Pengantar
Gejolak ekonomi dunia belum lagi reda. Kebijaksanaan-kebijaksanaan baru yang diambil negara-negara maju berpengaruh kuat pada negara-negara berkembang, termasuk kebijaksanaan Presiden Amerika Serikat, Ronald Reagan, yang menaikkan suku bunga deposito. Keputusan itu membuat gelombang kericuhan kurs dollar di Indonesia. Khawatir akan terjadi devaluasi mata uang dengan berspekulasi para pemilik uang mengkonversikan rupiah mereka menjadi dollar. Rupiah menjadi sulit diperoleh. Semalam uang mendadak meningkat seakan tak terkendali.
Melihat ini, I. Nyoman Moena, Ketua Perbanas, yang juga Direktur Utama Overseas Express Bank, menilai bahwa, kebijaksanaan pemerintah menaikkan kurs dollar sebanyak 4 point bukan lagi berpegang pada floating. Karena dengan menaikkan kurs dollar secara resmi sudah benar-benar melakukan devaluasi. “Kalaupun tidak dilakukan devaluasi”, katanya, “orang akan tetap mengkonversikan rupiah. Sulit membendungnya, karena sebenarnya dalam keadaan sekarang bunga deposito dalam dollar sudah menjadi 38 persen, sementara dalam rupiah hanya 18 sampai 19,5 persen.”
Kaptin Adisumarta, pengamat ekonomi memperkirakan Reagan akan mengambil langkah keras apabila terpilih kembali sebagai presiden, yakni dengan menurunkan nilai dollar agar dapat menekan defisit anggaran belanja melalui peningkatan ekspor. “Bukan seperti sekarang di mana nilai dollar kuat telah membuat dan mendorong Amerika Serikat banyak melakukan impor,” kata Kaptin.
Kedua orang ini kami tampilkan dalam Dialog untuk melihat situasi ekonomi hari ini dan masa datang. Redaksi.
Hampir Semua Negara Menjerit karena Reagan, I. Nyoman Moena, Ketua Perbanas
Tanya: Dengan kebijaksanaan 1 Juni 1983, kita sebenarnya mengharapkan dapat menarik dana masyarakat untuk pembangunan. Apakah liberalisasi perbankan ini cukup berhasil untuk maksud tersebut?

Indonesia Aman untuk Investasi, R.A.J. Kaptin Adisumarta, Pengusaha dan Pengamat Ekonomi
Tanya : Apakah benar sekarang ini dunia usaha sulit mencari rupiah karena banyak orang yang menukarkan uangnya ke mata uang asing, akibat naiknya nilai dollar?
