PPP menang dalam pemilihan umum, Pancasila mungkin saja diganti.
Namun, pedagang kecil Basri BN tidak berpendapat demikian. Hukum Islam, katanya tak mungkin diterapkan di Indonesia. Penjual kacamata di kaki lima Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, berasal dari Bukittinggi, Sumatera Barat ini, kini ragu-ragu terhadap PPP, partai yang pernah diberinya dukungan dalam pemilihan umum yang lalu. Bekas tentara Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) itu, melihat bahwa kini semakin langka tokoh partai yang bisa diandalkan. Dia pun merasa bahwa masyarakat kita, tidak teguh memeluk ideologi, salah satu kelemahan kita jika dibandingkan dengan penganut komunisme.
Orang-orang ini berbicara tentang partai politik, tanpa melihat bahwa mereka memiliki kepentingan langsung di dalamnya. Suara mereka adalah gema yang lain dari partai politik, gema dalam lapisan yang paling sering diatas namakan orang selama ini, yakni rakyat banyak. Redaksi




