Pengantar
Suratkabar pernah memberitakan peristiwa murid memukul guru. Filem pernah menampilkan adegan yang mempertontonkan konflik antara mahasiswa dengan dosen, serta guru yang ditertawakan murid-muridnya. Orang bertanya: lunturkah wibawa para pendidik dewasa ini?
Sebagai seorang pendidik, Petrus Hartoyo, Wakil Direktur Sekolah Menengah Atas (SMA) Budhaya, Persatuan Sosial Katolik Indonesia, Jakarta, melihat ekses-ekses seperti itu sebagai “setitik nila” yang merusak “susu sebelanga”. Dia berbicara tentang peranan dan pengelolaan sekolah dalam hubungannya dengan kenakalan anak didik. Tetapi dalam hal pembinaan mental murid, menurut Rahayu Effendi, sebagai orang tua yang memiliki dua anak, peranan sekolah jangan terlalu banyak diharapkan. Fungsi orangtua di rumah, katanya lebih menentukan. Namun menurut Toeti Heraty Hoerhadi, Dosen pada Jurusan Filsafat, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, posisi guru jadi sulit karena tidak adanya kontinuitas kebudayaan. Di saat melepaskan nilai-nilai tradisional, katanya, kita masih belum menemukan pengganti, bentuk yang baru dan diyakini. Di sana ada keragugauan. Sedangkan Yosef Krisprasetyo, siswa SMA Budhaya, Jakarta merasakan bahwa pendidikan watak tak dia temui di sekolah selama ini. Dia juga melihat kesalahan pada anak seusia dia, dan berbicara pula tentang tanggungjawab orangtua. Pendapat mereka mengenai pendidikan dalam masalah hubungan murid, guru dan orangtua, mengisi “Dialog” kali ini. Redaksi.
Pengelolaan sekolah, sangat menentukan, Petrus Hartoyo, Wakil Direktur Sekolah Menengah Atas (SMA) Budhaya, Persatuan Sosial Katolik Indonesia (PSKI), Jakarta
Saya tidak menolak bahwa ada murid yang tak baik terhadap guru. Juga setelah saya banyak berbicara dengan rekan-rekan sesama pendidik, memang terlihat ada persepsi masyarakat yang tak benar tentang guru. Tapi baiklah hal ini kita tinjau dengan melihat ke belakang.
Dahulu di zaman kolonial, kita adalah bangsa terjajah. Kini kita merdeka. Kesadaran pribadi sudah berkembang. Ada perkembangan itu yang lurus, tetapi ada pula yang tidak. Dalam perkembangan yang tak lurus tersebut, dianut pandangan bahwa kita sesama manusia adalah sama.
Memang, kita sesama manusia adalah sama. Tetapi pada suatu saat persamaan itu tidak ada. Dalam organisasi misalnya, pimpinan tak akan sama dengan yang dipimpin. Kalau kita menganggapnya sama, itu tentu keliru. Jadi, di sini kita harus menerima perbedaan itu. Di situ harus ada sopan santun. Persamaan yang ada pada saat tersebut, mungkin hanya persamaan dalam hak-hak asasi. Saya pikir, itulah antara lain yang terjadi sehubungan dengan sikap murid terhadap guru, sebagai suatu gejala umum yang kita lihat.
Tetapi, segala sesuatunya itu selalu bersumber dari sekolah. Kalau sebuah sekolah dikelola dengan cara yang tak tepat, kenakalan murid bisa saja timbul. Pengelolaan sekolah harus dilakukan dengan baik. Pengelolaan yang baik akan menghasilkan murid-murid yang baik pula. Dahulu saya pernah bekerja di sekolah yang dikelola dengan cara yang tak tepat. Guru jadi menderita. Tetapi tidak banyak sekolah yang seperti itu. Jumlahnya sedikit sekali. Di wilayah Jakarta Timur saja misalnya, di daerah pinggir, saya masih melihat sekolah negeri yang dikelola dengan baik sekali. Di situ tak ada kenakalan murid. Tetapi dalam hal ini memang ada apa yang disebut oleh pepatah: “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.” Tak banyak sebetulnya yang menunjukkan contoh buruk itu. Namun orang bisa saja melihatnya sebagai gejala umum.

Pengalaman batin dan wibawa guru, Rahayu Effendi, Orangtua murid
Di suratkabar memang pernah ada berita tentang dipukulnya guru oleh murid. Ia tak terlalu sering. Tidak dapat kita pastikan, kenapa ekses begitu terjadi. Tetapi, mungkin yang mengawalinya adalah pendekatan guru dan murid yang dibuat seperti pendekatan antar teman.
Ketika saya sekolah dasar dulu, guru-guru adalah tamatan Sekolah Guru B (SGB) dan Sekolah Menengah Pertama, gurunya tamatan Sekolah Guru A (SGA). Jika seorang murid kelas enam SD berusia 12 tahun, umur guru tamatan SGB itu tentu hanya berbeda empat tahun dengan dia, karena SGB harus ditempuh selama empat tahun. Memang mungkin dia mengajar hanya di kelas 3 atau n^1^n^, tetapi jarak umur ini terlalu dekat. Di sini jangan kita lupa bahwa perbedaan umur yang kecil itu akan menentukan sekali dalam wibawa. Perbedaan pengalaman batin guru dengan murid sedikit sekali, karena perbedaan usia terlalu kecil.
Saya pernah dipanggil oleh guru anak saya dan dia memberikan nasehat-nasehat tentang pendidikan anak. Umurnya mungkin baru sekitar 24 atau 25 tahun. Dalam hati saya berkata, “Dia berbeda umur belasan tahun dengan saya, kenapa dia memberi saya nasehat tentang cara mendidik anak?” Saya saja punya perasaan demikian, apalagi anak-anak.

Guru jangan menganggap dirinya dewa, Yosef Krisprasetyo, 20 tahun, murid Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) Budhaya, Persatuan Sosial Katolik Indonesia (PSKI), Jakarta, tahun ajaran 1979–1980.
Tanya: Bagaimana komentar anda atas pendidikan yang ditempuh di SLTA selama ini? Jawab: Saya tidak merasa dididik dalam pembentukan watak. T : Maksudnya? J : Jika guru menyalahkan murid, mereka hanya tahu bahwa murid itu salah. Mereka tidak mau tahu, apa sebab si murid salah. Saya mendapat kesan bahwa guru menganggap dirinya dewa. T : Yang anda ingini seperti apa? J : Jangan timbul jarak antara pendidik dengan yang dididik. Di sebuah sekolah di Jakarta saya pernah melihat contoh yang baik. Pada waktu itu televisi menyiarkan pertandingan tinju siang hari. Yang bertinju adalah Muhammad Ali dan penantangnya. Ketika itu, ada murid-murid yang gelisah, ingin menyaksikan pertandingan itu padahal menurut peraturan, pelajaran jalan terus. Ada juga memang murid yang mau belajar. Guru bertanya pada saat tersebut. “Siapa yang mau menonton?” Beberapa murid mengacungkan tangan. Kemudian: “Siapa yang mau belajar?” Murid-murid yang lain juga mengacungkan tangan. Lantas si guru berkata: “Yang mau menonton ikut saya.” Di sekolah itu ada pesawat televisi.
Saya lebih suka pada guru yang memberikan kebebasan pada murid, misalnya dalam berpakaian atau memelihara rambut, tetapi tetap mengutamakan, apakah murid itu belajar atau tidak.

Guru: Menyampaikan pengetahuan dan menanamkan nilai-nilai, Toeti Heraty Noerhadi, Dosen pada Jurusan Filsafat, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia
Guru-guru sekolah dasar, sekolah lanjutan tingkat pertama dan tingkat atas, sebetulnya harus menjalankan fungsi ganda. Pertama-tama dia harus menjadi orang yang menyampaikan informasi pengetahuan kepada murid-muridnya. Asalkan dia lebih pandai dan tahu bagaimana cara menyampaikan informasi tersebut, itu sudah cukup. Tetapi selain itu, dia juga harus turut membentuk kebiasaan-kebiasaan baik untuk anak didiknya. Dalam hal ini seorang guru perlu berfungsi sebagai orang yang menanamkan nilai-nilai dalam pembentukan pribadi anak. Pendapat seperti ini saya kemukakan berdasarkan pengalaman sehari-hari yang pernah saya rasakan.
Sebenarnya, semakin muda usia anak-anak didik, peranan guru semakin kompleks. Peranan seperti guru SD, SLTP dan SLA yang saya sebut tadi tidak akan demikian adanya bagi seorang dosen di perguruan tinggi.

Pengarahan bagi murid
Dalam hal pembentukan identitas pribadi, seorang anak tentunya harus dapat pengarahan. Identitas pribadi adalah gabungan beberapa konsepsi si anak itu sendiri tentang dirinya. Si anak melihat banyak peranan orang dewasa dan mereka memainkan peranan itu untuk dirinya sendiri. Interaksi dengan lingkungan banyak berpengaruh di sini. Masalahnya adalah, mana yang akan paling berpengaruh: orangtua, sesama kawan, dalam peer-group atau yang lain.
Pada masa saya bersekolah dulu, saya melihat bagaimana komitmen seorang guru pada tugasnya. Ketika dia menerangkan pelajaran biologi dia juga bercerita tentang yang lain-mengajarkan nilai-nilai-yang bagi si murid banyak manfaatnya. Menurut saya fungsi seorang pendidik antara lain adalah demikian. Di samping dia menyampaikan informasi ilmu pengetahuan, dia juga turut menanamkan nilai-nilai dalam pembentukan identitas anak-anak yang dihadapinya.
Kini banyak dipertanyakan orang: lunturk-ah wibawa guru? Dalam beberapa filem buatan kita akhir-akhir ini, muncul suatu kesan tentang tenaga pendidik ini. Ada filem yang adegannya menunjukkan murid-murid mentertawakan guru, karena ketika berolahraga, celana si guru tadi sobek. Dalam filem yang lain juga ditemukan adegan mahasiswa konflik dengan dosennya gara-gara seorang mahasiswi. Filem-filem itu tidak eksplisit mengatakan bahwa wibawa guru sudah merosot, tetapi yang ia cerminkan mungkin saja suatu anggapan masyarakat. Apalagi belakangan ini di suratkabar-suratkabar kerap kita baca berita guru bentrok dengan murid. Hanya saja, sebagaimana yang lazim dalam filem-filem kita, tokoh guru muncul dalam stereotype. Seperti tokoh pengusaha, dan lain-lainnya, guru dalam filem tersebut tidak muncul secara realistis.