Prisma

Dialog Khusus: Sisi Pandang yang Lain Tentang Kebudayaan

Tanggapan untuk Prisma “Strategi Kebudayaan”, Maret 1987

Pengantar

PRISMA edisi “Strategi Kebudayaan” yang terbit pada bulan Maret yang lalu, mengundang banyak pendapat dari banyak kalangan. Tampaknya ada beberapa hal penting yang layak diberi catatan. Karena itulah, pendapat yang merupakan tanggapan terhadap edisi “Strategi Kebudayaan” tersebut kami sajikan dalam edisi ini. Ia diketengahkan “Dialog Khusus” — rubrik yang selama ini sebetulnya tidak pernah ada — karena kami menganggap, debat tentang strategi kebudayaan yang tidak pernah selesai itu tetap merangsang banyak pemikiran jika ia kembali dihangatkan.

Sebagian besar dari mereka yang menyajikan pandangannya di sini berasal dari kalangan seniman. Sebagian lagi adalah budayawan dan pemikir, dan juga ilmuwan. Mereka adalah Prof. Sutan Takdir Alisjahbana, Arifin C Noer, Mochtar Lubis, H.B. Jassin, Taufiq Ismail, Ikranagara, Wiratmo Soekito, Sutardji C. Bachri, W.S. Rendra, Abdul Hadi W.M., Kuntowidjojo, dan Sardono W. Kusumo.

Masing-masing orang berbicara dengan persepsi sendiri-sendiri, yang tentu saja akan menambah khazanah tentang makna kebudayaan dan melengkapi informasi serta pemikiran tentang apa serta bagaimana strategi kebudayaan. Segenap pendapat yang disajikan ini dihimpun oleh M. Nasruddin Anshory Ch., seorang penulis muda yang gandrung akan masalah ini. Kesimpulan semuanya itu, tulis Nasruddin, adalah, mendekati kompleksitas masalah kebudayaan dari tinjauan yang berbeda-beda, ternyata dapat menunjukkan kelemahan-kelemahan di bidang kebudayaan pada berbagai sektor, sehingga menjadi kendala dan mengakibatkan terhambatnya pelaksanaan program dan rekayasa kebudayaan.Walau begitu, secara keseluruhan, aneka gagasan yang tersaji dalam “Dialog Khusus” ini dapat memberikan sumbangan pengertian untuk masalah kebudayaan. Pemikiran dan argumen yang dikemukakan di sini memang tidak menunjukkan suatu kepaduan yang bulat dalam pendekatan. Bagaimanapun, perbedaan adalah sesuatu yang tidak mungkin ditiadakan, dan ia adalah sesuatu yang sangat lumrah adanya. Redaksi

Birokrasi, Suatu Hambatan, H.B. Jassin, kritikus sastera.

KALAU saya pernah menulis buku yang berjudul Sastra Indonesia sebagai warga Sastra Dunia, maka dalam strategi kebudayaan pun obsesi saya juga begitu, yakni menjadikan kebudayaan Indonesia sebagai warga kebudayaan dunia. Sekarang yang saya lihat dari kebudayaan kita, masih terasa platonis sifatnya. Pendekatan-pendekatannya cenderung sebagai obyek. Misalnya saja dalam sastera, seni, begitu juga dalam bahasa. Masyarakat kita, yang terasa membahayakan bagi kebudayaan, adalah selera sastera dan keseniannya yang rusak. Lalu bagaimana kebudayaan bisa berkembang kalau begitu?

Strategi Keseimbangan, W.S. Rendra, dramawan, penyair.

STRATEGI kebudayaan kita adalah strategi keseimbangan. Memasuki dunia moderen yaitu dunia sains, kita seharusnya menggunakan penalaran obyektif dalam kebudayaan, baik dalam berpikir, bersikap, maupun ketika kita melakukan kreativitas yang saya lihat selama ini, penalaran kita cenderung masih subyektif. Contohnya, masih begitu banyak pengandaian tentang semangat ini semangat itu, dan juga kebulatan tekad. Itu kan strategi kebudayaan warisan kolonial. Kebudayaan macam apa itu?

Mendorong Perkembangan Daya, Ikranagara, dramawan.

