Prisma

Dialog: Ke Desa Menjajakan Surat Kabar

Pengantar

Arus informasi untuk masyarakat desa kini mendapat saluran baru lewat proyek-proyek Koran Masuk Desa (KMD). Beberapa suratkabar daerah diserahi tugas itu, dan pemerintah mengeluarkan subsidi untuk bidang ini. Walaupun dalam program KMD terkandung banyak persoalan, Direktur Jenderal Pembinaan Pers dan Grafika, Departemen Penerangan, Soekarno SH menyatakan, prospek koran masuk desa cukup baik. Dia menghubungkannya dengan tingkat kemakmuran. Kalau keperluan pangan telah terpenuhi, katanya orang akan berusaha memenuhi kebutuhan mental spiritual.

Secara mingguan, Pikiran Rakyat yang terbit di Bandung, Jawa Barat, mengelola Pikiran Rakyat Edisi Ciamis, sebagai koran untuk pedesaan sejak 1972. Djohan Amihardja, pimpinan Pikiran Rakyat Edisi Ciamis itu menyatakan bahwa mereka masih berhadapan dengan daya beli yang rendah dari pembaca. Suratkabar dengan oplah 12 ribu eksemplar itu, untuk sebagian didistribusikan dengan dipikul oleh pejalan kaki. Tetapi, salah seorang petani di daerah Ciamis ini, Hasan (40 tahun) menyatakan jarang membaca suratkabar itu. Dia mengaku tidak mampu membeli. Dan jika harga diturunkan katanya dia akan berpikir dulu, berlangganan atau tidak.

Walaupun demikian, H.J. Djok Mentaya, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi suratkabar Banjarmasin Post, yang terbit di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menyatakan optimis dengan koran masuk desa di daerahnya. Suratkabar yang dipimpinnya dan pada pertengahan 1979 yang lalu masih terbit dalam oplah sekitar 3.500 eksemplar, pada bulan ketiga tahun 1980 ini, menurut dia sudah mencapai 16.500 eksemplar. Distribusinya ke pedesaan Kalimantan Selatan dilakukan dengan 7 unit mobil keliling, 2 speed boat dan satu perahu motor. Koran itu dijajakan dengan menggunakan pengeras suara dan lagu-lagu Melayu sebagai pemikat publik. “Proyek KMD bagi kami bukan barang baru. Sebelum ini harian Banjarmasin Post sudah sampai ke desa-desa,” kata Djok. Redaksi.-

Keinginan pembaca harus dipenuhi, Soekarno, Direktur Jenderal Pembinaan Pers dan Grafika, Departemen Penerangan RI

Televisi adalah sarana paling efektif di antara media yang ada. Radio dan suratkabar berada di bawahnya. Televisi yang bersifat audio-visual menampilkan gambar dan suara secara serentak kepada penerima pesan. Kecepatan dan intensitasnya tinggi sekali.

Kecepatan penyampaian pesan lewat radio juga tinggi. Hanya saja intensitasnya kalah jika dibandingkan dengan televisi, karena radio tidak menampilkan gambar, dan penerimaan siarannya kadang-kadang juga buruk. Sedangkan suratkabar, kalah dalam hal kecepatan penyampaian pesan dibandingkan dengan radio dan televisi. Tapi intensitasnya sangat tinggi, karena ia dibaca dan dapat disimpan.

Dari ketiga media ini televisi lebih efektif. Tanpa usaha pun semua orang bisa menerimanya, anak kecil, orang tua bahkan orang butahuruf sekalipun. Jadi, daya tangkap televisi lebih besar, kedua radio baru suratkabar, mengingat suratkabar memerlukan beberapa persyaratan tertentu, yaitu: usaha, orangnya harus melek huruf, suka membaca dan biasa membaca. Ini memerlukan teknik tersendiri. Tapi kalau syarat ini terpenuhi intensitas koran memang luar biasa, karena isinya lengkap dan bervariasi. Karena itu dalam komunikasi, khususnya untuk daerah pedesaan ketiga-tiganya kita manfaatkan. Masing-masing punya keunggulan dan kelemahan.

