Prisma

Dari Bumi yang Bergolak

Timur Tengah memang acapkali mengejutkan dunia. Siapakah yang menduga, seorang kakek 78 tahun bisa mengalahkan Syah yang begitu berkuasa? Stereotipe yang melekat pada seorang ulama tua seperti Khomeini, dengan karisma yang rasanya tak masuk akal, ekstrimisme yang tak mengenal kompromi, ruang manuver yang sempit karena janjinya begitu mutlak dan ikatan keagamaan yang dijadikan dasar revolusi pada zaman yang begini sekuler—semuanya seperti sebuah deretan ketidakmungkinan. Tetapi tokh terjadi. Orang membayangkan ulama yang berakal pendek; tetapi pilihannya dengan mengangkat Bazargan benar-benar jitu dan strategis. Orang hanya membayangkan dia jadi lambang pencetus revolusi dan setelah golongan yang lebih terlatih akan mengambil alih inisiatif setelah ia tak mampu menguasai keadaan—dan yang terjadi adalah massa yang begitu terkendali.

Di sini bahkan politikus kawakan pun bisa salah tebak; malahan ada yang terlanjur mengumumkan pendirian “hanya mengakui yang konstitusional”. Tetapi apakah artinya konstitusi tanpa dukungan rakyat sendiri? Apa artinya dokumen politik itu ketika jutaan rakyat menggelegak marah karena konstitusi itu telah menjadi alat untuk mengesahkan penindasan? Yang dikira (atau malahan diharapkan) tidak mungkin nyatanya telah terjadi—suatu kejutan yang untuk sekian kalinya diperagakan di bagian dunia yang paling bergolak itu.

Sebelumnya, orang telah dikejutkan oleh kunjungan Sadat ke Israel, dan lima tahun yang lalu oleh embargo minyak. Timur Tengah rasanya mengandung begitu banyak keajaiban, begitu banyak mukjizat. Musa mengejutkan umatnya ketika menyeberangi laut Merah, Kristus membangkitkan mayat dari kubur dan Muhammad merubah bangsa Badui menjadi pendiri imperium. Semuanya terjadi di bagian bumi ini—bumi yang melahirkan agama-agama besar dunia, yang pengaruhnya hingga kini masih merasuki ratusan juta umat manusia.

Tetapi bagian bumi ini tidak hanya menjadi kiblat rohani. Sejak diketemukan minyak di bawah pasir yang tandus itu, wilayah ini telah menjadi semacam kiblat dagang dan persaingan. Apa saja di jual di sana: semua jenis ideologi, semua jenis komoditi, bahkan juga tenaga buruh dan babu. Maka kita pun tidak ketinggalan. Langkah-langkah kecil mulai dirintis, walaupun kita tidak tahu pasti sampai di mana semua usaha ini akan membantu ekonomi kita di masa nanti, khususnya dalam mencari pasar baru bagi ekspor komoditi dan jasa-jasa.

Akan tetapi mungkin akan ada baiknya untuk melihat lebih dekat kepada wilayah ini; barangkali ada banyak jawaban terhadap sejarah yang mungkin bisa dipelajari dari sini. Jawaban terhadap modernisasi, pasang surut sistem sosial dan kebudayaan setempat dalam proses ini dan sikap terhadap persaingan kekuatan-kekuatan dunia, mungkin akan merupakan bagian pemecahan persoalan yang gemanya juga akan tiba di sini.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan