Prisma

Dialog: Memahami Petani Secara Rasional

Pengantar

PERDEBATAN Samuel Popkin dan James Scott tentang Petani di Asia Tenggara sudah banyak dibicarakan orang. Popkin dengan bukunya The Rational Peasant mengambil kasus kehidupan petani di Vietnam, sedangkan James Scott dalam bukunya The Moral Economy of the Peasant, banyak membicarakan kasus di Birma. The Rational Peasant banyak disebut orang sebagai anti-dote terhadap karya Scott yang mengambil pendekatan ekonomi moral untuk memahami persoalan-persoalan para petani. Scott menyatakan bahwa petani menganut gaya hidup gotong royong, tolong menolong dan melihat persoalan sebagai persoalan yang kolektif. Sikap ini disebabkan karena struktur kehidupan petani yang terjepit, dan harus menyelamatkan diri. Selain itu, para petani juga menganut asas pemerataan, dengan pengertian membagikan secara sama rata apa yang terdapat di desa, karena mereka percaya pada hak moral para petani untuk dapat hidup secara cukup. Karena itu dikenallah sistem bagi-hasil, selamatan yang dilakukan oleh petani kaya sebagai tanda membagi rezeki dengan komunitas desa. Intensifikasi pertanian, komersialisasi hasil-hasil agraria dianggap sebagai ancaman oleh para petani.

Popkin membantah pendapat ini dengan mengemukakan bahwa yang berperan terhadap perubahan-perubahan di desa bukanlah kolektivitas penghuni desa, melainkan pribadi para petani itu sendiri. Popkin berpendapat bahwa Scott terlalu meromantisir aspek kehidupan gotong royong dan hubungan antara patron client. Ia menunjukkan adanya free-riders di desa yaitu orang-orang yang tidak mau bekerja sama tetapi menikmati hasil-hasil kerja kolektif itu. Dan sistem bagi hasil, menurut Popkin, lebih disebabkan karena keengganan pemilik tanah untuk membiarkan petani menjual hasilnya sendiri ke pasar.

Beberapa waktu yang lalu Samuel Popkin berkunjung ke Jakarta dan membicarakan bukunya di hadapan sekelompok cendekiawan di Jakarta dan tokoh-tokoh LSM.

Hadir dalam diskusi tersebut antara lain Taufik Abdullah, Ong Hok Ham, Ignas Kleden, Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, Hans-Dieter Evers, Lance Castles, Ian Chalmers, Vedi Hadiz.

Popkin, dalam diskusi tersebut mengemukakan persetujuannya terhadap Revolusi Hijau. Dalam pandangannya, Revolusi Hijau lebih banyak membawa dampak positif bagi Asia daripada dampak negatif. Ia sama sekali menolak pendapat bahwa Revolusi Hijau menyebabkan petani meninggalkan desa dan menuju kota dan mengakibatkan naiknya pengangguran di kota serta tumbuhnya kelompok miskin di kota. Pendapat semacam ini menurutnya dipengaruhi oleh pemikir Eropa yang sudah lama mati seperti Marx dan Tawney. Lebih jauh lagi ia menyatakan bahwa petani adalah orang-orang yang rasional, mereka seperti halnya kebanyakan orang ingin menjadi kaya. Dan kesempatan ini bisa didapatkan seandainya petani memiliki akses yang lebih leluasa terhadap pasar. Karena itu ia mengajukan suatu pemikiran untuk menghapuskan pengelolaan pemerintah terhadap fasilitas-fasilitas yang menyangkut hidup orang banyak, seperti transportasi, pasar, sehingga petani dapat menjual hasil pertaniannya sendiri ke pasar tanpa perantara.

Pendapat bahwa komersialisasi pertanian akan menyebabkan hanya sebagian orang saja menjadi kaya, ditolak oleh Popkin. Komersialisasi Pertanian akan memperbaiki harkat hidup orang banyak. Dahulu para pemilik tanah melarang petani menjual hasilnya ke pasar karena mereka takut petani akan menguasai pasar, dan hilanglah hubungan petani dan pemilik tanah.

Popkin percaya bahwa bila fasilitas-fasilitas yang selama ini dikelola oleh pemerintah karena menyangkut hidup orang banyak, dibuat lebih terbuka, maka banyak orang akan mendapatkan manfaatnya. Ia sama sekali tidak menyetujui pendapat bahwa dengan dibiarkannya fasilitas tersebut dikomersialisasikan akan ada sebagian orang yang akan terus mendapatkan fasilitas dan menjadi kaya sedangkan sebagian lagi akan terus menerus miskin. Popkin menyatakan bahwa dalam hal ini persoalannya bukanlah jurang antara miskin dan kaya tetapi bagaimana memperbaiki kondisi golongan miskin. Persoalan jurang akan terus menerus ada, dalam sistem pemerintah manapun. Karena itu jauh lebih penting membangun fasilitas-fasilitas yang dapat memperbaiki harkat hidup orang banyak seperti membangun sekolah, membangun rumah sakit, membangun jembatan dan lain-lain, daripada memikirkan bagaimana memperkecil jurang antara kaya dan miskin ataupun mendistribusikan bagian yang lebih banyak kepada semua lapisan masyarakat. Tidak ada suatu sistem sosial-politik manapun yang dapat menjamin pemerataan seperti yang dicita-citakan. Sistem demokrasi-liberal sekalipun hanya berhasil mendistribusikan fasilitas-fasilitas secara geografis dan bukannya secara merata ke semua lapisan masyarakat.

Samuel Popkin adalah associate professor pada University of California, San Diego, untuk bidang ilmu politik. Popkin juga pernah bekerja sebagai konsultan untuk kampanye presiden Amerika Serikat.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan