Pengantar
SEKARANG ini umat Islam boleh dikatakan seakan-akan puber, kata Dr. Nurcholish Madjid. Ekspresi keagamaannya, ujar tokoh muda Islam yang pernah menjadi Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam ini, juga penuh dengan pubertas. Dia menyebut, ini adalah suatu pertumbuhan yang wajar, sebagaimana halnya dengan proses pubertas pada diri pribadi seseorang.
Dalam “Dialog” kali ini, Nurcholish menyebutkan, mudah-mudahan pada dasawarsa 1990-an mendatang kita menemukan umat Islam yang sudah lebih berkembang dan matang, sehingga juga lebih substantif dalam memahami agama dan tidak mandeg hanya pada manifestasi-manifestasi simbolik belaka. Dia mengharapkan, umat Islam di masa datang berperan besar dalam proses demokratisasi. Islam, katanya banyak memiliki ajaran yang menekankan faktor egalitarian, paham persamaan atau kesamaan umat manusia.
Bersama Nurcholish, kami tampilkan pula tiga nara sumber yang lain. Anharudin, mahasiswa Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada, mengemukakan bahwa teologi Islam yang kini dianut gerakan-gerakan Islam hendaknya menerapkan pendekatan baru. Tradisi pemikiran teologis yang selama ini bersifat deduktif, yang menempatkan ayat-ayat Tuhan sebagai dasar refleksi, ujar Ketua Pusat Studi dan Pengembangan Komunitas pedesaan, Yogyakarta ini, diubah ke pemikiran yang induktif. Nara sumber lain ialah Drs. Ridwan Saidi, yang dahulunya lebih dikenal sebagai tokoh muda dalam Partai Persatuan Pembangunan dan belakangn ini menyatakan diri masuk Golongan Karya.
Dr. Kuntowijoyo, pengajar pada Fakultas Sejarah dan Kebudayaan, UGM, menyebutkan bahwa kini yang perlu kita kembangkan adalah tradisi partisipasi. Bagaimana konsepsi Islam untuk itu? Islam, katanya punya konsep musyawarah. Mestinya konsep demokrasi itu menjadi bagian pokok politik Islam. Kekuasaan, katanya merupakan keputusan banyak orang. Redaksi
Indonesia Masa Mendatang, Ibarat Sosok Santri yang Canggih, Dr. Nurcholish Madjid, peneliti; bekas Ketua Umum PB HMI
TANYA (T) : Bagaimana gambaran politik Indonesia di masa datang menurut Anda, khususnya peranan Islam pada saat Indonesia yang dalam perekonomian mencapai tahap tinggal landas.
Jawab (J) : Pertama harus kita ingat bahwa istilah tinggal landas merupakan suatu jargon atau keinginan. Belum bisa dipastikan kapan kita akan mencapai tahap yang disebut tinggal landas itu. Tapi memang tentu akan ada perbedaan peranan bagi Islam antara untuk Indonesia yang tinggal landas dan yang tidak. Sebab, kalau kita memahami lebih jauh, tinggal landas itu konotasinya yang paling kuat adalah ekonomi. Saat itu diharapkan Indonesia masuk ke dalam jajaran kekuatan ekonomi baru “New Industrialized Countries” (NIC) – yang kini adalah Korea Selatan, Hongkong, Taiwan dan Singapura, dan konon dalam waktu dekat Muangthai akan menyusul.

Teologi yang Berpihak pada yang Lemah, Anharudin, Ketua Pusat Studi & Pengembangan Komunitas Pedesaan.
PROFIL gerakan Islam di Indonesia, khususnya di masa Orde Baru, tampaknya tidak cukup lengkap jika hanya dilukiskan melalui pendekatan politis. Misalnya, bagaimana kelompok-kelompok organisasi Islam mengartikulasikan kepentingan politik vis-à-vis kekuatan politik dominan, atau bagaimana ormas-ormas Islam mengadaptasikan diri terhadap kondisi politis ideologis di masa Orde Baru ini.
Dalam hemat saya, aspek teologis dari setiap gerakan Islam di Indonesia penting juga untuk dikaji secara mendalam dan dikembangkan. Misalnya, bagaimana sebuah gerakan Islam menerjemahkan pesan-pesan Tuhan atau teks-teks kitab suci dalam konteks masyarakat masa kini. Atau bagaimana organisasi Islam di Indonesia menempatkan ajaran Al-Qur’an sebagai dasar legitimasi untuk menyuarakan isyu-isyu kerakyatan.
Saya melihat, Teologi Islam di Indonesia, khususnya yang dikembangkan oleh gerakan-gerakan Islam seperti Muhammadiyah, NU, PII, maupun HMI, tidak pernah secara terang-terangan memihak pada kepentingan rakyat banyak, dan membebaskan mereka dari tekanan-tekanan struktural. Kenyataan ini disebabkan oleh beberapa hal.

Idiom Politik, Tak Pernah Ada, Ridwan Saidi, Politikus
ADA beberapa alur yang bisa digunakan untuk melihat akar sejarah politik Islam. Di antara berbagai alur tersebut yang dominan adalah alur formal ideologi Islam. Namun tidak berarti tak ada alur lainnya.
Alur pertama, yang bisa dipakai, adalah pengaruh kuat Pan Islamisme. Bahkan dalam taraf perjuangan ideologi pengaruh Pan Islamisme terasa sangat dominan. Ini bisa terlihat pada 1922 ketika Syech Achmad Syurkati melakukan debat terbuka dengan Semaun, pada Kongres Serikat Islam di Semarang. Tema debat, yang diwarnai suasana untuk mendepak SI Merah dari Serikat Islam, adalah “Dengan apa mencapai kemerdekaan Hindia.”
Semaun mengatakan dengan komunisme, sementara Syech Syurkati menyatakan dengan Islam. Ini merupakan perdebatan terbuka pertama kali yang juga pertama dalam perumusan ideologi Islam.

Budaya Partisipasi dalam Islam, Kuntowijoyo, pengajar pada Fakultas Sejarah dan Kebudayaan, UGM.
CARA berpikir umat Islam pada periode ideologi masih dalam tingkat normatif. Ini terlihat dalam perilaku politik periode itu, yang menekankan pembentukan keluarga sakinah, jemaah atau komunitas masyarakat beriman yang memiliki kepemimpinan atau otoritas. Semua argumentasi Islam saat itu bersifat normatif.
