Pengantar
Belum pernah ilmu sosial begitu mendapatkan tempat dalam sejarah Indonesia seperti sekarang ini. Biaya yang dikeluarkan untuk penelitian ilmu sosial-ekonomi pun tidak pernah sebesar sekarang. Tapi juga belum pernah ilmu sosial itu begitu dipersoalkan seperti sekarang ini juga. Kalau dulu yang menjadi soal adalah mengembangkan ilmu sosial maka sekarang yang menjadi masalah adalah ke mana arahnya perkembangan dan pengembangan ilmu sosial itu? Malah pertanyaan menukik lebih dalam lagi, apakah ilmu sosial yang berkembang di Indonesia mampu mengungkapkan kenyataan atau malah mengabur-ngaburkan kenyataan itu sendiri. Secara retorik pertanyaannya menjadi apakah memang ilmu sosial itu sudah mandeg, sudah berada di jalan buntu?
Masalah-masalah itu diusahakan untuk dijawab, paling tidak dicari alasan-alasan yang menjelaskan keadaan itu. Prisma memilih dua ahli di bidang ilmu-ilmu sosial yaitu Prof. Doktor Selo Soemardjan, seorang ahli dalam bidang sosiologi, sesepuh dalam bidangnya, dan juga seorang yang mendasari dan mendirikan dan sampai sekarang masih menjadi Ketua Yayasan Ilmu-ilmu Sosial. Di samping itu kita memilih Doktor Arief Budiman, seorang ahli dalam bidang sosiologi pembangunan yang kini mengajar di Universitas Satya Wacana, Salatiga.
Kita sengaja memilih dua orang dari generasi ilmuwan sosial yang berbeda, dengan demikian memiliki persepsi yang juga berbeda tentang ilmu sosial dan peran ilmu sosial. Prof. Selo Soemardjan adalah seorang dari generasi tahun 1950-an dan Arief Budiman dari generasi tahun 1980-an. Tetapi justeru perbedaan itu, kita harapkan, lebih menjelaskan situasi ilmu-ilmu sosial kita yang sebenarnya. Redaksi
Ilmu itu Netral dan Ilmuwan Harus Obyektif, Selo Soemardjan, Guru Besar Fakultas Ilmu-ilmu Sosial Universitas Indonesia
Ada perbedaan persepsi masyarakat terhadap ilmu-ilmu sosial sebelum dan sesudah Orde Baru. Sewaktu masa kejayaan Bung Karno dulu, timbul anggapan bahwa orang-orang universitas itu kebanyakan penganut-penganut text book thinking saja. Sebutan itu bukan untuk para guru besar ilmu-ilmu sosial saja, tetapi juga bagi disiplin ilmu yang lain. Sekarang sudah ada apresiasi umum terhadap ilmu-ilmu sosial karena ilmu-ilmu sosial yang meliputi sosiologi, antropologi, ekonomi, ilmu politik, psikologi sosial dan sebagainya, hadir di dalam masyarakat Indonesia secara penuh.

Ilmu-ilmu Sosial Indonesia A — Historis, Arief Budiman, Dosen Universitas Satya Wacana, Salatiga.
Tanya : Anda sering mengemukakan pendapat bahwa ilmu-ilmu sosial dalam prakteknya di Indonesia banyak yang bersifat “ahistoris”. Bisakah dijelaskan, apa maksud anda sebenarnya? Bagaimana memberikan penjelasan historis tentang keadaan ilmu sosial itu?
