Prisma

Perluasan Kesempatan Kerja: Beban Siapa ?

Pengantar

Perluasan kesempatan kerja yang dilakukan selama tiga kali PELITA ini, ternyata masih belum juga mampu mengejar kepesatan pertambahan jumlah angkatan kerja, meskipun pemerintah telah berusaha mengerem tingkat laju pertumbuhan penduduk. Angkatan kerja telah mencapai 72,8 juta orang, yang sebagian besar masih rendah kualitasnya. Lebih dari sepertiga angkatan kerja tersebut hanya memiliki pendidikan SD, dan tanpa bekal keterampilan yang memadai.

Deretan panjang barisan penganggur itu kini menjadi beban yang makin berat pada PELITA IV; padahal di saat yang sama, pertumbuhan ekonomi diharapkan hanya mencapai 5 persen setahun. Lantas siapakah yang harus menampung barisan angkatan kerja dengan kualifikasi pendidikan dan keterampilan yang terbatas itu?

Menghadapi situasi seperti itu, Menteri Tenaga Kerja Sudomo, yang sejak menjabat Pangkopkamtib telah banyak aktif menangani masalah ketenagakerjaan, melihat sektor pertanian dan sektor ekonomi berskala kecil sebagai sektor yang menyerap tenaga kerja paling banyak. Sektor ini harus ditingkatkan produktivitasnya melalui program-program pendidikan dan latihan, serta penyelenggaraan bursa-bursa tenaga kerja, guna menjamin perluasan kesempatan kerja sekaligus meningkatkan pendapatan mereka. Ketua Umum Perhimpunan Urusan Sosial-Ekonomi Pengusaha Seluruh Indonesia (PUSPI), Suprapto Boedjosastro, mengharapkan industri besar ini tidak sampai menghantam industri kecil, sebab sektor industri kecil ini telah mampu menyerap separuh dari 63,4 juta angkatan kerja pada Pelita III. Industri besar, menengah, kecil dan usaha informal katanya, harus bekerja sama agar daya tampung tenaga kerja semakin besar.

Mengurangi beban pengangguran di dalam negeri, Faroek Basrewan, pengusaha pengerah tenaga kerja Kafila El-Safiir yang melihat prospek kesempatan kerja di Timur Tengah, khususnya di Arab Saudi, mencoba menyalurkan tenaga kerja kita ke pasar kerja di sana.

Dengan terlebih dulu memberikan pendidikan dan latihan, dia mengirim tenaga kerja ke Arab Saudi. Selain membuka lapangan kerja baru bagi tenaga kerja Indonesia, maka penghasilan para tenaga kerja Indonesia di luar negeri juga diharapkan merupakan sumbangan devisa bagi negara.

Dengan ketiga tokoh tersebut, Prisma membicarakan masalah perluasan kesempatan kerja, baik di dalam maupun di luar negeri, serta sektor-sektor penyerap tenaga kerja dan kemungkinan meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Redaksi

Semua Sektor Ekonomi Perlu Bekerjasama. Suprapto Boedjosastro, Ketua Umum PUSPI (Perhimpunan Urusan Sosial-Ekonomi Pengusaha Seluruh Indonesia).

Sumberdaya manusia yang masuk dalam angkatan kerja di Indonesia cukup besar. Mereka mencapai 54 juta jiwa. Menurut Departemen Tenaga Kerja, angkatan kerja ini bertambah sebesar 700 ribu orang setiap tahun. Ini agak berbeda dengan yang dikemukakan Biro Pusat Statistik. Menurut BPS, angkatan kerja bertambah sebesar 900 ribu setiap tahun. Namun, dalam Pelita IV mendatang, pertambahan angkatan kerja ini bisa ditekan menjadi 656 ribu orang per tahun. Dari jumlah itu, 156 ribu orang di antaranya dapat disalurkan mengisi lowongan pekerjaan yang tersedia. Ini berarti sekitar 500 ribu orang akan menambah deretan jumlah penganggur di Indonesia.

Menggalakkan Pendidikan dan Latihan Kerja Demi Produktivitas Kerja. Sudomo, Menteri Tenaga Kerja.

Tanya : Masalah pengadaan lapangan kerja merupakan masalah rawan yang dihadapi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Di Indonesia isyu ini makin berkembang sejak tahun 1970-an karena kurangnya proporsi lapangan kerja yang tersedia dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja yang terus bertambah setiap tahunnya. Menghadapi hal ini, bagaimana kebijaksanaan yang ditempuh Departemen Tenaga Kerja, dan perangkat apa yang telah disiapkan untuk melaksanakan kebijaksanaan itu?

Menjawab : Masalah angkatan kerja dan menyediakan lapangan pekerjaan di mana-mana sama saja, baik di Indonesia maupun di negara-negara maju. Menurut laporan Bank Dunia tahun 1980 hasil pembangunan dalam dasawarsa tujuhpuluhan memperlihatkan, laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi di beberapa negara berkembang ternyata tidak dengan sendirinya memecahkan masalah kesempatan kerja.

Memacu Pengiriman Tenaga Kerja ke Arab Saudi. Faroek Basrewan, pengusaha pengerah tenaga kerja Kafila El-Safiir

Pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi, semenjak oil-boom 1973–74, telah menciptakan lapangan kerja yang luas di negerinya. Karena jumlah penduduknya relatif kecil, sekitar 6 juta orang, sementara ruanglingkup pekerjaan amat luas, proyek-proyek pembangunan yang ditangani oleh kontraktor-kontraktor asing umumnya memakai tenagakerja-tenagakerja dari negara-negara di luar Arab Saudi. Penyerapan tenagakerja di sana tidak terbatas hanya untuk bidang pekerjaan sebagai buruh kasar proyek, melainkan juga bidang-bidang nonproyek seperti di lingkungan perusahaan dan rumahtangga. Misalnya sebagai pelayan toko atau supermarket, tukang pompa bensin, tukang rumput, pegawai hotel, pegawai kebersihan kota, supir sampai pembantu rumahtangga.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan