Prisma

Dialog: Masalah Desa, Masalah Kritis

Pengantar

Desa yang indah hanya tinggal dalam kenangan para pelancong dan dalam sanjak para penyair, karena desa sudah tidak lagi setenang sanjaknya. Desa tengah berada dalam suatu gejolak, yaitu gejolak yang diciptakan oleh perubahan sosial ekonomis dan oleh harapan-harapan yang menyertainya. Desa harus dibangun, tetapi membangun desa bukanlah membangun harapan. Karena itu masalah dasar dari mana dan ke mana perubahan desa masih layak dipertanyakan lagi. Apakah desa harus dibungkus rapat-rapat dan tinggal sebagaimana adanya? Ataukah setiap jenis perubahan sesuai bagi setiap desa? Pilihan tidaklah mudah. Karena itu dua kalangan diundang untuk mengungkapkan pendapatnya. Para peneliti senantiasa menemukan ketidakberesan di desa. Soalnya adalah bagaimana menyelesaikannya? Para praktisi mencoba mengambil salah satu jalan dalam jangkauannya dan mengerjakannya. Tetapi masalah tidaklah berhenti di sana. Gabungan pendapat para peneliti: Benjamin White, Dibyo Prabowo, Rudolf Sinaga dan para praktisi: Y. B. Mangunwijaya, Anton Soedjarwo mungkin bisa memperjelas duduk soalnya. Kalau itu tercapai di sanalah sumbangan “Dialog” kita kali ini.

Desa jangan dijadikan daerah belakang, Y.B. Mangunwijaya, Pendeta Desa Salam, Muntilan

Teori-teori pembangunan ekonomi selalu mengandalkan dirinya pada sesuatu pengandaian (asumsi), seraya mengabaikan pengandaian lainnya. Misalnya, pengandaian bahwa ekonomi adalah suatu organisme yang utuh. Padahal tidak begitu. Ekonomi orang kecil, orang miskin atau orang desa memiliki pola-pola atau hukum-hukum yang berbeda dengan pola-pola atau hukum-hukum ekonomi kota yang berciri ekonomi moneter, seperti halnya perbankan dan jasa-jasa.

Secara sederhana dapat saya kemukakan adanya dua lapisan dalam masyarakat kita. Masyarakat kota sebagai lapisan atas dan masyarakat desa sebagai lapisan bawah. Ahli-ahli ekonomi kita selalu mengandaikannya sama. Biasanya, lapisan bawah harus mengikuti sistem ekonomi lapisan atas.

Pemerintah dan ahli-ahli ekonomi kita misalnya, selalu menganjurkan agar orang desa tetap tinggal di desa, karena desa adalah tulang punggung pembangunan. Sedangkan orang desa berpendapat, nasib mereka tidak akan berubah kalau tetap tinggal di desa. Mereka menganjurkan anak-anaknya pergi ke kota. Pemerintah bingung. Ibukota ditutup, sementara itu terus diperindah. Televisi menyiarkan pembangunan desa, sambil menjajakan barang-barang kelontong mewah dan menggoda, yang tidak akan pernah dicapai orang desa.

Pola-pola pemikiran pemerintah dan ahli ekonomi ini dapat dipahami berdasarkan pengandaian yang saya kemukakan tadi. Mereka melihat desa sebagai sumber produksi. Orang desa diusahakan tetap tinggal di desa. Mereka perlu dirangsang untuk bekerja seproduktif mungkin agar hasil produksi selalu meningkat. Untuk itu mereka diberi subsidi, bimbingan, penyuluhan, dan sebagainya.

Diskriminasi Kebijaksanaan untuk Memerangi Kemiskinan di Desa, Dibyo Prabowo, Dosen Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta

Teorinya begini. Di dalam pertumbuhan ekonomi diusahakan ada keseimbangan antara kota (urban) yang diasosiasikan dengan sektor industri dan jasa-jasa, dan desa yang ditafsirkan dengan sektor pertanian. Di dalam pertumbuhan yang seimbang ini diharapkan sektor pertanian dapat menyumbang pertumbuhan yang cukup tinggi sehingga hasilnya bisa diinvestasikan kepada sektor industri. Bahwa pemerintah sekarang mempraktekkan teori itu-disengaja atau tidak-jelas kelihatan. Tetapi, dalam melaksanakan pembangunan desa pemerintah tampaknya lebih menitik beratkan pada produksi pangan. Hal ini pun dapat dipahami mengingat kita belum berhasil memenuhi tiga kebutuhan pokok utama, yaitu pangan, pakaian dan perumahan. Karena pangan dianggap persoalan paling mendesak, maka dimulailah dari pangan.

Perubahan di desa, selalu sulit dikendalikan, Benjamin White, Staf Ahli Agricultural Development Council (ADC) yang diperbantukan pada Survei Agro Ekonomi, Bogor

Selama 10 tahun terakhir ini banyak terjadi perubahan sosial, ekonomi dan politik di pedesaan Indonesia, yang dapat kita pelajari lewat hasil penelitian. Ekonomi komersiil yang masuk ke pedesaan adalah salah satu pembawa perubahan itu. Dan kini telah muncul suatu elite desa yang memiliki gaya hidup tersendiri; Rumah Mewah, Televisi Ataupun Sepeda Motor. Malah ada pula yang memiliki mobil. Di samping mereka ini, kita jumpai pula suatu golongan besar yang terdiri dari petani sempit dan mereka yang tidak memiliki tanah. Tingkat hidup golongan yang besar ini belum mengalami perbaikan. Dan malah mungkin mengalami kemunduran. Saya sampai pada kesimpulan ini lewat penelitian studi kasus, tetapi juga didukung oleh data tingkat nasional dari Susenas, dan juga lewat penelitian terhadap tingkat upah yang tidak mengalami kenaikan di samping menurunnya kesempatan kerja bagi buruhtani.

Dicari orang-orang yang mau berkotor tangan, Anton Soedjarwo, Ketua Yayasan Dian Desa, Yogyakarta

Dalam meneliti kebutuhan masyarakat desa, penyusunan prioritas-prioritas tentu menolong. Tetapi kebutuhan masyarakat desa itu demikian banyak dan kompleks sifatnya. Sehingga seakan-akan semua kebutuhan itu perlu mendapat prioritas yang sama. Sebagai praktisi yang belajar ilmu teknik, saya dan kawan-kawan mencoba membantu masyarakat desa itu dengan mengambil salah satu kebutuhan riil mereka; dan kami mulai dengan mengintrodusir suatu teknologi air minum yang sangat sederhana. Sebab, bila kita ingin menggerakkan masyarakat desa barangkali soal yang utama adalah bagaimana kita mencari orang-orang yang mau berkotor tangan. Pengalaman pribadi saya dalam membantu menggerakkan masyarakat desa tidaklah dengan membawa berbagai-bagai teori. Saya dan teman-teman bekerjasama dengan berbagai instansi dan kemudian datang ke desa-desa dengan pikiran yang masih dalam bentuk kira-kira. Melalui hubungan pribadi yang dicoba menjalinnya dengan masyarakat desa, terbentuklah hubungan persaudaraan.

Persoalan-persoalan dideteksi lewat hubungan persaudaraan ini, bukan melalui teori-teori atau indikator-indikator. Anugerah Tuhan berupa perasaan pada zaman sekarang kadang-kadang kita lupakan, kita berusaha membuat segala macam rencana secara keseluruhan dan matematis yang mentereng kelihatannya. Tetapi dengan turun ke lapangan dan dikuatkan dengan perasaan, kita lebih berhasil melihat persoalan-persoalan masyarakat desa dan tahap-tahap serta kelanjutan pekerjaan yang harus diselenggarakan. Jadi yang penting adalah kajian di lapangan.

Penggunaan Inpres Desa; ajaklah masyarakat bicara, Rudolf Sinaga, Pimpinan proyek Studi Dinamika Pedesaan, Bogor.

Pengamatan saya tentang program Inpres sekarang ini sebetulnya agak terbatas. Tetapi dari kesan selintas itu, saya berpendapat bahwa program yang sudah tentu maksudnya bagus itu, dalam implementasinya perlu diperbaiki oleh instansi-instansi yang menanganinya. Dalam menentukannya, masyarakat setempat hendaknya diajak bicara. Begitu juga dengan bantuan Inpres untuk desa sebesar Rp 350 ribu. Dalam menentukan penggunaannya di desa, masyarakat desa sering tidak diajak bicara. Ia masih ditentukan oleh golongan-golongan tertentu di desa itu. Formalitas mengajak masyarakat berbicara ada, tetapi hanya untuk pamong dan kelompok elite desa saja. Biasanya keputusan yang mereka ambil selalu berdasarkan keuntungan bagi kehidupan mereka. Padahal di desa ada golongan lain yang justru jumlahnya lebih besar. Dari sini biasanya kita mengatakan, bahwa partisipasi masyarakat kurang. Dan menurut saya, wajarlah partisipasi itu kurang, karena masyarakat desa tak dapat melihat apa yang bisa mereka manfaatkan. Saya berpendapat, demokrasi di tingkat atas tidak begitu relevan bagi masyarakat desa. Yang penting adalah demokrasi di tingkat desa itu sendiri, dan di situlah hendaknya demokrasi itu dibina. Jadi, segala sesuatu yang masuk desa, baik bantuan penyuluhan ataupun uang di saat masyarakat belum memiliki cara hidup yang demokratis-belum ada kontrol sosial-dikhawatirkan hanya akan memperlebar jurang di antara mereka. Apapun yang akan disampaikan pemerintah, hanya akan mengarah kepada elite itu tadi, karena receiving mechanism dan delivery mechanism masih sedemikian rupa.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan