Prisma

Dialog | Bantuan Si Besar bagi Si Kecil

Pengantar

Citra industri skala kecil di Indonesia pada saat ini belum begitu cerah walaupun berbagai upaya pembinaan telah dilakukan untuk mengangkat derajatnya ke tingkat yang lebih terhormat. Kita mungkin terlalu bersikap negatif terhadap produk industri kecil selama ini, suatu sikap yang sebenarnya tidak perlu muncul mengingat permasalahan internal yang dihadapi dan masalah makro ekonomi Indonesia yang melingkuninya. Namun eksistensi sektor usaha yang amat padat karya ini tak bisa dipungkiri telah meningkatkan kesejahteraan masyarakat lapis bawah dan memberikan kontribusi yang cukup lumayan bagi penerimaan devisa negara.

Kesulitan mendapatkan bahan baku, terbatasnya modal, lemahnya manajemen dan masalah lain di sekitar kehidupan usaha kecil ini bak lingkaran setan. Uluran tangan Usaha skala besar kepada Usaha skala kecil ini tampaknya barulah langkah awal yang belum kelihatan hasilnya dan pasti dibutuhkan kiat tersendiri untuk mengembangkannya agar dapat menjadi pilar utama dalam perekonomian nasional. Penyisihan 1-5% laba bersih BUMN bagi pengembangan usaha kecil di Indonesia adalah kebijaksanaan yang positif. Namun hal ini perlu diikuti usaha-usaha swasta nasional lainnya beserta penerapan kebijaksanaan makro ekonomi dalam suatu skema yang konseptional, terprogram dan terarah.

Bagaimana pendapat para pimpinan BUMN terhadap pengembangan usaha kecil di Indonesia lewat berbagai bantuan tersebut? Ikuti Dialog Prisma dengan mereka. Redaksi

Pengendalian Antarorang, Manajemen Tingkat Tinggi

BAIK swasta maupun Badan Usaha Milik Negara mempunyai tanggung jawab sosial (social responsibility). Pihak swasta, seperti Tanri Abeng, sering mensponsori sirkuit tenis. That is social responsibility. Di Amerika, nama bangunan banyak kampus memakai nama seseorang. Ini adalah tanggung jawab sosial pengusaha Amerika untuk membina pendidikan perguruan tinggi.

Dalam struktur perekonomian kita tanggung jawab ini harus dibudayakan. Ada suatu wawasan bahwa kita adalah bagian dari anggota masyarakat; kita telah diberi kenikmatan; saya dipercaya untuk memimpin perusahaan; Karyawan BUMN ini sehat dan baik. Tetapi kita juga harus melihat realita di sekitar kita, bahwa masih banyak anggota masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan. Mereka tidak cukup hanya makan sehari tiga kali dan sebagainya. Melihat hal itu maka kami terpanggil untuk berbuat sesuatu. Sasarannya adalah membantu mereka sesuai dengan ketentuan pemerintah yang diberlakukan bagi BUMN.

Telkom selama ini menyisihkan 3% keuntungannya untuk membantu usaha kecil. Pada tahun 1993 dana bantuan Telkom mencapai Rp 10 milyar. Tahun 1994 mungkin akan menyalurkan sekitar Rp 15 milyar. Kami sadar keuntungan kami adalah uang rakyat. Untuk itu harus disebarkan kembali untuk rakyat melalui program-program tertentu seperti membina industri kecil untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga yang telah ikut membantu mensukseskan program pemerintah. Di antara kelompok sasaran bantuan adalah para akseptor Keluarga Berencana.

Mengapa para akseptor? Terus terang kami terpacu oleh program BKKBN di bawah pimpinan Bapak Haryono Suyono. Saya pernah bertanya kepada Pak Haryono: kapan Bapak mempunyai peta statistik kesejahteraan keluarga? Beliau menjawab, bahwa BKKBN telah memilikinya. Jadi persiapan untuk mengembangkan usaha produktif sudah sedemikian jauh, sistemnya juga sudah mantap dan beliau bersedia menjadi penjamin. Karena kami memiliki uang rakyat, dan saya harus pertanggungjawabkan pengelolaannya kepada Menteri Keuangan, karena ada penjamin dan programnya jelas, tentu kita harus membantunya.

Terus terang, persentase “ngemplangnya” orang kecil itu jauh lebih kecil daripada orang “gedean.” Hal ini berlaku juga dalam industri kecil. Kita tidak perlu khawatir. Misalnya mereka menunggak, itu bukan karena mental mereka jelek, tapi memang karena situasi. Jadi bukan karena attitude-nya jelek. Dalam hal ini sebenarnya mereka lebih jujur dari pada kelompok lain di atas.

Kelompok masyarakat yang memerlukan bantuan dari kami bermacam-macam termasuk penjual onde-onde. Mereka membentuk satu kelompok sepuluh orang yang mengembangkan usaha bersama. Bagaimana mereka saling kontrol, bagi saya, ini sudah merupakan manajemen tingkat tinggi. Si A menerima, maka si B menunggu. Karena si A menerima dan tahu kalau ditunggu oleh rekannya si B yang nota bene adalah tetangganya, maka dia akan berhati-hati sekali mengelola dana bantuan dan ingin sesegera mungkin mengembalikan supaya si B mendapat giliran. Demikian seterusnya. Menurut saya, inilah sample dari ilmu manajemen, yang diterapkan dalam skop paling bawah.

Karena rasa tanggung jawab sosial ini membangkitkan kita terpanggil untuk membantu mereka, baik usaha kecil dan usaha rumah tangga. Kami dapat tumbuh karena rezeki di bidang perekonomian dari masyarakat. Wajar kalau rezeki itu dikembalikan sebagian kepada masyarakat. Ajaran agama apapun pasti memerintahkan demikian. Itulah motivasi kami dalam pengembangan usaha kecil.

Dasar Pembinaan Terkait dengan Fungsi Ekonomi Keluarga

SELAMA ini Bank Exim sudah memiliki program pembinaan pengusaha kecil. Awalnya dari Peraturan Menteri Keuangan untuk menyisihkan sebagian dari laba BUMN untuk membantu usaha kecil. Hal ini merupakan penugasan pemerintah kepada BUMN dalam rangka pembinaan usaha kecil. Kami menyisihkan laba antara 2-5 persen untuk pembinaan usaha-usaha kecil dan Koperasi.

Berasal dari laba tahun 1992, dana pembinaan kami itu sekitar Rp. 11,7 milyar, dan sudah tersalurkan seluruhnya. Untuk laba tahun 1993, karena harus diputuskan melalui RUPS, jumlahnya baru diketahui tahun 1994 ini. Namun demikian kami sudah menyisihkan sekitar Rp. 3,5 milyar. Dengan adanya peraturan baru dari Menteri Keuangan, dalam rangka penyaluran bantuan ini, kami sedang mengkaji kembali program-program kami dalam rangka penyaluran eks laba tahun 1993.

Ada beberapa proyek yang sudah kami identifikasikan sejak awal tahun 1994. Hasilnya kemudian kami nilai untuk disesuaikan dengan peraturan baru. Dari jumlah Rp 11,7 milyar, yang kami salurkan lewat BKKBN sekitar Rp. 1 milyar.

Pada dasarnya kalau kita kelompokkan usaha-usaha di Indonesia, kita dapat bagi, pertama, usaha-usaha besar, kedua usaha-usaha menengah dan ketiga usaha-usaha kecil dan koperasi. Dari usaha-usaha tersebut yang perlu dibina adalah usaha-usaha kelompok bawah dan usaha kecil yang sudah komersial. Usaha kecil yang sudah komersial ini diakomodasi oleh lembaga perbankan melalui kredit usaha kecil (KUK). Usaha mereka memang kecil; ada kriteria-kriteria untuk menggolongkannya, tapi mereka sudah siap komersial. Mereka dibantu dari segi permodalan. Usaha ada, punya izin usaha, dan sudah ada manajemen, pada dasarnya mereka sudah siap untuk komersial.

Dana pembinaan diarahkan kepada mereka yang sudah siap komersial atau belum sepenuhnya siap komersial. Sifat pembinaan pun dapat berupa pendidikan. Bantuan pendidikan bersifat hibah. Tetapi menurut ketentuan baru, mitra binaan harus ikut menyediakan dana minimal 25% dari kebutuhan. Saya kira hal ini sangat baik agar ada perasaan ikut memiliki, dan mereka tidak merasa hanya dibantu; merasa punya upaya sendiri.

Di samping pendidikan yang sifatnya hibah, ada bantuan modal. Bantuan modal ini diberikan dengan persyaratan lunak dari sisi bunga. Bunganya pun harus di bawah bunga komersial, tetapi tidak boleh gratis. Sebab kalau gratis, hal ini tidak mendorong mereka untuk mandiri, bahkan seakan-akan memanjakan serta tidak mendorong mereka untuk mengembangkan diri. Bantuan ini berjangka waktu 5 tahun.

Kalau kita lihat SK Menteri Keuangan tentang pembinaan usaha kecil ini, di dalamnya termasuk industri rumah tangga, peternak dan sebagainya. Mereka adalah sasaran pembinaan kami. Dalam melaksanakan pembinaan kepada usaha-usaha yang masih di bawah tingkat kemampuan; secara komersial kami tidak dapat memberikan satu per satu. Misalnya, usaha kecil kita beri Rp. 500 ribu sampai Rp. 1 juta di desa-desa, jaringan kami tidak mungkin menjangkau mereka. Karena jaringan kami tersebar di 70 kantor cabang di kota-kota provinsi atau kantor-kantor cabang induk yang ada di kota provinsi, di situlah domisili usaha yang kami bina. Jadi, pendekatan kami selalu mencari mitra dalam membina. Lembaga lain diajak ikut mengelola mereka dari hari ke hari. Karena itu, kami selalu mengusahakan pola pembinaannya dalam satu kelompok binaan.

Kita bekerjasama dengan suatu lembaga lain membantu kelompok binaan dalam mengelola kegiatan sehari-hari, mungkin segi teknis, termasuk finansial seperti membuat pembukuan. Proyek kami di Blora adalah memberikan bantuan pompa seharga Rp. 3 juta untuk 5 sampai 10 petani. Di sana dinas pertanian setempat membantu kami. Mereka membantu dalam hal penyuluhan pertanian, dan mengumpulkan uangnya. Kami menjanjikan kalau satu kelompok tersebut berhasil, akan ada recycling ke kelompok berikutnya.

Falsafah Lima Jari sebagai Pedoman Kerja

SAYA memimpin Inhutani I belum lama; sebelumnya saya menjabat Direktur Produksi di Perum Perhutani. Di Perhutani memang saya membina industri kecil. Saya sempat menerbitkan buku berjudul “Perum Perhutani Membina Pegelkop Menuju Kemandirian.” Pembinaan yang dilakukan Perhutani dari dulu ternyata sesuai dengan aturan yang berlaku sekarang di sini.

Kalau kita melihat BUMN di bidang kehutanan, sebetulnya berkaitan dengan sumberdaya hutan. Perkembangan pembinaan kita sebetulnya sudah berlangsung sejak lama. Hanya pembinaannya belum terarah, karena hanya didasarkan pada perasaan dan pendekatan kemanusiaan yang merupakan tugas dari BUMN. Dengan SK Menteri Keuangan untuk menyisihkan 1-5% laba BUMN, sejak itu kami menyisihkan 5% laba perusahaan untuk membina usaha kecil. Waktu di Perum Perhutani dulu, dana yang terakumulasi sekitar Rp 6 milyar, sedangkan di Inhutani I memang belum mencapai Rp 1 milyar; malah tahun 1994 hanya sekitar Rp 500 juta. Memang keuntungan Inhutani tidak besar, berbeda dengan Perhutani yang meraih keuntungan lebih banyak.

Pembinaan usaha kecil oleh Inhutani I diilhami modal pembinaan yang saya kembangkan di Perhutani. Arah pembinaannya sesuai dengan arahan pemerintah agar masyarakat mandiri. Kami tidak ingin membina mereka dengan hanya memberi, tetapi harus menghasilkan motivasi. Tatkala di Perhutani kita membantu bahan baku kepada pengusaha kecil karena memang mereka lemah di segi itu, dan kemudahan pemasaran. Bekerjasama dengan Departemen Perindustrian kita mengadakan pelatihan. Selanjutnya bukan hanya usaha-usaha kecil di sekitar hutan, kami juga membantu pengusaha kecil di kota-kota, dalam arti, tidak terbatas pada kegiatan kehutanan bahkan sampai kepada soal pembuatan tempe-tahu dan sebagainya.

Malah kami membantu usaha kecil bidang tambak ikan di Sulawesi.

Saya sering berkeliling ke daerah dan mengamati kegiatan mereka. Kenapa demikian? Falsafah kerja saya adalah lima jari. Ibu jari tangan sebagai “pemimpin” dan kelingking sebagai “rakyat” dan tiga jari lainnya sebagai “pembantu.” Kelingking adalah personifikasi orang kecil; dia tidak akan mampu menggapai ibujari, yang ibarat seorang pemimpin. Tetapi ibujarilah yang mampu mencapai kelingking. Jadi pimpinan harus mendatangi mereka. Kalau sampai ada orang golongan kecil datang ke pada saya, hati tergugah sekali dan saya harus menyediakan waktu. Dia betul-betul sudah berupaya keras untuk dapat berjumpa. Ternyata banyak orang kecil datang kepada saya. Seorang pengusaha genteng kecil-kecilan dari Tegal datang, dan kami bantu Rp 5 juta berupa pinjaman.

Karena yang dikelola adalah uang negara, kami harus selektif memberikan bantuan. Menurut data 76% pengusaha kecil berada di Pulau Jawa, selebihnya di luar Jawa. Dari semua pengusaha kecil yang paling miskin adalah mereka yang berada di sekitar hutan.

Sebagian besar masalah kehutanan adalah masalah manusia. Kalau kita tidak mendekati mereka, saya yakin hutan Indonesia akan rusak. Salah satu usaha melestarikan hutan adalah dengan cara membantu mereka, agar mereka menjadi mandiri sebagai pengusaha kecil dan dapat menjaga hutan. Itulah wawasan kita terhadap lingkungan hidup.

Hutan Sosial

Sebetulnya hutan adalah lingkungan. Waktu pertama kali saya masuk bidang kehutanan, saya berpikir, bahwa hutan ini adalah tempatnya binatang buas. Sebenarnya hutan adalah lingkungan hidup. Hutan tidak akan lestari tanpa manusia karena yang merusak hutan itu adalah manusia.

Manusia yang merusak hutan itu ada beberapa kategori. Pertama, manusia yang punya uang dengan menggunakan manusia yang tidak punya uang. Orang yang tidak punya uang umumnya hidup di sekitar hutan. Tetapi ada orang yang menjadi kaya karena mengambil hasil hutan begitu saja tanpa mengembalikan ke hutan. Bagi BUMN yang bukan perusahaan pribadi tetapi perusahaan milik rakyat, kita berpikir untuk rakyat. Waktu saya ditugasi menanam hutan di Timor, NTT dan NTB –daerah miskin –untuk bisa berhasil, hutan tersebut harus dipagar agar tidak dirusak ternak. Di dalam hutan ditanami jagung dan rumput. Tapi di luar areal hutan ternak tidak mempunyai sumber makanan. Berarti kita membangun tetapi masyarakat sekitarnya tidak bisa makan. Karena itu setiap kita membangun hutan seribu hektar kita sisakan 5-10% areal itu untuk ditanami bagi pengembangan peternakan. Selain dia dapat hidup, kotoran ternaknya dapat dijadikan pupuk. Ide saya ini sekarang menjadi pola pengembangan peternakan di sana dan mereka mendapat bantuan Rp 50 juta setiap lokasi. Jadi idenya adalah berpikir dengan melihat kondisi.

Program Ini demi Pemerataan

DALAM kegiatan pembinaan terkadang pengusaha kecil, prosesnya hampir sama dengan proses perbankan. Ada mekanisme pengajuan proposal, pernyataan calon, dan sebagainya. Hanya saja persyaratan kami untuk bantuan itu lebih lunak. Bila seorang pengusaha kecil mengajukan permintaan bantuan dan kami setuju, dalam hal ini persetujuan direksi sebagai penanggung jawab, selanjutnya proses pencairan dana dilakukan melalui Giro. Indosat dalam menyalurkan dana tidak pernah berbentuk tunai. Hal ini untuk menjaga keamanan. Indosat sendiri aman, dan penerima bantuan juga aman.

Pada awalnya memang tidak ada divisi Bina Mitra Indosat. Dahulu hanya dititipkan pada unit pengembangan jasa, di bawah salah seorang direktur. Dulu kami sedang mencari-cari bentuk. Di dalam SK Menteri Keuangan sendiri juga tidak ada petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis. Setelah dirasakan sistem itu tidak memadai lagi, pada tahun 1992 dibentuk Divisi Bina Mitra Indosat. Pembentukan divisi ini didasarkan pertimbangan bahwa pembinaan usaha kecil bukanlah pekerjaan yang gampang sehingga diperlukan divisi khusus menanganinya.

Divisi ini tetap dalam kendali pihak direksi. Waktu pertama kali berdiri, sifatnya pasif, sehingga dari target pada tahun 1992 sebesar Rp 2,3 milyar, karena tidak ada polanya, hasilnya tidak karuan. Kita hanya dapat menyalurkan Rp 24 juta pada semester pertama. Dalam melakukan pembinaan ini kami mengalami kesulitan. Dulu, mencari mitra binaan saja susah sekali. Kesulitannya antara lain karena Indosat hanya punya kantor di Jakarta, Medan, Jatiluhur, dan Surabaya. Tapi dari Departemen fungsional ternyata juga terasa kurang bergerak karena belum memahami SK Menteri Keuangan No. 1232 yang diperbaharui.

Saya pernah diundang oleh sebuah BUMN yang mengumpulkan koperasi-koperasi dan pengusaha kecil untuk dibantu dana Rp 5 juta kepada masing-masing kelompok. Kok begitu caranya? Kalau cuma membagi-bagikan uang saja, apa susahnya? Saya kemudian mempelajari kembali makna Surat Keputusan Menteri Keuangan, GBHN dan pidato Kepala Negara. Saya simpulkan, pembinaan ini diarahkan bagi kegiatan masyarakat yang bertujuan melakukan usaha ekonomi produktif guna meningkatkan kemandirian mereka. Kebijaksanaan kami, bantuan itu akan memacu kegiatan ekonomi dan bersifat pinjaman. Hibah bisa diberikan kalau untuk kebutuhan pengembangan pengetahuan seperti training. Misalnya, ikut training di perusahaan dan mereka meminta tas -tas adalah bagian dari training– walaupun sebenarnya tidak perlu sekali, namun kami bantu.

Setelah kami kembangkan, kami mendapatkan formulanya, –tadinya kita berpegang dari beberapa aturan– kita cetak formulir-formulir yang memudahkan mereka dan memudahkan kami untuk melakukan analisis. Mungkin berbeda dengan BUMN lain, kami menandatangani perjanjian kerjasama pembiayaan. Artinya, kami memperjanjikan dengan mereka, bahwa kami bersedia membina mereka dengan bantuan sejumlah dana berdasarkan persyaratan-persyaratan. Salah satu tujuan atau obyek pembinaan adalah untuk meningkatkan usaha-usaha yang menunjang misi dan tugas Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi. Dulu berorientasi produk kerajinan. Cinderamata, merupakan bagian dari sapta pesona yang mendukung pariwisata. Apapun juga gift itu memperkaya pariwisata. Tujuan pembinaan lainnya mengarah pada kegiatan-kegiatan usaha yang mendukung program pemerintah. Peningkatan ekspor adalah program yang kami bantu. Jadi kalau usaha kecil itu mempunyai potensi untuk ekspor, pasti kami bantu. Karena kami membina kelompok usaha yang butuh bantuan, maka jumlah dana binaan kami bervariasi. Ada yang nilainya Rp 500 ribu, adapula Rp 100 juta, bahkan ada yang mencapai Rp 250 juta.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan