Pengantar
Bukan setiap pengusaha adalah seorang wiraswasta. Bukan setiap pedagang adalah wiraswasta. Lantas apakah wiraswasta? Karena setiap orang kini mengatakan bahwa tenaga-tenaga wiraswasta amat dibutuhkan untuk mengangkat masyarakat ini dari tingkat kemiskinan. Wiraswasta adalah ujung tombak menuju kemajuan, sekurang-kurangnya demikianlah pendapat seorang ekonom termashur. Lingkungan jenis manakah yang memungkinkan tumbuhnya para wiraswasta? “Dialog” kali ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar di atas. Doktor Suparman Sumahadijaya, direktur serta pendiri Lembaga Bina Wiraswasta, dianggap sebagai pencetus ide wiraswasta. Apakah wiraswasta dan kewiraswastaan menurut pendapatnya? Pertanyaan yang sama dijawab oleh Rosita Noer, seorang dokter yang berkecimpung dalam pembinaan pengusaha kecil di KADIN, Ch. J. M. Melchers, seorang pastor Katolik di Semarang yang dengan diam-diam selama beberapa tahun telah melakukan penataran bagi orang-orang kecil di pedesaan dan Moch. Sardjan, bekas Menteri Perburuhan RI, yang bersama masyarakat Pondok Pinang berusaha mengembangkan usaha permebelan. Ada kelemahan di sini: masalah kewiraswastaan hanya lah dilihat sepihak oleh para praktisi tanpa didampingi oleh para teoritisi, pengamat atau semacamnya. Namun mungkin juga di sanalah kekuatannya. Bukankah kewiraswastaan adalah sebuah praxis? Redaksi.
Belum ada wiraswasta di Indonesia, Suparman Sumahadijaya, Direktur Lembaga Bina Wiraswasta
Untuk pembangunan suatu negara pada dasarnya dibutuhkan 2% dari jumlah penduduknya yang berjiwa top wiraswasta. Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa di negara-negara yang sudah maju, 2% dari jumlah penduduknya itu adalah top entrepreneurs. Jabilamana kita ingin menandingi kemajuan tersebut kita pun harus memiliki tenaga-tenaga semacam itu.
Kriteria wiraswasta tersebut ialah mereka yang memiliki sifat sebagai “pendekar kemajuan”, cendekia yang mau membaca dan belajar sendiri. Yang dimaksud dengan cendekia di sini bukanlah semata-mata sarjana. Hal ini penting dipahami karena pendidikan yang tertinggi adalah belajar sendiri. Di samping ini mereka juga harus mau merantau, mau memanfaatkan waktunya sebanyak mungkin serta mampu menggunakan alat berpikirnya. Dan saat ini mereka itu belum ada di Indonesia! Yang ada barulah benihnya saja. Karena hal inilah saya berteriak-teriak untuk membikin wiraswasta itu dengan jalan mendidiknya. Menurut pendapat saya merekalah nanti yang akan mampu membangun negeri ini. Sebab bagi saya wiraswasta itu adalah tipe manusia ideal. Merekalah yang akan dapat memberikan teladan, berani mengambil risiko, mau memajukan masyarakatnya dengan meningkatkan efisiensi dan meningkatkan kemahiran berorganisasi, menjadikan dan mendistribusikan barang-barang dan jasa untuk kepentingan masyarakat dengan tunduk pada tertib hukum lingkungannya.

Program pembinaan yang nyata, Rosita Noer, Direktris PT Indra Pardana/Wakil Ketua KADIN BP2K
Bilamana kita ingin meletakkannya secara pragmatis, sebenarnya orang yang dapat disebut wiraswasta itu ialah mereka (baik dari sektor pemerintah maupun sektor swasta) yang dapat mandiri dan memberikan sesuatu kepada masyarakatnya. Hal ini saya kira sudah ada di tengah masyarakat kita. Tetapi jika kriteria wiraswasta tersebut harus merupakan gambaran yang lengkap seperti, berbudi luhur, bersikap mental tertentu dan sebagainya, maka saya kira di negara yang paling maju pun tidak akan kita jumpai. Untuk keperluan mengembangkan mereka memang diperlukan adanya pendidikan kewiraswastaan, dalam pengertian tidak hanya menyangkut masalah pendidikan teknis-konsepsional saja melainkan juga penekanan secara langsung atau tidak langsung terhadap mentalnya. Hanya kesulitannya kadang-kadang kedua hal ini dianggap tidak bisa sejalan. Mana yang harus terlebih dahulu dibina, manusianya atau bidang usahanya.
Para pengamat yang bergerak dalam bidang ini menganggap bahwa yang harus didahulukan adalah pembinaan manusianya. Manusianya itu dulu yang harus dibikin menjadi wiraswasta, sedangkan pendidikan teknis-konsepsional menyusul kemudian. Sehubungan dengan masalah ini ada yang mengatakan bahwa manusia itu sejak lahir telah memiliki sifat dan sikap kewiraswastaan. Namun ada pula yang berpendapat bahwa hal itu bisa dibentuk. Saya condong pada pendapat yang kedua. Sebab bagaimanapun juga, sebenarnya dalam pertumbuhan sifat kewiraswastaan ini pengaruh dari lingkungan sangat menentukan.
Membicarakan masalah pendidikan, terutama di dalam bidang fisik ada tiga hal yang dapat secara bersamaan dilakukan oleh pemerintah. Ketiga hal tersebut ialah: pembinaan terhadap bidang usahanya, permodalannya dan pemasarannya. Di luar bidang-bidang fisik tersebut lembaga-lembaga non-pemerintah seperti KADIN, Lembaga Bina Wiraswasta dan sebagainya menganggap bahwa masalah yang harus segera ditangani ialah pembinaan mental terhadap manusia Indonesia seutuhnya. Di sini timbul masalah baru. Hambatan-hambatan sosio-kultural yang ada menyulitkan pembinaan mental orang Indonesia ini. Namun demikian janganlah hal ini membuat kita berkecil hati.

Dibutuhkan suatu perubahan sikap, Pater Ch. J.M. Melchers, Direktur Eksekutif Yayasan Purba Danarta
Kegiatan kami dimulai sejak tahun 1971 dengan memberikan pelayanan untuk pengerahan tabungan oleh para pengusaha kecil. Hal ini kami lakukan karena mereka mengalami kesulitan untuk mencapai lembaga-lembaga keuangan yang resmi. Tetapi di sana dapat ditemukan bahwa masalahnya bukan terletak pada soal menabung saja, melainkan justru masalah belum produktifnya mereka dalam menggunakan segala sarana yang dimilikinya. Kemudian pada tahun 1975 di samping pelayanan kredit kecil, kami mulai mencoba menginventarisir masalah-masalah mereka. Akhirnya dapat kami simpulkan bahwa sebenarnya mereka membutuhkan suatu sikap baru untuk mengadakan inovasi dalam macam-macam kegiatan bisnis. Ini penting untuk ditekankan. Sebab tidak ada gunanya mengajarkan kepada mereka sejumlah keterampilan tanpa disertai suatu perubahan sikap. Sehubungan dengan hal ini maka kami adakan suatu eksperimen pendidikan kewiraswastaan dalam bentuk latihan dengan menggunakan metode simulasi. Adapun cara mengukur keberhasilan peserta ialah dengan merumuskan sifat dan sikap kewiraswastaan ini dalam 10 dasar patokan. Di antaranya, apakah sifat orang yang bersangkutan itu inovatif, kreatif, berani memulai suatu usaha baru dan sebagainya. Semuanya ini harus mereka isikan dalam formulir yang telah kami berikan. Setelah lebih kurang sebulan, kami harapkan mereka mengirimkan kembali formulir tersebut. Kepada mereka yang telah mengirimkannya kembali, kami adakan kunjungan. Kami bandingkan bisnis mereka dari sebelum mengikuti latihan dan sesudah mengikuti latihan. Selanjutnya dapat dilihat hasilnya. Apakah mereka memulai sesuatu yang baru ataukah mereka memperbesar usahanya yang lama dengan cara-cara yang baru. Dapat dikatakan bahwa dari lebih kurang 375 orang peserta yang dapat kami kunjungi hanya mereka ini yang dengan teratur memberikan laporan baik tentang keberhasilannya maupun tentang kesulitannya. Dari jumlah tersebut kira-kira separuhnya berhasil.

Bahan Mentahnya Sudah Tersedia, Moch. Sardjan, Ketua Koperasi Perajin Kayu, Pondok Pinang
Persoalan kewiraswastaan pada dasarnya adalah persoalan yang primer bagi bangsa kita. Hal ini disebabkan oleh karena negara kita pada saat ini masih berada dalam taraf membangun untuk mengejar ketertinggalannya dari negara-negara lain yang sudah maju. Secara awam saya menganggap bahwa jiwa kewiraswastaan ini sudah dimiliki oleh bangsa Indonesia. Sebagai bukti, seperti yang pernah diungkapkan oleh seorang ahli ekonomi kita, ialah gambaran dari petani-petani kacang panjang yang setiap harinya mensuplai kebutuhan penduduk ibukota. Mereka itu dapat mengetahui bahwa kacang panjang itu merupakan jenis sayuran segar yang sangat digemari oleh semua lapisan masyarakat. Yang menarik di sini adalah kemampuan mereka untuk menghasilkan dan mendistribusikannya. Karena meskipun hanya dengan teknologi yang masih sangat sederhana dan modal yang terbatas, namun tokh kacang panjang tersebut setiap hari dapat tersedia di meja para penggemarnya.
