Prisma

Dialog: Potret Tiga Kota

Pengantar

Apa yang terjadi kalau suatu daerah berkembang jadi kota tempat bertimbunnya manusia dari berbagai kelompok etnis dan dengan segala macam pekerjaannya? Untuk Jakarta, Orang Betawi asli jadi terdesak, karena kelompok yang sangat religius itu, akhirnya kalah dalam menghadapi teknologi dan ilmu pengetahuan, demikian pendapat Sumanjaya, sutradara film keturunan Jawa yang lahir dan besar di Jakarta. Dia melihat keunggulan kaum pendatang dalam hal keuletan. Namun, demikian Sumanjaya, orang-orang di Jakarta yang hidup dengan memperlihatkan gaya Barat tetap dalam alam pikiran agraris dan belum dapat disebut sempurna sebagai “manusia kota.” Apa yang tampak di Jakarta kini, katanya, adalah hasil politik ekonomi kita.

W.S. Rendra, penyair dan dramawan dari Yogyakarta, melihat kota asalnya itu sebagai “kasur tua.” Di “kasur tua” itu, ketika pulas kita lupa akan raga dan menikmati alam spiritual. Tetapi ketika kembali terjaga, kita sadar bahwa yang ditiduri itu “kasur tua.” Kata Rendra, “Tapi kita tak memiliki kecakapan teknologis untuk membuat ‘kasur’ yang baru.” Walaupun begitu, Rendra berpendapat bahwa unsur spiritual yang menjadi ciri Yogya sedari dulu tetap perlu dipertahankan, karena hidup ini tetap memerlukan unsur itu.

Kota besar lainnya di Indonesia, Medan, adalah juga tempat berhimpunnya kaum pendatang. Kaum pendatang di sana, paling tidak untuk generasi di atas anak-anak usia SLA sekarang, kata Sitor Situmorang, tetap merupakan orang-orang yang berada dalam ikatan etnis dan budaya masing-masing. Mungkin ia buruk jika diambil kemungkinan negatifnya. Tetapi, menurut sastrawan ini di situ pula rasa kebangsaan boleh diuji.

Jakarta, Yogyakarta dan Medan, dalam “Dialog” kali ini dibicarakan dengan tiga orang itu. Redaksi.-

Warna Jakarta dengan mental agraris, Sumanjaya, film sutradara

Orang Jakarta asli dahulu hidup berbaur dengan kaum pendatang. Ini adalah akibat logis dari proses perkembangan Jakarta sebagai kota bandar. Tetap, Orang Jakarta asli yang dahulunya berbaur dengan para pendatang itu, kemudian bagaikan “terusir”. Ia baru terjadi sekarang. Dahulu tidak demikian.

Kalau kita lihat tata kota di zaman Belanda dulu, tampak bahwa penjajah memberikan lingkungan hidup bagi masyarakat asli, di luar pusat-pusat kegiatan yang mereka kembangkan. Harmoni mereka bangun dengan gaya Eropa, tetapi masyarakat Petojo di dekat itu tidak tergusur. Di Petojo itu dulu banyak tinggal Orang-orang Jakarta yang jadi klerk, magang, pegawai percetakan dan sebagainya. Di situ juga ada lingkungan pedagang, dan kaum produsen kecil, pemilik pabrik tahu dan tempe, yakni kaum pendatang. Di sana juga ada kebun sayur yang menyediakan supply untuk masyarakat kota.

Bengkel pun ada di daerah itu. Demikian pula halnyadengan beberapa wilayah lain di Jakarta,

Kini, baik yang di Kebon Sayur, Sunter, Kemayoran ataupun Pasar Minggu, Orang Jakarta mulai tersingkir. Tanah mereka dibeli dan harganya memang cukup tinggi. Kemudian di beberapa bekas daerah mereka didirikan real estate. Di daerah yang kemudian dihuni golongan elite itu kita tidak lagi menjumpai tukang tempe, tukang tahu, penjual bandrek ataupun tukang laksa, yang di daerah keramaian yang dikembangkan Belanda dulu sangat mudah dicari walaupun di tengah malam.

Kota “kasur tua”, W.S. Rendra, penyair dan dramawan

Surakarta, ibukota Mataram tempo hari dikelilingi oleh tanah yang suburdan memiliki tukang-tukang yang ahli dalam membuat kerajinan tangan. Pangeran Mangkubumi berontak dan menang, lalu mendirikan Yogyakarta. Tetapi Yogyakarta tidak dikelilingi oleh tanah pertanian yang subur. Tanaman yang menghasilkan di sana antara lain nangka, melinjo, sawo dan pisang. Ketika itu wilayah bagian selatan adalah hutan lebat, yang menurut ceritanya, di sana cahaya matahari pun tak sampai ke tanah.

Secara ekonomis, posisi Yogyakarta meman tidak menguntungkan. Ia juga tidak mempunyai imbangan kota dagang, seperti halnya Tuban di zaman Singasari dan Majapahit. Kebutuhan akan beras saja, digantungkan pada tengkulak-tengkulak Cina. Di antaranya ada yang kemudian diangkat jadi pangeran. Tapi peranan itu kemudian diambil oleh orang-orang kalang, yakni keturunan Panembahan Sidokrapyak yang dahulunya dibuang Sultan Agung ke Banyumas. Mereka kembali dengan kekuatan ekonominya. Penyaluran beras untuk Yogyakarta kemudian berada dalam tangan mereka di samping tengkulak-tengkulak Cina tadi.

Simbolisme meditatif

Yogyakarta dibangun dengan simbolisme yang meditatif, yang mencerminkan metode meditasi Sultan Hamengkubuwono I. Keraton dan daerah sekitarnya dibangun dengan mencerminkan simbolisme ini. Sekarang, jika mau bicara tentang ciri kota, itulah ciri Yogya. Saya berpendapat ciri tersebut ada baiknya dipertahankan. Bagaimanapun juga, unsur spiritual dalam kebudayaan selalu penting. Di Yogyakarta kehidupan spiritual itu kuat, termasuk keseniannya yang memiliki disiplin kerohanian yang bagus. Sayangnya, perhatian pada materi kurang, sehingga secara ideal, kehidupan tidak lengkap. Yang maju dengan pesat dalam kegiatan ekonomi hanya orang kalang. Tetapi organisasi kapitalnya tetap belum rasional.

Inti Yogyakarta-kota yang lama-hanya meliputi wilayah kecil, dari Malioboro sampai ke Tugu, dan ke selatannya sampai Gading. Ia belum tersentuh apa-apa dan masih bisa dipertahankan. Perluasan kota sekarang pun tidak mengganggunya.

Tetapi tradisi feodal agraris memang sangat merugikan Yogya. Pendiri kota itu, Sultan Hamengkubuwono I adalah ahli perang dan ahli kerohanian. Namun rasa-rasanya dia bukan ahli ekonomi. Saya dan nenek moyang saya berasal dari Yogyakarta, dan saya banyak menentang aspirasi tradisional Yogya yang tidak menguntungkan buat perkembangan. Yogyakarta bagaikan sebuah “kasur tua.”

Medan dan kepelororan kaum pendatang, Sitor Situmorang, sastrawan

Menurut sejarah lokal, kota Medan sekarang ini berkembang dari sebuah perkampungan Orang Batak Karo 25 kilometer dari tepi laut, yang didirikan oleh Datuk Patimbus pada permulaan abad XIX yang silam. Belanda kemudian membuka perkebunan di sana. Pada kwartal terakhir abad XIX didatangkanlah pekerja dari Jawa. Tetapi karena dibutuhkan tenaga kerja yang memiliki keahlian khusus, terutama dalam pertanian dan pengolahan tembakau, Belanda pun mendatangkan orang-orang Cina. Ada juga di antara mereka yang datang dengan sendirinya.

Pada mulanya daerah yang kini kita kenal sebagai Medan dan sekitarnya itu merupakan daerah kosong bertanah subur. Di sebelah baratnya adalah daerah Orang Karo dan Simalungun. Di timur, di bagian pesisir berdiam suku Melayu yang hubungannya lebih erat dengan daerah Semenanjung Malaka. Ketika perkebunan mulai diusahakan, di sekitarnya timbullah bermacam-macam kegiatan, perdagangan dan jasa. Yang bertindak sebagai kaum perantara adalah Orang-orang Cina. Jadi, Medan dengan sifat urbannya, hingga kini baru berumur sekitar satu abad.

Sebetulnya, tanah di daerah itu dahulu adalah hak ulayat rakyat. Penduduk memiliki tanah tersebut secara komunal. Kemudian hak pengusahaan diperoleh Belanda dari raja-raja di sana, setelah kaum kolonial menemukan resepnya melalui jalan hukum. Sultan-sultan seakan-akan memanipulir hak ulayat yang ada dalam tangan rakyat. Itu pulalah sebabnya, hingga kini di sana senantiasa persoalan tanah itu selalu ada.

Bagian barat, daerah Karo dan Simalungun tidak dimasuki oleh perkebunan karena beberapa sebab. Kondisi tanah di sana, yang merupakan dataran tinggi dan berudara dingin, tidak cocok untuk itu. Keadaan kemasyarakatan pun-di mana hak ulayat rakyat kuat sekali seperti di Minangkabau-tidak memungkinkan perkebunan mendapat tanah.

Pendatang yang jadi pelopor

Dalam perkembangan selanjutnya setelah Belanda mengadakan pendidikan baca-tulis, berdatanganlah orang-orang dari beberapa daerah ke sana. Mereka jadi frontier. Sumber utamanya waktu ada dua, yakni Minangkabau dan Tapanuli. Itu mulai terjadi pada kwartal pertama abad XX. Merantau ke Deli, judul novel yang ditulis Hamka di sana dahulu memiliki makna sendiri: ke daerah baru dengan suatu harapan. Kaum pendatang yang sudah dibekali pendidikan ini, mengisi lowongan untuk blue color job. Mereka jadi kerani. Orang-orang yang “terpental” dari desa dan sudah mendapat pendidikan ini bekerja di bidang administrasi, di bidang teknik, jadi guru ataupun jururawat. Kelompok ini pula yang kemudian meningkat ke kelas menengah, dari kepala stasiun, mantri kesehatan atau wartawan, sampai kemudian aktif dalam pergerakan nasional untuk masa berikutnya. Orang-orang yang memiliki profesi ini, berkecimpung dalam wadah seperti Muhammadiyah dan gerakan nasional lainnya. Untuk orang Minangkabau saja, jumlah kelompok intelegensia mereka yang ada di Medan waktu itu lebih tinggi dari yang tinggal di Sumatera Barat sendiri.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan