Prisma

Dialog: Mengapa ke Timur Tengah?

Pengantar

Timur Tengah kelihatannya merupakan “pasar baru” yang makin menarik, sejak beberapa perusahaan kita memperoleh sub-kontrak untuk melakukan pekerjaan pembangunan di sana. Ada beberapa persoalan yang kini mulai sering diperbincangkan orang, dari bagaimana memperoleh lebih banyak petro dollar dari sana sampai kesejahteraan para pekerja kita. Berikut ini wawancara Prisma dengan Menteri Perdagangan, Radius Prawiro dan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dr. Harun Zain mengenai kegiatan kita ke Timur Tengah. Beberapa petikan :

Prisma (P): Apa sebenarnya tujuan utama kita mengadakan kegiatan khusus dalam hubungan ekonomi dengan Timur Tengah, memperoleh devisa atau memperluas kesempatan kerja?

Radius Prawiro (RP) : Dengan surplus petro dollar yang begitu besar, Timur Tengah mulai membangun dengan pesat sekarang ini. Mereka mengalami kekurangan teknologi, bahan dan tenagakerja. Karenanya Timur Tengah merupakan pasaran baru bagi kita. Sementara ini merupakan pasaran jasa dan tenagakerja. Tetapi pada tahap berikutnya kita juga mau mempersiapkan diri jadi supplier bahan-bahan produksi dari sini seperti besi beton, semen, malahan juga sayuran dan buah-buahan. Ekspor jasa, tenagakerja dan barang komoditi itu tentunya akan menghasilkan devisa yang sangat kita perlukan. Semuanya ini kita lakukan dalam rangka menambah devisa di luar minyak, karena kita tidak bisa terus menerus meminjam dari luar negeri, sedang minyak juga merupakan komoditi yang bisa habis pada suatu saat nanti. Tetapi kita juga melihat kenyataan bahwa di dalam negeri sendiri, tidak semua tenagakerja dapat diserap oleh kegiatan pembangunan. Dari segi ini pengiriman tenagakerja ke Timur Tengah juga merupakan sebagian dari pemecahan.

Harun Zain (HZ): Jarang-jarang kita dapat bekerja di luar negeri seperti itu. Itu saja sudah satu prestasi. Tentu ada keuntungan bagi negara berupa devisa, baik dari transfer keuntungan maupun upah. Salah satu perusahaan yang saya kunjungi saja rata-rata memindahkan 1,2 juta per bulan untuk keluarga karyawannya di sini. Korea Selatan lebih lagi. Dengan 100 ribu pekerja di sana, mereka bisa mengirimkan 2 sampai 2,5 milyar dollar. Ini merupakan bisnis besar. Karenanya memang kita dorong pengusaha kita untuk ikut memanfaatkan bonanza ini.

P: Tetapi apakah tidak mungkin ada pertentangan antara dua tujuan itu? Kalau tujuannya hanya memperoleh devisa saja, para kontraktor kita bisa memakai tenagakerja lain yang mungkin lebih murah, lebih produktif misalnya?

RP : Ada tiga keuntungan yang boleh dikatakan secara otomatis kita peroleh dari kegiatan di Timur Tengah. Pertama, pengusaha kita memperoleh pengalaman dan makin terampil berusaha dalam iklim yang lebih kompetitif dan di mana praktek bisnis terjadi secara lugas dan tajam. Kedua, tenagakerja kita juga memperoleh pengalaman dan keterampilan mengerjakan proyek-proyek pembangunan yang cukup besar. Dan akhirnya, kesemuanya itu mendatangkan devisa. Ketiga-tiganya ini saling bergantung, merupakan kesatuan. Tentang produktivitas tenagakerja kita yang masih lebih rendah dari tenagakerja Korea, tidak selalu menyebabkan penggunaan tenagakerja Korea lebih menguntungkan. Tenagakerja Korea gajinya tinggi, sedang tenagakerja kita rendah. Barangkali penggunaan tenagakerja kita masih lebih ekonomis. Jangan lupa, bahwa tenagakerja kita di sana juga kompetitif dibandingkan dengan tenagakerja dari negara-negara lain. Dan lagi makin lama dia di sana, makin produktif. Itulah sebabnya tenagakerja kita di sana gajinya berbeda-beda sesuai dengan keterampilan dan keahlian mereka.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan