Prisma

Dialog: Mempertahankan Swasembada Beras

Pengantar

Sejak 1984 Indonesia mencapai swasembada beras. Tetapi sejak itu, tampaknya ada persoalan dalam mempertahankan predikat tersebut. Angka kenaikan produksi beras ternyata menurun terus. Bahkan, sekarang dilaporkan cadangan beras Bulog (Badan Urusan Logistik) telah mencapai titik yang cukup mengkhawatirkan. Akibatnya, terdengar usul agar Bulog diperkenankan lagi untuk mengimpor beras, suatu hal yang akan mengembalikan status Indonesia sebagai negara pengimpor beras. Juga akhir-akhir ini, harga beras di kota-kota besar terus melonjak ke tingkat harga tak dikenal sebelumnya.

Oleh karena itu, berbagai masalah yang timbul dalam upaya mempertahankan swasembada beras, dan swasembada pangan pada umumnya, merupakan masalah yang pantas disoroti. Untuk itu, Prisma mengadakan wawancara dengan Ir. Wardoyo, Menteri Muda Urusan Peningkatan Produksi Pangan; Dr. M. Suparmoko, Dosen FE UGM; dan Prof. Dr. Ir. Soemantri Sastrosoedarjo, Guru Besar UGM.

Dari wawancara tersebut tercermin bahwa upaya ini terbentur pada berbagai persoalan yang cukup pelik. Dari segi produksi saja, dikatakan bahwa untuk mempertahankan swasembada beras, diperlukan kenaikan produksi sebesar 2,4% setahun. Belum lagi masalah teknologi yang melibatkan mekanisasi yang menurut beberapa pihak berdampak negatif terhadap kesempatan kerja di pedesaan. Agaknya, suatu hal yang disepakati adalah bahwa diversifikasi pangan perlu dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada beras. Redaksi

Mengapresiasikan Hasil Petani untuk Mempertahankan Swasembada Pangan, Ir. Wardoyo, Menteri Muda Urusan Peningkatan Produksi Pangan

STRATEGI yang akan kita tempuh dalam mempertahankan swasembada beras adalah memperbaiki mutu intensifikasi di daerah-daerah potensial yang beririgasi baik. Mempertahankan swasembada beras, artinya adalah mempertahankan kenaikan produksi 2,4% setahun.

Masalah Diversifikasi Pangan, Dr. M. Suparmoko, Dosen Fakultas Ekonomi UGM.

DARI ketersediaan bahan pangan, Indonesia yang memiliki banyak makanan pokok, sebetulnya tidak terlalu mengkhawatirkan, termasuk pula persediaan untuk memenuhi kebutuhan gizi, protein dan sebagainya. Sejak 1984, kita sudah mampu berswasembada beras. Persoalan yang harus kita hadapi, adalah bagaimana membuat sistem pendistribusiannya.

Lahan, Pola Makan dan Teknologi, Prof. Dr. Ir. Soemantri Sastrosoedarjo, Guru Besar Fakultas Pertanian UGM.

DALAM dua tahun terakhir ini, Indonesia sudah swasembada beras. Kita sepakat untuk mempertahankan kondisi swasembada pangan ini, karena ia memiliki nilai strategis, di samping nilai ekonomi. Mencapai kondisi seperti itu, sudah barang tentu tak mudah. Yang pasti harus kita tempuh dengan cara yang lebih baik dari yang lalu. Kita tidak boleh berpikir konfensional.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan