Prisma

Dialog: Bahasa Indonesia Cermin Keadaan Masyarakat Indonesia

Pengantar

SEJAK para pemuda Indonesia enam puluh tahun yang lalu, mengaku “berbahasa satu, Bahasa Indonesia”, bahasa ini telah mengalami banyak perkembangan, sesuai dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat Indonesia. Lahir dalam semangat pergerakan nasional dan dalam suasana penciptaan “bayangan” tentang “Bangsa Indonesia”. Bahasa Indonesia telah berkembang dan dimatangkan melalui berbagai gejala dan pergeseran sosial dalam kurun waktu itu – masa revolusi nasional, masa demokrasi liberal dan terpimpin serta kini, masa Orde Baru.

Memang, tanpa disadari banyak orang, perkembangan sebuah bahasa mengungkapkan banyak tentang keadaan masyarakat tempatnya hadir. Masalah-masalah yang berkaitan dengan bahasa memang dapat ditinjau semata-mata dari sisi teknis – misalnya bagaimana menyebarluaskan penggunaan bahasa secara “baik dan benar”. Tetapi, dari sisi lain, bahasa dapat ditinjau berkaitan dengan perkembangan dalam masyarakat yang lebih mendasar, sehingga menunjukkan dinamika perubahan sosial, pembentukan dan pergeseran nilai-nilai, serta sifat kekuasaan politik. Singkatnya, bahasa yang kita kembangkan, dan kita pakai, merupakan cermin paling jelas keadaan masyarakat kita dewasa ini.

Dalam rubrik “Dialog” Prisma ini kami tampilkan sejumlah ahli yang membahas perkembangan Bahasa Indonesia dari sisi ini. Dr. Khaidir Anwar, pengajar Universitas Andalas, Padang, menunjukkan perbedaan watak Bahasa Indonesia yang berkembang selama dua puluh tahun terakhir ini, dengan perkembangannya di masa lalu. Ia mengingatkan kita bahwa Bahasa Indonesia pernah mencerminkan suasana upaya menciptakan masyarakat Indonesia yang egaliter; Prof. Dr. Anton Moeliono, MA, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Bahasa, berbicara mengenai pembinaan bahasa sebagai upaya intervensi terhadap perkembangan bahasa secara alamiah; Dr. Toety Heraty Noerhadi, Ketua Jurusan Filsafat, Fakultas Sastera Universitas Indonesia, berusaha mengungkapkan bagaimana stereotipe seksual dilestarikan dalam penggunaan Bahasa Indonesia sekarang; Mochtar Lubis, sasterawan dan wartawan senior, membahas makna gejala eufimisme dan akronim dalam praktek berbahasa kita; sedangkan Sudjoko, pengajar pada Jurusan Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, mengupas ragam berbahasa kalangan elite masyarakat Indonesia dewasa ini, dan membandingkannya dengan ragam berbahasa elite di masa lalu.Redaksi

Bagaikan Membentur-benturkan Kepala ke Dinding, Anton M. Moeliono, Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

UPAYA pengembangan dan pembinaan bahasa Indonesia sebagaimana yang dilakukan Pusat Bahasa harus dilihat sebagai intervensi terhadap evolusi alamiah bahasa. Bahasa akan terus berkembang. Namun yang kami inginkan sekarang dengan apa yang disebut pemercepatan, akselerasi pembangunan, ialah melalui intervensi itu, perubahan yang sebelumnya dicapai dalam beberapa dasawarsa, akan bisa kita raih dalam satu generasi.

Ia berada ada dalam konteks upaya mencerdaskan bangsa. Secara umum saya menafsirkan, seseorang disebut cerdas jika segala kemampuan atau fakultas dalam dirinya berkembang: telah lengkap pengembangan kemampuan intelektual, kehendak dan perasaannya. Dalam kapasitasnya, Pusat Bahasa hendak mengembangkan satu sarana bernama bahasa, baik dalam bentuk ujaran maupun tulisan, yang menjadi wadah bagi pengungkapan pribadi orang sebagai manusia yang cerdas.

Elite Baru Kita Tidak Menghargai Bahasa, Sudjoko, Pengajar Jurusan Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung.

SECARA kasar kita bisa membedakan dua jenis elit, elit dalam pengertian adat dan elit baru. Yang pertama – orang Jawa menyebutnya kaum sanggih – mencakup orang-orang kraton, para mpu, para ahli kebudayaan daerah atau para cendekiawan. Itu pengertian elit yang didasarkan atau yang berakar pada bumi sendiri. Yang kedua, adalah mereka yang lahir dari pendidikan formal moderen dan kelihatannya ingin membedakan diri dari kaum elit lama. Bahkan bukan sekadar membedakan, tapi juga ada usaha membuktikan keunggulan. Ini misalnya tampak dalam cara berbahasa. Untuk mengukuhkan diri sebagai kaum yang terunggul, mereka menggunakan bahasa dunia maju, bahasa Barat, yang tidak dimiliki para dalang. Bahasa Inggeris digunakan dan dimasukkan sebanyak-banyaknya, bahkan tanpa batas.

Media Massa dan Bahasa yang Terus Terang, Mochtar Lubis, budayawan.

GEJALA menyuburnya penggunaan akronim dan eufemisme merupakan gejala yang sangat mengganggu kelancaran komunikasi di Indonesia saat ini. Saya berpendirian, komunikasi harus senantiasa dilakukan secara jernih agar masyarakat bisa menangkap semua fakta dengan jelas. Terlebih-lebih lagi karena kita masih berada dalam tahap transisi menuju modernisasi, maka sangat penting untuk mengusahakan jangan sampai terjadi ada salah pengertian, salah tangkap di antara anggota masyarakat. Kedua-duanya mewakili sikap ketidakdewasaan bangsa kita. Kita malas menggunakan dua-tiga kata, karena itu kita gunakan satu singkatan yang tidak jelas datangnya dari mana. Kita malas melihat kenyataan yang menyakitkan, karena itu kita gunakan ungkapan yang menghaluskan.

Dalam Bahasa, Wanita pun Tersudut, Toeti Heraty Noerhadi, budayawan.

KITA memang terbiasa berpikir dalam apa yang dipandang sebagai citra baku. Karena itu, mitos bahwa wanita merupakan makhluk tolol yang harus disayangi, dilindungi dan disanjung, bisa bertahan bukan saja karena cara pandang pria, namun juga karena kaum wanita sendiri sikapnya ikut membenarkan, menggarisbawahi dan menerima saja anggapan itu. Kalau masyarakat menilai bahwa wanita tidak sepintar pria, mereka cenderung menerima karena mereka menerima otoritas masyarakat. Masalahnya sebetulnya adalah, kapan wanita dapat mulai mampu menilai dan mendudukkan dirinya sendiri. Sikap menerima stereotype pada dasarnya menggiring sosialisasi terciptanya citra baku dari generasi ke generasi.

Bahasa, Feodalisme dan Egaliterisme, Khaidir Anwar, dosen Universitas Andalas, Padang.

KAJIAN tentang kaitan antara perkembangan bahasa dan perkembangan masyarakat belum banyak dilakukan. Mungkin para ahli bahasa banyak yang kurang berminat pada hal-hal yang ada di luar bahasa. Sayang tak banyak di Indonesia yang melanjutkan dan mengembangkan kajian bahasa yang sudah dirintis oleh Sutan Takdir Alisyahbana. Namun, sudah ada juga beberapa studi dalam bentuk disertasi. Yang saya ketahui adalah karya A.A. Bodenstedt (1967) yang berjudul Sprache und Politik in Indonesien: Entwicklung und Funktionen einer Nationalsprache yang diterbitkan di Heidelberg. Kajian ini dapat dianggap sebagai pelopor, tetapi karena ditulis dalam bahasa Jerman, mungkin terbatas jumlah pembacanya.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan