Pengantar
Pembicaraan tentang kelas menengah tampaknya masih belum sampai pada suatu kesepakatan akan istilah, definisi, ukuran-ukuran dan makna sebenarnya dari konsep kelas menengah. Ada yang mempergunakan istilah “golongan menengah” dan ada pula yang memakai istilah “kelompok menengah”. Pada bidang bisnis sebutan pengusaha kecil, pengusaha menengah dan pengusaha besar lazim dipakai. Karena masyarakat kita agaknya merasa alergi terhadap istilah “kelas”, maka sebutan “kelas menengah” pun terasa kurang bergema di masyarakat.
Apakah ada “kelas menengah” di Indonesia selama ini? Menurut Dr. Saparinah Sadli, seorang psikolog dan Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, kelas menengah itu ada dalam masyarakat Indonesia, tetapi kriterianya tidak sama dengan konsep Barat, yang membagi-bagi struktur masyarakat berdasarkan tingkat penghasilan. Di sini, penghasilan semu seseorang seringkali tidak dihitung, sehingga siapakah sebenarnya yang dapat dikelompokkan sebagai kelas menengah, tampak samar-samar dan bentuknya masih mengambang.
Dari sisi yang berbeda, Sutjipto Wirosardjono, wakil kepala Biro Pusat Statistik (BPS) melihat kelas menengah Indonesia masih berbentuk suatu lapisan tipis. Banyak kelompok orang, meskipun berasal dari golongan berpenghasilan cukup ataupun tokoh-tokoh organisasi masyarakat, tidak dapat dimasukkan ke dalam “kelas menengah” karena tidak memiliki keinginan untuk melakukan perombakan dan perubahan ke arah pembaruan masyarakat. Tetapi ia tidak merasa pesimis. Sebab kendati belum terucapkan secara vokal, pendapat-pendapat dari tokoh lembaga-lembaga swadaya masyarakat sebagai kelas menengah, kini secara batiniyah telah mendapat pengakuan dari lapisan atas.
Dialog Prisma kali ini dengan kedua tokoh tersebut berusaha membuka identitas “kelas menengah” itu lebih gamblang, serta mencari peranan apakah yang dapat dimainkan oleh kelas menengah Indonesia dalam rangka pembaruan dan pembangunan masyarakat.
Redaksi
Kelas Menengah Masih Tersamar dan Terapung, Ny. Saparinah Sadli, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
Konsep “kelas menengah” berasal dari Barat dan berkaitan dengan masalah sosial-ekonomi. Di sana masyarakat dibagi-bagi berdasarkan tingkat pendapatannya ke dalam tiga kelompok: kelas atas, kelas menengah dan kelas bawah. Misalnya mereka yang memperoleh pendapatan dalam jumlah tertentu, digolongkan sebagai kelas menengah.

Memperkuat dan Mempertebal Lapisan Kelas Menengah, Soetjipto Wirosardjono, Wakil Kepala Biro Pusat Statistik (BPS)
Sebenarnya sebutan kelas menengah lebih memiliki konotasi sosial-politik daripada ekonomi. Secara teoritis, kelas menengah itu merupakan motor penggerak terhadap perubahan dan pembaruan, baik di lingkungan dekatnya maupun di tingkat nasional. Mereka diharapkan menjadi faktor yang mendinamisir menuju pertumbuhan sosial (pembangunan sosial). Karena itu kita akan terkecoh bila melihat kelas menengah semata-mata dengan kacamata ekonomi. Dan kalau kita memakai kedua kriteria itu, maka saya melihat lapisan kelas menengah di Indonesia tipis sekali, sehingga peranannya pun menjadi tidak berarti.
