Pengantar USIA akseptor keluarga berencana (KB) kini rata-rata 25 tahun. Pada awal program dulu, usia akseptor rata-rata 35-40 tahun. Berarti, akseptor semakin muda dan itu juga berarti tinggi kemungkinan mereka akan “istirahat” untuk mendapatkan anak lagi.
Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr. H. Haryono Suyono mengatakan, akan diupayakan agar “istirahat” itu tak lebih dari dua kali seumur hidup. “Kita akan melakukan kampanye baru: reproduksi sehat,” katanya. Menurut Haryono, akan dicoba untuk menjelaskan kepada masyarakat segi-segi kehamilan dan melahirkan agar mereka berhati-hati dan melihat peristiwa itu sebagai kehormatan dan dipelihara dengan penuh tanggungjawab.
Selain Dr. Haryono Suyono, tentang program KB dalam “Dialog” kali ini ikut pula bicara Ny. Dapiah, 48 tahun, seorang akseptor dari desa Sarwodadi, Pemalang, Jawa Tengah. Dr. Soeyono Yahya, Direktur Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat, Departemen Kesehatan juga bicara tentang KB dan Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS). Sedangkan Dr. Soedradji dari Rumah Sakit Anak dan Bersalin “Harapan Kita”, Jakarta bicara lebih banyak tentang alat kontrasepsi secara teknis.
“Dialog” kali ini ditutup dengan penjelasan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Emil Salim. Prof. Emil mengetengahkan gagasan “pola pembangunan yang memperhitungkan visi wanita.” Tujuannya ada dua: memanfaatkan tenaga wanita sebagai tenaga produktif dalam pembangunan; dan sekaligus memberikan kesibukan pada kaum ibu, agar kecenderungan untuk hamil dan melahirkan jadi berkurang. Redaksi
Hamil dan Kehamilan dengan Bertanggungjawab, Haryono Suyono, Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).
TEORI perubahan sikap mengatakan bahwa perubahan akan mengantar orang pada perubahan tingkah laku yang rasional. Untuk mendapatkan perubahan tingkah laku yang rasional diperlukan proses yang panjang. Ia merupakan perubahan sikap manusia dalam lingkungannya atau dalam masyarakatnya. Oleh karena itu, kalau kita akan mengadakan rekayasa sosial, maka yang menjadi sasaran tidak saja orang yang bersangkutan, tetapi juga lingkungan di mana yang bersangkutan itu berada, yang berarti kita sekaligus harus membangun subyek-subyek yang ikut mengatur perubahan sikap tersebut.

Minta Rp 100 Ribu untuk 18 Tahun Ikut KB
DAPIAH, wanita 48 tahun, adalah ibu dari sepasang remaja asal desa Sarwodadi, Kecamatan Comal, sekitar 20 km di sebelah tenggara kota Pemalang, Jawa Tengah. Sudah 18 tahun wanita ini ikut program keluarga berencana, memakai spiral, dan sudah pula mendapat piagam penghargaan dari Gubernur Jawa Tengah sebagai peserta KB Lestari 10 tahun. Penjaja batik dari rumah ke rumah di sekitar kecamatan Comal itu, menyatakan lebih baik mengikuti ajakan Bu Sri – bidan Puskesmas yang sering memeriksa spiral Dapiah – daripada mengikuti kata-kata Pak Salum, kyai di dusunnya yang pernah “memfatwakan” bahwa shalat mereka yang memasang spiral, tidak sah.

Mandiri untuk Hidup Sehat dengan Keluarga Berencana, Dr. Soeyono Yahya, Direktur Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat, Departemen Kesehatan RI.
DEPARTEMEN Kesehatan (Depkes) sebagai lembaga yang diserahi tugas membina kesehatan masyarakat, memiliki tujuan meningkatkan kemandirian setiap individu masyarakat Indonesia agar dapat hidup sehat. Kemandirian inilah yang merupakan “tujuan akhir” yang hendak dicapai dalam pembangunan kesehatan bangsa.

Pilih Sterilisasi atau Kondom lalu Gugurkan Kandungan, Dr. Soedradji, Wakil Direktur Kebidanan RSAB Harapan Kita
Tanya (T) : Di Indonesia, sampai akhir Pelita IV, tenyata pil merupakan alat kontrasepsi yang paling banyak dipakai akseptor KB, yaitu sekitar 40,5%, menyusul kemudian IUD 22,3%, suntikan 32,0%, dan metode lainnya sekitar 6,0%. Padahal, konon pemerintah lebih menghendaki pemakaian IUD. Menurut Anda, apakah pilihan masyarakat – pil – tersebut benar atau perlu diperbaiki.
Jawab (J) : Pilihan masyarakat tidak selalu benar secara ilmiah. Pilihan masyarakat itu ditentukan oleh pemahaman akan masalah kontrasepsi itu sendiri.

Pembangunan yang Mempertimbangkan Visi Wanita, Emil Salim, Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup
PENDUDUK Indonesia akan berhenti bertumbuh pada tahun 2030 pada jumlah 230 juta. Ini adalah perkiraan yang dibuat dengan data yang sekarang, dan ia akan jadi kenyataan jika kecenderungan yang ada sekarang ini berlanjut terus. Yang penting kita perhatikan sekarang adalah turunnya tingkat kematian secara tajam. Tingkat kematian 1985 adalah 9,08, dan akan makin kecil pada 1995 – menjadi 7,46 Antara 1965 dan 1987, angka Crude Birth Rate (CDB) ini turun secara tajam lagi, yakni sekitar 60%, sedangkan angka kelahiran turun 32%. Dalam fase sebelum tahun 2000 penurunan tingkat kelahiran akan lebih besar turunnya tingkat kematian. Untuk mencapai CDR 7,46 pada tahun 1995, jumlah wanita usia 15-49 tahun yang tahun 1985 adalah 41,06 juta akan menjadi 52,9 juta. Angkanya naik. Tapi persentase wanita berstatus kawin bisa dikatakan stabil dari 67% (1985) menjadi 66% (1995), tetapi jumlahnya naik dari 27,9 juta (1985) menjadi 35,2 juta (1995). Yang penting di sini adalah, apakah wanita berumur 16-49 tahun dan berstatus kawin itu ikut program keluarga berencana (KB) atau tidak. Jika ini dilihat lewat pasangan usia subur (PUS), maka persentasenya haruslah naik dari 38,5% (1985) menjadi 43,7% (1988) dan naik lagi menjadi 53,7% (1995). Karena dalam sepuluh tahun (1985-1995) persentase PUS peserta KB naik dari 38,5% menjadi 53,7%, dalam jumlah ia harus naik dari 10,7 juta menjadi 18,9 juta. Itu berarti harus ada peningkatan jumlah akseptor KB hampir dua kali lipat. Ini memerlukan ikhtiar besar.
