Prisma

Dialog: Hubungan Antargolongan dalam Masyarakat Orde Baru

Pengantar

PERGANTIAN politik pada tahun 1966 yang kemudian diikuti dengan proses pembangunan ekonomi telah membawa perubahan dalam pola dan masalah hubungan antargolongan di Indonesia. Dominasi politik “aliran” dalam kehidupan masyarakat, khususnya di pedesaan Jawa, sedikit banyak telah tergeser oleh deru mesin pembangunan yang mengandaikan pertimbangan fungsional sebagai dasar hubungan antargolongan. Apa yang telah terjadi dalam masyarakat desa selama hampir dua puluh lima tahun terakhir ini akan coba dijelaskan oleh Kartjono, Direktur Eksekutif Sekretariat Bina Desa. Berdasarkan pengalamannya di tingkat akar rumput, ia mengatakan bahwa institusi-institusi lama di pedesaan tidak lagi berperan, sedang institusi baru belum dapat berfungsi.

Masyarakat perkotaan pada zaman Orde Baru ditandai oleh berkembangnya golongan profesional yang memang sangat dibutuhkan untuk menunjang kegiatan pembangunan ekonomi. Di Jakarta sudah hadir suatu golongan yang lazim disebut yuppie atau young urban professional. Bagaimana sosok mereka, apakah mereka benar-benar layak menyandang predikat itu akan dijawab oleh Nina Sudiono, seorang profesional muda yang sehari-hari bekerja sebagai manajer hubungan masyarakat Mercantile Club.

Peranan golongan keturunan Cina dalam bidang ekonomi jelas menjadi semakin besar pada masa ini. Benarkah mereka menguasai sebagian besar asset swasta di Indonesia serta bagaimana aspirasi politik mereka? Mari Pangestu, seorang pakar dan pengamat ekonomi dari CSIS (Centre for Strategic and International Studies) akan menjawabnya. Redaksi

Integrasi Nasional Perlu Aktualisasi Terus Menerus, Kartjono, Direktur Pelaksana Sekretariat Bina Desa.

PENGALAMAN sejarah masa lalu yang penuh konflik mengakibatkan munculnya semacam obsesi agar hal itu tidak terjadi lagi, akibatnya kemudian muncul anggapan bahwa mempersoalkan adanya konflik adalah tabu, sehingga masalah integrasi cenderung menjadi mitos. Padahal masalah integrasi harus dilihat sebagai realitas dan terus diaktualisasikan, tidak cukup dengan dijadikan slogan atau ikrar saja. Berikrar untuk bersatu tidak otomatis benar-benar bersatu

Mengenal Sosok Yuppie, Nina Sudiono, Manajer Humas Klub Mercantile, Jakarta

SAYA tidak begitu yakin bahwa di Jakarta ada yuppie dalam arti sesungguhnya. Yang kelihatan sehari-hari memenuhi restoran pada waktu makan siang dengan pakaian-pakaian yang in, yang laki-laki pakai dasi, dan yang perempuan pakai blaser belum tentu yuppie. Saya suka bertanya apakah mereka betul-betul yuppie atau hanya pakaiannya? Karena yang sedang menjadi mode adalah sosok seperti itu. Apalagi saat ini penampilan sangat ditekankan, dan sering sekali kita mendengar orang berkata, eh, lu mau pinter kayak apa kalau dandannya nggak bener orang juga nggak nganggep. Barangkali ini juga faktor yang menyebabkan orang kemudian berpenampilan demikian.

Peranan Negara yang Masih tetap Besar, Mari Pangestu, Staf Pengajar FE-UI dan Ekonom CSIS

SAYA tidak melihat fakta yang membuktikan bahwa pembangunan ekonomi selama 20 tahun terakhir ini, mengakibatkan akumulasi modal di kalangan golongan keturunan Cina. Bila ada analisis yang mengatakan bahwa masyarakat keturunan Cina yang jumlahnya hanya 2,1% menguasai 70% modal swasta, maka saya sebagai ekonom masih mempertanyakan konsep modal itu sendiri. Dalam soal pengukuran modal di Indonesia, kelihatannya ini memang masih banyak mengalami masalah.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan