Pengantar
CATATAN sejarah seringkali hanya merekam tokoh-tokoh dengan asal-usul kelas menengah ke atas. Mereka bisa jadi dari kelas bangsawan, terpelajar atau juga kaum birokrat. Kehadiran mereka acapkali dikaitkan dengan kepelopotannya dalam melawan penjajah, baik dalam perjuangan secara fisik maupun kehebatannya dalam diplomasi atau negoisasi. Wadah perjuangan mereka bisa muncul dalam partai politik, parlemen dan juga arena pertempuran Hingga tidak heran jika kita sering mendengar, bahwa sejarah adalah rekaman peristiwa dari orang-orang besar.
Pemikiran akan sejarah konvensional seperti ini, kelihatannya sudah mulai ditinggalkan. Ini sangat berhubungan dengan penemuan-penemuan sejarah yang memperlihatkan bagaimana keberadaan masyarakat kelas bawah seperti gerakan petani, tampil dengan keperkasaannya sendiri. Mereka tidak hanya digambarkan sebagai subordinasi dari kelas penguasa, tetapi secara subyektif mereka lahir, hadir dan kemudian bergerak menentukan gerak-langkah masyarakat selanjutnya. Mereka tidak hanya disejarahkan, sebagaimana sering digambarkan banyak orang, tetapi mereka juga mampu membuat sejarahnya sendiri. Jika memang demikian halnya, sudah sewajarnya kita menempatkan mereka dalam proporsi yang sebenarnya, baik itu dalam konstalasi sosial-politik maupun ekonomi.
Untuk melengkapi edisi Gerakan Masyarakat ini, Prisma mencoba menampilkan dialog dengan beberapa tokoh masyarakat, baik itu dari kalangan intelektual, militer maupun rohaniawan. Bagaimana pandangan mereka tentang logika dan dinamika yang muncul di balik gerakan masyarakat? YB Mangunwijaya yang selama ini dikenal akrab dengan masalah-masalah kemasyarakatan, menyimpulkan bahwa masyarakat itu sendiri tidak pernah berhenti bergerak. Hanya saja reaksi mereka terhadap segala sesuatunya yang berasal dari luar, seringkali luput atau bahkan disalahtafsirkan oleh mereka yang mencoba memahami dan menganalisa nya. Arbi Sanit, seorang pengamat politik dan juga staf pengajar FISIP-UI, melihat pentingnya loby politik dikembangkan, di samping gerakan masyarakat itu sendiri. Sementara itu Soemitro, mantan Pangkopkamtib, menganggap sudah saatnya partai politik berperan lebih aktif lagi sebagai artikulator masyarakat. Dan kemudian Masdar F. Mas’udi, seorang aktivis kemasyarakatan dari P3M, menawarkan lembaga pesantren sebagai salah satu alternatif yang bisa menerjemahkan sepakterjang dari gerakan masyarakat. Redaksi
Memahami Gerakan Rakyatm, Y.B. Mangunwijaya, budayawan.
DALAM 10 tahun terakhir ini, kita jarang mendengar dan melihat gegap gempitanya gerakan masyarakat seperti di zaman Belanda atau Orde Lama. Dengan demikian, apakah dapat disimpulkan rakyat telah mati? Jawaban pertanyaan ini sangat tergantung kepada sudut pandang kita melihat persoalan.
Bagi kaum terpelajar, gerakan masyarakat selalu diterjemahkan sebagai gerakan yang terorganisir dengan berbagai atributnya seperti adanya sistem yang jelas atau memakai cara-cara agitasi. Bagi saya, gerakan masyarakat bisa bermacam-macam bentuknya. Tetapi yang jelas, rakyat tidak pernah berhenti bergerak; hanya taktik-taktik dan ekspresi-ekspresi yang digunakan berbeda dengan apa yang diharapkan oleh kaum terpelajar.

Sudah Saatnya Partai Politik Kembali Berperan, Jend. (Purn.) Soemitro, mantan Pangkopkamtib.
DALAM perjalanan politik bangsa ini di waktu yang mendatang, keterbukaan terhadap gerakan-gerakan yang datang dari masyarakat akan menjadi realita politik yang tidak terhindarkan. Dengan demikian, suprastruktur, pemerintah harus secara sungguh-sungguh merancang tempat gerakan-gerakan seperti itu di dalam sistem yang selama ini telah berjalan. Gerakan masyarakat harus dimungkinkan untuk menjalankan fungsi kritik dan koreksi.
Keliru kalau sampai tidak ada kepekaan dan sikap yang memberi jalan. Dapat dipahami bila pemerintah selama ini tidak mau mengambil resiko membiarkan terjadinya pemanasan menuju situasi krisis, yang dikhawatirkan lahir dari banyak gerakan yang tidak terorganisir dan seringkali bersifat fisik. Namun seandainya keterbukaan telah menjadi konsensus, penerimaan terhadap segenap aspirasi dari bawah adalah konsekuensi yang tidak terelakkan.

Kesadaran untuk Memihak Kaum Lemah, Masdar F. Mas’ud, aktifis kemasyarakatan.
DALAM konsepsi saya, gerakan masyarakat itu baru bisa tercapai apabila dilandasi oleh tiga prinsip utama. Pertama, ada kesadaran dari pihak rakyat, kedua, ada secercah kerangka teori sesuai dengan latar belakang pendidikan, kapasitas wawasan, dan daya intelektualitas dari masing-masing lapis masyarakat, dan yang ketiga adalah aksi itu sendiri. Tapi yang seringkali terjadi di masyarakat kita, gerakan rakyat itu hanya dicomot dari tingkat aksinya saja.
Dalam kondisi seperti itu pun bisa saja terjadi mobilisasi, meskipun tanpa adanya kesadaran baru yang timbul di masyarakat dalam proses pencarian format sosialnya. Begitu pula gerakan rakyat yang tanpa dipertajam kerangka teori. Tapi bagi saya gerakan-gerakan semacam itu belum sepenuhnya bisa disebut people’s movement. Toh pun begitu, kalau yang dimaksud gerakan rakyat hanya dilandasi oleh salah satu dari tiga prinsip tadi, maka sekarang ini sudah banyak terjadi. Suatu contoh, mobilisasi rakyat dalam program-program pembangunan yang harus mereka ambil karena desakan-desakan dari satu kekuatan politik tertentu. Secara jelas semua itu bisa kita lihat melalui media televisi, tentang bagaimana rakyat berbicara atau ambil bagian dalam proses pengembangan pertanian, perikanan, transmigrasi, KB, dan yang semacam itu.

Saat ini Lobi Politik Lebih Efektif, Arbi Sanit, pengajar di FISIP-UI.
SAYA mendefinisikan gerakan masyarakat sebagai aktivitas kelompok-kelompok masyarakat dalam upayanya mengubah suatu kebijaksanaan atau suatu situasi yang mereka hadapi, baik itu yang membawa perubahan untuk jangka panjang maupun jangka pendek. Penyebabnya tentu bisa bermacam-macam. Namun yang paling sering tampil ke permukaan, menurut saya, adalah ketika tercipta kondisi dimana terdapat satu kelompok masyarakat yang diuntungkan secara ekonomi, dan keuntungan ini didapat akibat keterkaitan dengan struktur kekuasaan politik. Menghadapi situasi seperti ini, mereka yang tidak memperoleh kesempatan atau merasa diperlakukan tidak adil akan mencoba bergerak untuk mengubah kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dianggap hanya menguntungkan satu kelompok tersebut.
Banyak dari gerakan-gerakan tersebut yang mengambil bentuk protes, tetapi ada pula yang berusaha memperbaiki situasi tersebut secara teknis melalui berbagai organisasi, seperti LSM misalnya. Namun demikian, berbagai bentuk gerakan tersebut dilakukan oleh golongan masyarakat yang masih melihat adanya peluang untuk memperbaiki atau mengubah. Sebaliknya, kalangan masyarakat yang sudah berputus asa dan sudah tidak melihat lagi adanya peluang, sering terdorong atau memasuki daerah yang memakai cara-cara kekerasan fisik.
