Pengantar
Tidak dapat dibayangkan ada suatu masyarakat tanpa pemimpin. Ia selalu ada dalam setiap bentuk pengelompokan sosial manusia, baik pada tingkat organisasi yang kecil sampai kepada tingkat negara. Sering dikatakan bahwa pemimpin adalah personifikasi dari kelompok yang dipimpinnya. Namun kepemimpinan dalam suatu masyarakat tidak dapat dipahami tanpa mengaitkannya dengan kekuasaan. “Pemimpin” hampir selalu identik dengan “penguasa”. Pada gilirannya dikatakan bahwa suatu corak kepemimpinan tertentu ditentukan atau merupakan refleksi dari suatu struktur kekuasaan tertentu. Sebaliknya bisa juga dikatakan bahwa pada saat yang sama suatu corak kepemimpinan tertentu ikut mengukuhkan struktur kekuasaan tertentu. Pertanyaan bagi kita ialah, corak kepemimpinan seperti apa yang ada sekarang ini dan ia merupakan refleksi dari struktur kekuasaan seperti apa. Jawabannya memang tidak mudah. Namun demikian, dalam “Dialog” kali ini kami mencoba menampilkan beberapa aspek dari masalah kepemimpinan itu yang merupakan rekaman pendapat dari beberapa orang dengan latar belakang dan posisi sosial yang berbeda. Mereka adalah A. Rahman Tolleng, bekas anggota DPR dan kini berbicara sebagai pengamat sosial; Prof. Dr. Nugroho Notosusanto, rektor Universitas Indonesia; Abdul Madjid, bekas anggota DPR dari Fraksi PDI; Laksamana Madya TNI-AL Prasodjo Mahdi, Komandan Jenderal SESKO-ABRI dan Roeslan Abdulganiyang pernah beberapa kali menjadi menteri dan kini adalah Ketua Team P7. Mereka masing-masing melihat masalah kepemimpinan ini dari aspek yang berbeda-beda. Redaksi.
Otoriterisme Birokratis Melahirkan “Pemimpin Mengambang”, A. Rahman Tolleng, pengamat dan bekas anggota DPR-RI. Kalau menggunakan dikotomi Herbert Feith mengenai kepemimpnan yang terdapat dalam bukunya “The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia”, yaitu “solidarity maker” di satu pihak dan “administrator” di pihak lain, sepintas lalu memang timbul kesan bahwa di alam Orde Baru sekarang ini yang tampil ke depan adalah tipe “administrator”. Seperti diketahui, Feith dalam bukunya yang terkenal itu, memberi ciri “solidarity maker” sebagai pemimpin-pemimpin yang memiliki kecakapan sebagai organisator massa, sebagai manipulator simbol-simbol yang memadukan, sebagai tukang propaganda dan agitasi yang lihai, sementara “administrator” dimaksudkan pemimpin-pemimpin yang memiliki keterampilan teknis dan administratif yang diperlukan untuk menjalankan aparatur-aparatur dalam suatu negara moderen, dan karena itu sikap jiwanya tertuju pada “problem solving”.

Universitas Bukan Tempat Mendidik Pemimpin, Nugroho Notosusanto, Rektor Universitas Indonesia

Krisis Kepemimpinan Demokratis, Abdul Madjid, bekas anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia.

Nilai Intrinsik dalam ABRI Tetap Dipelihara, Prasodjo Mahdi, Laksamana Madya TNI-AL, Komandan Jenderal SESKO ABRI.

Kepemimpinan Mengambang, Roeslan Abdulgani, Ketua Team Penasehat Presiden mengenai Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila.
