Prisma

Data Statistik: Mitos Baru?

Pengantar

Statistik tampaknya sudah menjadi bagian yang makin penting dari kehidupan masyarakat. Pembicaraan sehari-hari dan penulisan artikel tanpa dilengkapi data statistik terasa kurang lengkap. Karena begitu diyakini sebagai pengungkap suatu kebenaran, akhirnya statistik berkembang menjadi “mitos” baru. Instansi-instansi pemerintah di tingkat pusat sampai tingkat paling bawah di kelurahan, memampangkan tabel, grafik dan angka statistik di kantornya masing-masing.

Gejala baru ini memang menarik untuk ditelusuri. Di satu pihak, timbul pertanyaan, apakah data itu digunakan untuk suatu perencanaan program pembangunan ataukah sekedar “hiasan dinding” belaka? Di pihak lain, muncul keragu-raguan: apakah data statistik ini sudah cukup memenuhi kebutuhan pemakai data sesuai dengan bidangnya masing-masing?

Keluhan-keluhan dari pemakai data di perguruan tinggi dan lembaga penelitian memang menyoroti belum memadainya data yang tersedia, sehingga mereka sulit mengembangkan model-model disiplin ilmunya. Terasa sekali adanya kesenjangan antara perkembangan teori dan suplai data statistik. Tetapi keluhan terhadap produsen data ini masih pula dibarengi dengan keluhan terhadap pemakai data lainnya yang ternyata juga kurang mampu memanfaatkan data yang tersedia, sehingga data itu jadi mubazir.

“Dialog” Prisma kali ini mengetengahkan pandangan dan pengalaman Budiono Sri Handoko, dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan Hendra Esmara, Kepala Pusat Penelitian, Universitas Andalas, Padang. Sebagai konsumen data, mereka membicarakan situasi dunia perstatistikan di Indonesia, kelemahan dan ketidakkonsistenan metode pengumpulan data, seraya memberikan masukan demi akurasi data statistik yang dicari. Redaksi .

Menjembatani Produsen dan Konsumen Data, Budiono Sri Handoko, Pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada

Tanya : Dari waktu ke waktu, perhatian orang terhadap data statistik makin besar. Para pemakai data, mulai dari instansi pemerintah, dosen-dosen di perguruan tinggi sampai konsumen data lainnya, kini makin menghargai arti pentingnya data itu. Di satu pihak perkembangan ini cukup menggembirakan. Tetapi di pihak lain, muncul keluhan-keluhan dari konsumen data, karena data yang tersedia di Biro Pusat Statistik misalnya, tidak lagi mencukupi kebutuhan mereka. Kebutuhan atau permintaan akan data lebih besar daripada persediaan data. Bagaimana situasi itu sebenarnya? Atau, barangkali ada pendapat lain?

Banyak Dihasilkan, Sedikit Dimanfaatkan, Hendra Esmara, Kepala Pusat Penelitian Ekonomi Regional, Universitas Andalas, Padang.

Pemakai informasi yang sering menggunakan data statistik, tentu gembira melihat banyaknya kemajuan dalam hal dan cara pengumpulan data. Dari berbagai publikasi — terutama dari Biro Pusat Statistik — terbukti banyak sekali informasi yang keluar. Bagi para peneliti, hal ini merupakan bahan baku yang besar sekali artinya.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan