Pengantar
Muksin Tamnge lahir 25 Desember 1938 di Tual, Kei, Maluku Tenggara, menjalani masa kecilnya sebagai bocah nakal. Ayahnya, seorang pedagang kecil, sering menghukumnya dengan mengikatkan Muksin di pohon, menyiraminya dengan air laut dan melepaskan semut api di tubuhnya. Di masa sekolah, angkanya selalu tertinggi di antara murid lain. Awal 1960-an dalam pekerjaan sebagai guru olahraga dan wakil Kepala Inspeksi Pendidikan Jasmani di Bali ia dicalonkan untuk belajar di sekolah tinggi olahraga di Belgrado, Yugoslavia. Panitia Penguji meminta “uang semir” kepadanya. Dia tak berikan, dan keberangkatannya ke Eropa Timur pun batal. Selang beberapa waktu setelah itu dia tercemplung ke dunia kriminalitas, dan kemudian terkenal dengan nama Taufik, yang pernah melakukan 397 kali perampokan dan penodongan.
Sejak 14 September 1980 yang lalu, Taufik alias Muksin Tamnge, mendapat cuti istimewa. Dia dibebaskan dari Penjara Pamekasan, Madura atas jaminan adiknya, di saat masa hukuman 28,5 tahun belum diselesaikannya. Karena itu pula hingga akhir 1990 nanti, sebulan sekali dia harus melapor ke kejaksaan.
“Dialog” kali ini berisikan hasil wawancara dengan Taufik, yang ketika masih disebut penjahat tempo hari memiliki 63 orang anak buah dan belum pernah gagal dalam operasinya. Dia menyebut tidak akan kembali lagi ke dunianya yang lama serta mengatakan, benteng di hatinya kini sudah sangat kukuh. Dalam pembicaraannya kini Taufik, Muslim yang mengaku bahwa ibadahnya kini dilakukannya dengan baik, sering menyebut nama Tuhan.
Semasa di Kei, Taufik pernah belajar di madrasah. Sekolah Lanjutan Atas ditamatkannya di Ujungpandang dan kemudian ikut pendidikan B 1 Pendidikan Jasmani. Setelah pindah ke Surabaya, pada tahun 1960 dia ditempatkan di Denpasar, Bali, sebagai Wakil Kepala Inspeksi Pendidikan Jasmani yang juga bertindak sebagai guru olahraga. Bidang ini, terutama sepakbola memang jadi kegemarannya. Jacob Sihasale dan Aliandoe adalah dua kawannya di lapangan hijau. Pada masa itu ia dikenal dengan nama Temmy Tamnge. Ketika di Denpasar itulah dia mendapat panggilan ke Jakarta untuk ikut seleksi bagi calon-calon yang akan dikirim ke sekolah tinggi olahraga di Belgrado, Yugoslavia.
Keberangkatan itu batal, katanya, karena panitia penguji meminta uang semir. Dia diminta kembali ke Denpasar. Tapi Taufik memutuskan untuk berhenti bekerja pada pemerintah dan tidak akan kembali ke Bali. Untuk beberapa bulan, atas pertolongan seorang kawannya dia mengajar di SMA I Jakarta dan tinggal di Pejambon, Jakarta Pusat. Selama di sanalah Taufik berkenalan dengan orang-orang Los Jahit, Senen, yang kemudian melibatkannya dalam dunia kriminalitas. Pengalaman pertamanya ditangkap polisi terjadi 13 September 1962.
Sebelum itu, ketika menghindari penangkapan, dia pindah ke Semarang beberapa bulan. Di sana Taufik berjumpa dengan gadis Tionghoa, Lina Trisnawati, yang kemudian menjadi isterinya. Dari pernikahan ini Taufik memperoleh tiga anak, Rudy (20 tahun), Yati (18 tahun) dan Yudy (16 tahun).
Tahun 1963, Taufik dijatuhi hukuman 3,5 tahun penjara dan dikurung di Penjara Cipinang, Jakarta Timur. Sebelum hukuman itu selesai dia melarikan diri dari lembaga pemasyarakatan. Di saat tertangkap kembali, vonnis baru dijatuhkan kepadanya 6 tahun, untuk perkara yang lain, dan masuk ke Penjara Salemba, Jakarta Pusat. Dari sana pun dia meloloskan diri. Ketika tertangkap lagi dan dikurung di Cipinang, vonnis baru untuk perkara yang lain lagi, diterimanya 10 tahun. Buat perkara yang terjadi di Bogor, dia divonnis 5 tahun, sedangkan untuk kejahatan yang pernah dibuatnya di Bandung, pengadilan menjatuhinya hukuman 4 tahun penjara. Semuanya berjumlah 28,5 tahun.
Ketika dalam tahanan Cipinang, tahun 1973 dia menggerakkan huru-hara yang dilakukan para narapidana dengan membakar penjara. Akhirnya dia dipindahkan ke Pamekasan, Madura, sampai memperoleh cuti istimewa tahun 1980 yang lalu. Setelah itu dia memperoleh pekerjaan di PT Imora Motor, Jl. Pangeran Jayakarta, Jakarta Pusat, sebagai kepala bagian Personalia, sekaligus bagian keamanan.
Taufik mengakui langkahnya dalam dunia kejahatan adalah jalan yang keliru. Dia menyebut kepuasan baginya tercapai bila dia berhasil membantu orang yang tengah dihimpit kesulitan. Sedangkan perampokan ataupun penodongan yang dilakukannya yang merugikan orang lain dianggapnya sebagai suatu tindakan yang dilakukan terhadap orang yang telah terlebih dahulu membuat orang lain jadi papa. Kejahatan yang pernah dia lakukan disebutnya sebagai urusan di kemudian hari dengan Tuhan. Dia tidak peduli dengan apa yang dikatakan manusia tentang itu.
Taufik menguasai bahasa Inggeris, Jerman, Perancis, Belanda dan Arab. Ketika jadi buronan polisi dia pernah menghilang dengan melarikan diri ke Eropa, Amerika Serikat dan malah pernah berpikir untuk menetap dan menjadi warganegara di Suriname jika saja izin tinggalnya tak habis di saat itu. Anak kedua di antara delapan bersaudara ini melihat bahwa dia tidak disingkirkan masyarakat ketika dia tidak lagi dalam penjara.
Nama Taufik diperolehnya ketika anak buahnya membuatkan kartu tanda penduduk palsu di saat jadi buronan polisi. Nama itu kemudian menjadi lebih dikenal ketimbang Muksin ataupun Temmy. Walaupun sudah melakukan beratus kali kejahatan, seperti dikatakannya, Taufik tidak suka pada kekerasan. Berikut ini adalah pengakuannya, sebagai seorang bekas penjahat, yang ketika berada dalam dunia kriminal dahulu dikenal tak pernah menyakiti kurbannya. Redaksi
