Pengantar
DALAM penuturan sejarah berbentuk remembered history, yang mengandalkan ingatan orang-orang yang terlibat langsung dalam peristiwa bersejarah, dapat diperoleh detail kesejarahan yang sangat terinci, dengan kesan unsur manusiawi yang kuat. Tetapi, karena keterbatasan ingatan manusia, dan besarnya subyektivitas dalam jenis penuturan seperti ini, keterangan yang tidak selalu tepat mengenai hal-hal seperti tanggal atau tahun kejadian tertentu, tak bisa dihindarkan. Meski demikian, “kesaksian” orang-orang yang mengalami peristiwa bersejarah dan masih hidup merupakan sumber informasi yang tak ternilai harganya untuk sejawaran yang beusaha merekonstruksi kejadian masa lalu, dan untuk masyarakat yang berminat pada masalah-masalah sejarah.
Dalam “Dialog” Prisma kali ini ditampilkan orang-orang yang terlibat langsung dalam pergerakan nasional dari 1920-an hingga 1940-an. Di antara mereka ada yang menjadi aktivis PARI (Partai Rebpulik Indonesia), Pendidikan Nasional Indonesia atau PNI Baru, pekerja perusahaan kereta api yang dituduh oleh Belanda terlibat dalam pemberontakan 1926, yang semuanya pernah dibuang ke Boven Digoel oleh pemerintah kolonial, dan sekarang diakui sebagai “Perintis Kemerdekaan”. Juga terekam hasil dialog dengan seorang veteran yang terlibat dalam pemogokan buruh pelabuhan di Australia terhadap kapal-kapal Belanda, yang pada 1945 hendak membawa amunisi untuk mematahkan kekuatan Republik, suatu peristiwa yang juga melibatkan banyak eks-Digulis.
“Waktu saya pulang dari Australia, ujar Moerwoto, salah seorang yang pernah dibuang ke Digul, “para perintis kemerdekaan bukannya mendapat penghargaan dari masyarakat, malah sering mendapat ejekan.” Ini adalah akibat propaganda Belanda sebelum Perang Dunia II, yang mengatakan – dengan memukul rata – orang buangan Digul sebagai komunis dan penjahat. Ex Digulis lainnya, Soeparmin, tidak menceritakan sambutan masyarakat sekembalinya ke Indonesia. Dia lebih banyak mengungkapkan kegiatan selama di Australia, termasuk pemogokan massal yang menghalangi pemberangkatan kapal amunisi tentara Belanda ke Indonesia jadi tertunda.
Willy Mangowal, pelaut dan bukan ex Digulis, juga turut serta dalam aksi mogok di Australia. Sekelumit pengalaman itu, katanya, memperlihatkan dengan jelas arti perjuangan yang dilakukan di negeri orang. “Kami tidak memikirkan, siapa yang pantas atau tidak untuk disebut sebagai pahlawan atau perintis kemerdekaan,” katanya. Penghuni kamp Digul lainnya yang tak sampai dipindahkan ke Australia ialah Suwignyo. Dia dipulangkan dari tempat pembuangan itu tahun 1934, di saat pembiayaan kamp dan para tahanannya dalam masa resesi itu makin dirasa berat oleh pemerintah Hindia Belanda. “Tidaklah benar,” katanya, “bahwa kami dipulangkan karena minta ampun.”
Semua “kesaksian” yang mereka berikan merupakan sejarah yang diingat. Di masa mendatang – mengingat keterbatasan usia manusia – kisah sejarah pergerakan nasional kita, termasuk pembuangan ke Boven Digoel, dan penderitaan serta perjuangan orang-orang yang menyumbangkan bagian dari kehidupannya untuk mencapai Indonesia Merdeka, akan sulit didapatkan. Redaksi
Ejekan, Akibat Propaganda Belanda, Moerwoto, Anggota Badan Pertimbangan Perintis Kemerdekaan Indonesia.
SAYA pertama kali ikut kegiatan politik ketika menjadi anggota Pemuda Indonesia (PI), cabang Yogyakarta. Sebenarnya perkumpulan itu hanya terlibat dalam politik teoritis saja, tidak secara praktis. Pada Desember 1927, PI melaksanakan kongresnya yang pertama di Bandung, yang dipimpin oleh Sutan Sjahrir, dan di situ saya hadir sebagai utusan Cabang Yogya. Ketika mengadakan kongres itu, PI mendapat undangan untuk menghadiri rapat umum yang diadakan oleh Partai Nasional Indonesia, yang dipimpin Soekarno, yang juga diadakan di Bandung. Saya kembali ditunjuk untuk menghadiri rapat umum tersebut.

Dibuangkan ke Digul, Mogok di Australia, Soeparmin, pendiri Sarekat Pelayaran Bangsa Indonesia
PADA 1932 saya bergabung dengan Partindo (Partai Indonesia) dan Perpri (Persatuan Pemuda Republik Indonesia), dua organisasi yang kemudian dilarang oleh pemerintah Hindia Belanda. Setelah itu, saya bergabung dengan Pari (Partai Republik Indonesia) yang merupakan sebuah partai bawah tanah yang illegal. Pada 1935 diadakan penangkapan terhadap anggota partai itu, termasuk diri saya, oleh pemerintah Hindia Belanda. Sebagian besar kawan, setelah diperiksa dimasukkan ke dalam penjara Gang Tengah, di Salemba, Jakarta. Tetapi, entah kenapa, saya sendiri hanya dikenakan tahanan rumah.

Menjuangkan Kemerdekaan dari Seberang, Willy Mangowal, aktivis pejuang kemerdekaan
BEBERAPA tahapan yang saya lalui selama perjuangan dapat dikatakan bermula sejak 7 Desember 1941 sampai dngan keberangkatan kapal Esperance Bay Oktober 1945 dari Sydney dan Brisbane ke Indonesia (Jakarta). Kenapa dan mengapa dari Australia? Karena kami lebih banyak mengenal situasi di Australia termasuk orang-orang Indonesia yang berada di negara itu.

Buruh Kereta Api: Perintis Kemerdekaan, Suwignyo, perintis kemerdekaan.
PADA 1923 saya berhenti dari sekolah dan mulai bekerja pada perusahaan kereta api SCP (Semarang-Cirebon Spoor Maatschappij). Sebelumnya, saya bersekolah di Princes Juliana Middlesbaar School, Yogyakarta. Sejak 1924 saya mulai mendengar dari aktivis-aktivis politik setempat tentang masalah politik, kolonialisme dan imperialisme. Pada saat itu, banyak kawan saya yang juga mulai tertarik dengan masalah seperti itu. Suatu ketika, oleh seorang tokoh serikat buruh kereta api, saya diberi buku Tan Malaka, Sovyet dan Parlemen yang membuat saya mengerti tentang kedudukan bangsa kita yang dijajah.