SAYA melihat apa yang dimaksud dengan kebudayaan itu sebagai suatu sistem yang berkembang dari sistem survival kita, yakni manusia sebagai makhluk yang melakukan evolusi. Misalnya saja kita tidak perlu harus memanjangkan leher kita seperti jerapah untuk mendapatkan makanan yang tinggi letaknya. Kalau jerapah atau hewan-hewan lain itu ditentukan oleh alam itu sendiri. tidak, begitu homo sapiens, itu lahir, dengan kesadaran kemanusiaannya tentu saja, dia menjadi suatu makhluk yang justeru akan memperalat atau menguasai alam itu sendiri. Untuk mendapatkan makanan-makanan yang tinggi letaknya, manusia menebang bambu untuk dijadikan tangga. Di sinilah saya kira prinsip kebudayaan itu, yakni yang membedakan manusia dengan hewan. Oleh karena itu, inti dari kebudayaan kita adalah survival kita, sebagai suatu komunitas yang namanya manusia.

Kekuatan yang Mandiri, Danarto, penyair.

SETIAP orang jadi unggulan dirinya sendiri, memang dia hasil bentukan yang mandiri. Ketika “Tukang Gerabah” berkenan turun tangan sendiri, dengan tanah liat, Dia membentuk, ditiupkan ruh-Nya ke dalamnya, maka apa yang disebut manusia itu lalu bergerak. Ia memikul tanggung jawabnya sendiri, menghadap Tuhan secara diri-sendiri pula. Diajarkannya berbagai macam nama, dikaruniaNya berbagai perangkat untuk menampung sejumlah ilmu pengetahuan, ia menjadi barang ciptaan yang bahkan malaikat pun sujud kepadanya.

Kebudayaan dan Strateginya Selalu dalam Proses, Sutardji Calzoum Bachri, penyair.

DALAM edisi Maret 1987 lalu, Prisma mencoba menyodorkan pemikiran tentang strategi kebudayaan, dengan mengambil tema “Strategi Kebudayaan: Mencari yang Lebih Tepat”. Dalam tulisannya “Berpikir Strategis tentang Kebudayaan”, editor tamu Ignas Kleden lebih menekankan perlunya suatu strategi kebudayaan yang menyeluruh (holistik), dibandingkan dengan strategi yang sektoral sifatnya. “Suatu strategi kebudayaan barangkali tidak akan terwujud, dan sangat sulit dipikirkan, kalau pandangan kita tentang kebudayaan tetap bersifat sektoral, dan bukannya suatu pandangan yang lebih holistik sifatnya”, tulis Ignas Kleden.

“Kampung Tauhid”, Taufiq Ismail, penyair

SAYA merindukan “kampung tauhid”. Sebuah kampung besar, sebuah negeri tauhid. Setumpuk tanah, bertinggi berendah, di antaranya banyak air yang mengalir ke utara ke selatan dan yang bersibak ombak timur dan barat. Buminya gembur di atas dan padat di bawah. Gembur karena diharu cacing dan zat-zat kimia berguna, padat karena sesak oleh mineral keras atau cair yang berjuta-juta tahun ditugaskan Tuhan menjadi gudang pendapatan tersembunyi.

Memerangi Kebodohan dan Membangkitkan Harga Diri, Arifin C. Noer, Sutradara filem, dramawan.

KESEPAKATAN sekian sukubangsa di wilayah Hindia Belanda 28 Oktober 1928 pada hakekatnya suatu ikrar revolusi besar yang simultan sifatnya, yang sampai hari ini masih terus berlangsung. Semangatnya adalah semangat pembebasan manusia. Semangatnya adalah semangat kemandirian untuk menjadi Indonesia. Ada tiga pokok pikiran dasar, setidak-tidaknya, yang selalu mengganggu saya setiap kali menyebut Indonesia, sebagai bangsa dan kebudayaan baru, yang fenomenal sangat penting dalam abad XX ini.

Kebebasan dan Suasana Kreatif, Abdul Hadi W.M., penyair

PRISMA edisi Maret 1987, menampilkan topik “Strategi Kebudayaan: Mencari yang Lebih Tepat”, dan saya akan memberi tanggapan. Menurut hemat saya, sungguh sulit memikirkan masalah yang lintas sektoral ini, karena masalah lintas sektoral itu sendiri belum terpecahkan. Di samping itu kita sedang menghadapi masyarakat yang bukan main majemuknya. Saya ingat pada apa yang diucapkan Ali Ahmad Said, seorang penyair Palestina, yang saya kira ungkapannya tepat; “Bumi kita sekarang adalah bumi pertentangan-pertentangan. Kita menganjurkan kemerdekaan, akan tetapi tidak melaksanakannya. Kita melepaskan diri dari perbudakan lahir, untuk jatuh kembali pada perbudakan jiwa dan batin.”

Berangkat dari Kenyataan yang ada Sekarang, Sutan Takdir Alisjahbana, budayawan, sasterawan.

DALAM melihat kebudayaan pada hakekatnya pendirian saya tidak berubah sejak zaman Pujangga Baru, sejak berlangsung pertama kali polemik kebudayaan itu. Saya melihat struktur baru yang ditimbulkan oleh kehidupan budi manusia itulah yang dinamakan budi atau kebudayaan. Hubungan antara budi dan budidaya ini membuat filsafat budi dan kebudayaan, yaitu filsafat Indonesia secara utuh. Dalam bahasa Inggeris tidak ada hubungan antara budi, yaitu mind dan culture. Sebab itulah maka definisi kebudayaan dalam bahasa Inggeris sangat kabur, malahan kacau. Culture sering didefinisikan sebagai way of life dan merupakan fenomena masyarakat, sehingga, ilmu-ilmu tentang tingkah laku manusia sebagai makhluk yang berbudi kemudian disebut ilmu sosial. Kalau masyarakat yang melakukan dan menentukan kebudayaan, tentulah hewan juga harus berkebudayaan, sebab hewan juga bisa bermasyarakat. Juga hewan memiliki cara hidup, tapi tidak memiliki kebudayaan. no, jelas, pengertian culture ini lebih kacau lagi apabila kita ingat, bahwa Arnold Toynbee hanya memakai perkataan civization. Perkataan culture hanya teruntuk buat kebudayaan-kebudayaan primitif.

Kejelian Melihat Struktur, Mochtar Lubis, budayawan, sastrawan.

STRATEGI kebudayaan kita hendaknya jangan mengada-ada, juga jangan mencari-cari. Yang penting untuk kita pertanyakan adalah, kenapa kebudayaan Indonesia tidak mampu secara kuat tampil di mata internasional. Padahal, dalam sejarah kebudayaan kita, orang Indonesia itu pernah unggul dalam hal ekonomi sebelum orang-orang Eropa datang. Di kawasan Asia Tenggara misalnya, salah seorang pedagang terkemuka di Malaka itu orang dari Indonesia, bahkan dulu, orang Aceh sebelum kedatangan Portugis kuat sekali perekonomiannya. Tapi setelah bangsa Portugis datang keadaannya menjadi lain. Ada monopoli dan lain sebagainya dalam perdagangan. Meski begitu, masih ada satu dua dari saudagar kita yang punya kreativitas cukup besar dalam perdagangan. Dengan cara mendesain kain dan diburuhkannya penenunannya di India. Begitu halus kain-kain tersebut, sehingga orang Inggeris beramai-ramai menirunya.

Bagaimana Agar Independen? Wiratmo Soekito, budayawan

ADA yang ingin saya tanyakan begitu Prisma menurunkan topik tentang strategi kebudayaan; yaitu, apa yang dimaksud dengan strategi? Menurut pengertian saya, strategi itu memiliki dua arti: pertama, sebagai salah satu istilah militer; yang kedua, sebagai suatu istilah politik. Yang menjadi pertanyaan saya, Prisma ini memakai yang mana? Strategi menurut alam pikiran Prisma itu apa? Jadi, harus jelas dulu.

Keterbukaan dan Kreativitas, Kuntowidjojo, sejarawan

DALAM strategi kebudayaan, kita harus berbicara dan bersikap dalam arti yang kongkrit. Artinya, kalau kita melihat kebudayaan Indonesia secara luas, terdapat simbol-simbol yang mempunyai dua muatan, yaitu idelogi dan material. Dalam kaitan ideologi misalnya begini: di dalam seni batik, seni teater, seni tari, serta sektor-sektor seni lainnya, di samping ada estetika di sana juga diselipkan suatu ideologi. Dalam seni batik jelas lebih kongkrit lagi. Di sana, di samping yang bersifat material itu, juga terdapat unsur-unsur ideologis yang menjadi motif-motifnya.

Kebudayaan Bahari Belum Muncul, Sardono W. Kusumo, penata tari

TAIFUN lewat di atas Tokyo persis hari pentas kami di belahan kuil Zojoji. Anehnya penonton tetap berduyunduyun datang dengan payung dan mantel plastik. Mereka duduk tak bergeming mengelilingi panggung. Bulu roma kami, para penari, merinding juga. Haruskah penonton lebih intens dari pemain? Sebab, bila pertunjukan ini berlangsung di Indonesia, dan cuaca seperti ini, pertunjukan pasti dibatalkan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan