Pengantar
Walau memiliki banyak ahli di berbagai bidang ekonomi, Prof. Sarbini Sumawinata melihat, Indonesia tidak punya pemikir yang dapat menciptakan strategi yang mampu membawa ekonominya ke arah perubahan-perubahan struktural. Perubahan itu, kata bekas Ketua Biro Pusat Statistik (1955-1965) ini, tidak seharusnya diartikan sebagai perubahan dalam waktu singkat. Perubahan itu, menurut dia, haruslah yang jelas terjadi dan mengarah ke perubahan-perubahan yang struktural. “Tidak ada strategi yang secara jelas mengarah kepada mengubah sifat dualistik perekonomian kita,” kata bekas Ketua Tim Teknis Bidang Politik pada Presidium Kabinet RI, 1966-1968 (waktu itu diketuai Penjabat Presiden Soeharto) itu.
Prof. Sarbini Sumawinata, dalam “Dialog” kali ini mencoba menelusuri sejarah pemikiran ekonomi, kondisi yang melatarbelakangi gagasan ataupun pemikiran itu, dan kaitannya dengan rencana pembangunan di Indonesia. Dia, yang pernah menjadi Pemimpin Redaksi buletin ekonomi Business News (1957-1966) tergolong orang Indonesia pertama yang “berkenalan” dengan planning pada saat sifat-sifat pembangunan mulai dikaji para sarjana Barat di awal 1950-an.
Ketika masih bekerja di BPS, melalui latihan kerja pada Centraal Plant Bureau di Den Haag, yang dipimpin Prof. Tijnbergen, 1952, dia berkenalan dengan ilmu ekonometri. Dari sana Sarbini mengirim makalah pendek — khusus tentang masalah penentuan prioritas pembangunan antar sektor ekonomi, dengan menggunakan input-output ratio — kepada rekan-rekannya ekonom di Indonesia. Latihan ini kemudian dilanjutkan ke Amerika Serikat, dengan ahli-ahli dari Bank Dunia — yang banyak dipengaruhi pemikiran Harrod-Domar tentang investasi dan pertumbuhan ekonomi — IMF dan Departemen Pertanian AS. Gelar Master of Art (MA) dalam bidang ekonomi dia peroleh dari Harvard University, AS, 1954.
Tidak adanya perubahan yang menjurus kepada perubahan struktural dalam perekonomian Indonesia, oleh Prof. Sarbini disebut sebagai history of no change. “Strategi dan proses kita berekonomi belum pernah mengarah ke situ,” katanya. “Seharusnya strategi pembangunan secara jelas mengarah pada mengubah sifat dualistik perekonomian kita: mengangkat ekonomi pedesaan setingkat demi setingkat ke taraf yang makin lama makin mendekati tingkat yang moderen.” Redaksi
