Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) yang ke-27 berlangsung setelah dua kubu yang bersengketa—Cipete dan Situbondo—bersatu kembali. Arief Mudatsir melihat, dalam kepemimpinan NU sekarang dominasi ahli fiqh dalam arti tradisional tampak berkurang. Pemegang peran dalam kepemimpinan sekarang, memiliki latarbelakang pendidikan campuran kultur pesantren dengan pengaruh sekuler Barat, yang menurut penulis, tentu akan mengembangkan gaya kepemimpinan yang memadukan keduanya. Arief Mudatsir membuat tulisan ini setelah menghadiri muktamar di Situbondo Desember 1984 itu. Dia mencoba menelaah garis perjuangan NU sebagai konsekuensi dicanangkannya “Kembali ke Khittah 1926”.
* Penulisan artikel ini dibantu — mulai pengumpulan bahan sampai kepada penulisannya — oleh E. Shobirin Nadj, pemimpin redaksi majalah PESAN, LP3ES. Tetapi tanggung jawab sepenuhnya ada pada penulis.