Pendengar, bukan pembaca

Sebetulnya masyarakat kita sudah siap menerima televisi dan radio. Karenanya banyak orang mengatakan bahwa masyarakat kita adalah listening society, bukan reading society. Pesan yang disampaikan masing-masing medium punya masalah: teknik penyajian. Penyajian tak semudah yang diduga, sebab harus menjangkau masyarakat majemuk yang memiliki kepentingan bermacam-macam. Kepentingan dan kesenangan orang kota berbeda dengan orang desa. Program siaran/berita harus dapat dicerna dan diterima semua pihak secara berimbang. Untuk memenuhi bermacam-macam keinginan masyarakat itu, kita memerlukan waktu/proses yang panjang. Usaha ke arah itu sudah cukup banyak. Tapi untuk bisa sempurna masih diperlukan waktu yang panjang. Misalnya, ketoprak dan wayang kulit, bisa disiarkan melalui televisi mengingat animo masyarakat desa cukup besar terhadap acara ini.

Koran masuk desa

Harian Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha yang sampai ke daerah-daerah bukanlah dalam program koran masuk desa. Ia tidak dimaksudkan sebagai koran untuk masuk desa. Ini adalah short cut information system, untuk mempercepat penyebaran policy pemerintah agar segera diketahui aparatur di desa-desa tanpa melalui saluran yang berliku-liku.

Koran yang akan masuk desa adalah koran yang diterbitkan di daerah-daerah. Yang ada sekarang adalah koran nasional yang dimasukkan ke desa. Sedangkan koran masuk desa adalah koran khusus untuk konsumsi orang di desa.

Dari dan untuk rakyat desa, Djohan Amihardja, Pimpinan Mingguan Umum Pikiran Rakyat Edisi Ciamis

Program Koran Masuk Desa (KMD) yang sekarang mulai dilaksanakan oleh Pemerintah sebenarnya sudah dimulai oleh Harian Umum Pikiran Rakyat. Sejak tahun 1972, diterbitkan edisi khusus untuk daerah pedesaan dengan nama: Mingguan Umum Pikiran Rakyat Edisi Ciamis, yang kemudian oleh mayarakat Ciamis disebut saja sebagai “Edisi”. Tujuannya sama dengan yang dimaksudkan oleh pemerintah, yaitu untuk meningkatkan arus informasi ke pedesaan, sekaligus merangsang partisipasi masyarakat desa dalam program-program pembangunan yang dilaksanakan pemerintah.

Secara bertahap, suratkabar mingguan ini mulai berkembang memenuhi fungsi atau tujuannya. Dimulai dengan sirkulasi 3 ribu eksemplar pada tahun 1972, kini telah berkembang menjadi 12 ribu eksemplar. Sebagian besar didistribusikan di Kabupaten Ciamis, terutama di desa-desa dan sisanya diedarkan ke daerah-daerah lainnya di Jawa Barat, bahkan beredar juga sampai ke Jakarta. Dengan sistem percetakan offset wajahnya diharapkan akan menjadi semakin baik. Sebagai mingguan, koran ini terbit tiap hari Rabu, dengan rata-rata 3 sampai 5 edisi setiap bulan.

Kebijaksanaan redaksionil, “Edisi” dalam hal menentukan komposisi tulisan adalah dengan memberikan porsi terbesar sebanyak 70 persen bagi berita-berita lokal, terutama yang menyangkut daerah Ciamis sendiri. Ini tentu saja dengan pertimbangan bahwa koran ini akan lebih “dekat” dengan masyarakat Ciamis, sebab kalau tidak, kehadirannya tidak akan berarti apa-apa bagi masyarakat Ciamis, yang berarti juga tujuan penerbitan ini dapat dianggap gagal.

Selain berita-berita lokal, berita-berita dalam negeri (nasional) mendapat bagian 25 persen, sedangkan berita-berita luarnegeri (internasional) sebanyak 5 persen. Komposisi ini tentu saja disesuaikan dengan tujuan penerbitan koran ini, yaitu “dari dan untuk rakyat desa.”

Dalam hal bahasa, kita mencoba mencari keseimbangan antara bahasa Sunda dengan bahasa Indonesia, walaupun sudah tentu untuk menjangkau pembaca yang lebih banyak di kalangan masyarakat desa kita harus lebih banyak memakai bahasa Sunda. Kalau kita menyajikan sebagian besar isinya dalam bahasa daerah (Sunda) secara terus menerus, kita sebenarnya kurang mendidik masyarakat untuk dapat mengerti dan berbahasa Indonesia dengan baik. Jadi secara bertahap masyarakat di pedesaan harus dididik atau dibiasakan untuk mulai belajar, menguasai dan dapat berbahasa Indonesia dengan baik sebagai bahasa nasional. Untuk saat ini, tiga halaman mempergunakan bahasa Indonesia dan satu halaman bahasa Sunda. Dalam hal penyuluhan-penyuluhan bagi rakyat desa yang sebagian besar adalah petani, kita bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis, khususnya dengan Dinas Pertanian, Dinas Penerangan dan Kantor Wilayah Agama setempat, Dinas-dinas inilah yang mengisi secara tetap rubrik-rubrik penyuluhan di koran ini.

Kampanye dan meraba-raba selera public, H.J. Djok Mentaya, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi harian Banjarmasin Post, Banjarmasin, Kalimantan Selatan

Dengan ditandatanganinya kontrak proyek Koran Masuk Desa (KMD) oleh Banjarmasin Post dengan Departemen Penerangan-25 Februari 1980 yang lalu-untuk Banjarmasin Post usaha itu bukanlah sesuatu yang baru. Beberapa bulan sebelum itu hingga sekarang, kami tengah dalam usaha meluaskan pemasaran harian ini ke pelosok-pelosok. Hasilnya sangat menggembirakan. Jika pertengahan tahun 1979 yang silam oplah kami hanya antara 3.500 eksemplar dengan 4 ribu eksemplar, pada awal Maret 1980 ini, oplah tersebut sudah mencapai 16.500 eksemplar. Ia beredar sampai ke desa-desa setiap hari.

Yang kami pikirkan sekarang adalah membedakan isi Edisi Khusus Koran Masuk Desa Banjarmasin Post yang peredarannya juga mencapai pedalaman. Isi Edisi Khusus KMD nomor 1, 2 dan 3-terbit setiap hari Minggu, sejak 2 Maret yang lalu, empat halaman, dengan oplah 7.500 eksemplar-kami rancang setelah memperhatikan selera pembaca harian Banjarmasin Post. Setelah edisi nomor 5 nanti, barangkali dapat dilihat lebih nyata apa yang diingini pembaca edisi pedesaan ini. Dan agaknya mungkin setelah nomor 20 isi Edisi Khusus KMD dapat berbeda jelas dengan isi harian, walaupun kini perbedaan isi itu sudah ada. Sekarang, baik untuk isi harian Banjarmasin Post maupun untuk isi Edisi Khusus KMD kami masih meraba-raba. Untung saja sebagai pilihan isi dalam meraba-raba itu cukup mengena di hati publik, sehingga pelonjakan oplah cukup baik.

Diawali serba kekurangan

Banjarmasin Post yang kini telah sampai ke pelosok-pelosok, pada awal terbitnya tahun 1971 yang silam, dicetak dengan mesin semi otomatis. Walaupun SIT (Surat Izin Terbit) yang dipunyai adalah untuk suratkabar harian, kami waktu itu terbit mingguan. Oplahnya hanya seribu eksemplar. Untung rugi penerbitan tidak jelas, karena yang penting waktu itu Banjarmasin Post harus terbit. Tahun 1972 kami mulai terbit harian, tetapi bukan berarti Banjarmasin Post semakin baik dalam segi usaha. Malah kami semakin anjlog, terutama tahun 1974 dan 1975. Waktu itu Banjarmasin Post dicetak di percetakan lain. Setiap malam, biaya cetak harus dibayar di muka. Menyediakan biaya cetak sekitar Rp 20 ribu setiap hari waktu itu terasa berat. Kalau pembayaran tertunda, kami terpaksa beredar siang hari, karena pencetakan juga tertunda.

Dalam keadaan seperti itu, saya mendapat tawaran dari Jakarta untuk membeli mesin cetak offset. Tawaran itu tak mungkin saya ambil, karena ia bisa dibeli kalau oplah sudah melewati 10 ribu eksemplar. Bank juga tak ada yang percaya dengan saya waktu itu. Kebetulan pada saat itu ada beberapa peralatan percetakan milik Pemda Kalimantan Selatan yang dibeli dari Negeri Belanda tapi tak terpakai. Saya dapat meminjam peralatan itu, antara lain ada plate maker. Kemudian dibeli sebuah mesin offset untuk ukuran cetak double folio. Penjualnya mengatakan, alat itu tak dapat dipakai untuk mencetak suratkabar, tapi saya ambil juga. Agustus 1976 mulailah Banjarmasin Post ukuran tabloid dengan cetak offset. Karena mesinnya kecil, setiap lembar koran yang dicetak harus dilipat dengan tangan, dan harus naik mesin empat kali untuk empat halaman. Teks ditulis dengan mesin tik IBM. Jadi, harus diperkecil dari ukuran sesungguhnya.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan