Prisma

Dialog: Perdamaian Dunia Tanpa Ketakutan Perang

Pengantar

Perdamaian dunia makin terancam sebab negara-negara adikuasa berlomba-lomba memanfaatkan kepandaian ilmuwan bagi pengembangan industri persenjataan. Militerisasi ilmu pengetahuan, menurut Prof. Dr. Teuku Jacob, Ketua Himpunan Polemologi Kedokteran Indonesia, bisa diimbangi dengan pengubahan orientasi pendidikan yang beretika perdamaian. Etika ilmiah perlu ditanamkan agar para ilmuwan menyadari akibat dari hasil-hasil temuannya.

Peranan agama dalam mencapai perdamaian, menurut Dr. Nurcholish Madjid, Staf Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dapat diwujudkan dengan mengajar para pemeluk setiap agama untuk meninggalkan absolutisme dan menerima pluralisme dalam kehidupannya. Sementara itu Prof. Dr. H.A. Mukti Ali, bekas Menteri Agama RI yang kini aktif sebagai pengajar pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, melihat dialog antar agama dan intra agama sebagai modal penting untuk menciptakan perdamaian. Kehidupan yang harmonis antar pemeluk agama tanpa membeda-bedakan latar belakang mereka — dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika — harus menjadi dambaan setiap insan.

Sebagai negara yang mencintai perdamaian tapi lebih cinta kemerdekaan, menurut Mayor Jenderal TNI-AD Soebijakto Prawirosoebroto, Indonesia dapat menyumbang pada usaha menegakkan perdamaian dunia bila mampu menciptakan perdamaian di kawasan Asia Tenggara. Perdamaian dunia terkendali, lanjut Gubernur Lembaga Pertahanan Keamanan Nasional (Lemhanas) ini, sebab negara-negara adikuasa sebenarnya takut untuk menggunakan senjata nuklir. Setiap usaha yang menumbuhkan ketakutan untuk memakai senjata pamungkas ini, menurut Soebijakto, perlu didukung.

“Dialog” Prisma kali ini mengupas masalah perdamaian dan usaha-usaha untuk mencapai kehidupan manusia yang harmonis, rukun dan tenteram.  Redaksi

Militerisasi Ilmu Pengetahuan, Ancaman Perdamaian, Teuku Yakub, Ketua Himpunan Polemologi Kedokteran Indonesia dan Guru Besar bidang Antropologi Ragawi, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Dalam sejarah manusia perang telah terjadi enam ribu tahun yang lalu tatkala manusia bermukim akibat pertambahan manusia kian besar. Cara dan alat yang digunakan untuk berperang dalam perkembangan manusia sangatlah banyak. Korban perang pada masa lampau terbatas pada para prajurit dan panglima perang, tapi masa kemudian perang telah menelan korban penduduk sipil yang tak berdosa. Pada masa depan, perang nuklir tak lagi hanya membunuh rakyat yang hidup di daerah pertempuran, tetapi akan memusnahkan umat manusia. Bila perang nuklir meletus, ia akan terjadi sesaat, dan selanjutnya tidak ada lagi masa pasca perang. Sekarang, saat pra perang nuklir.

Meninggalkan Kemutlakan, Jalan Menuju Perdamaian, Nurcholish Madjid, Staf Peneliti pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Islam adalah agama yang dalam namanya sendiri dengan jelas terkandung makna dan cita-cita perdamaian dan keselamatan manusia. Tapi harus diakui bahwa pengertian dasar yang murni itu sering kabur karena adanya berbagai peristiwa dalam sejarah Islam yang sepintas lalu seperti tidak mencerminkan perdamaian. Dari empat pengganti Nabi dalam memimpin umat yang pertama, yaitu mereka yang dikenal dengan sebutan “para pengganti yang arif bijaksana”, hanya Abu Bakar sajalah yang wafat secara alami, sedangkan Umar, Utsman dan Ali wafat terbunuh secara tak damai, bahkan tragis, oleh penyebab yang berbeda.

Tidak saja terjadi peristiwa tragis dalam Islam, namun agama-agama lain pun dilanda hal yang sama. Sebutlah Kristen yang mendasarkan ajarannya pada konsep tentang kasih justeru perjalanan masa lampaunya yang panjang ditandai oleh konflik. Karena perbedaan dalam menafsirkan ajaran agama, katolokisme dan protestanisme di Eropa berselisih.

Menciptakan Perdamaian Lewat Dialog Antar Agama, H.A. Mukti Ali, Pengajar pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Setelah Perang Dunia II usai pada tahun 1945, atau yang bertenggang waktu kurang dari 30 tahun sehabis Perang Dunia I, masyarakat dunia membentuk organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Organisasi ini bertujuan antara lain untuk menjaga perdamaian dunia. Selain itu masih dibentuk pula beberapa organisasi perlengkapan. Ada yang berkecimpung di lingkungan buruh untuk menangani kehidupan buruh sehingga tercipta kerukunan dan perdamaian, ada pula yang bergerak di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Khusus untuk menjaga keamanan yang intinya ingin menyelesaikan konflik dan pertikaian antar negara melalui jalan politik damai, dibentuklah Dewan Keamanan.

Ketakutan Berperang Menciptakan Perdamaian Dunia, Soebijakto Prawirosoebroto, Gubernur Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas)

Warisan yang diterima Orde Baru pada tahun 1965 adalah kebobrokan kehidupan bangsa dan negara, yang disebabkan adanya usaha-usaha yang hendak menyelewengkan perjuangan bangsa Indonesia, terutama menyelewengkan falsafah Pancasila dan UUD 1945, yang berakibat pada perumusan kebijaksanaan dan strategi yang bertentangan dengan kepentingan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, menjadi tekad Orde Baru untuk dengan sungguh-sungguh membangun kembali seluruh aspek dan sendi kehidupan bangsa, demi kelangsungan hidup negara kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan