Pengantar
Sex sebagai fenomena sosial adalah masalah penting untuk diteliti dan dibahas. Tetapi, membahas masalah sex sebenarnya seperti membahas masalah yang serba rapuh. Sekalipun masalahnya serius dan harus dihadapi secara sungguh-sungguh, tidak jarang kita bisa terjebak dalam rawa-rawa lelucon ataupun pembicaraan yang vulger. Padahal kalau diteropong dengan cermat dan lebih jauh, masalah sex tersebut akan segera mendesak kita untuk menempuh sebuah horison yang teramat luas. Di sana akan jelas betapa pandangan dan sikap terhadap sexualitas, serta serba jenis pengungkapan tingkah-laku sexuil menjamah banyak bidang kehidupan masyarakat manusia. Sex muncul dalam masalah keluarga, sex muncul dalam sekolah, di pengadilan, dan bertebaran dalam film, majalah dan lain-lain media massa. Sex mewarnai subkultur kaum muda, sex berperan dibalik transaksi bisnis ataupun keputusan politik. Bahkan ketika jenis-jenis usaha hiburan malam banyak di bangun, perdebatan soal sex itu sampai menyentuh masalah “kultur pembangunan” kita dewasa ini. Bagaimana masyarakat melihat masalah ini, apa pengaruh kehidupan sex bebas, sejauh mana komersialisasi sex membawa akibat, itulah di antara bahan yang ingin ditelaah dalam dialog ini.
Sikap Pemerintah dan peranan media-massa adalah faktor paling penting dalam soal ini. Oleh karena itu, Prisma mengundang Menteri Penerangan Mashuri untuk menjelaskan kriteria dan kebijaksanaan pemerintah khususnya yang mengatur masalah pornografi dalam media-massa. Wawancara dilakukan juga dengan Rendra, seniman dan dramawan yang memenangkan hadiah Akademi Jakarta, Irma Hardisurya, Ratu Indonesia tahun 1969 dan Sarjana Senirupa ITB, dokter H. Ali Akbar, kepala Rumah Sakit Islam Jakarta yang banyak mengamati persoalan ini, serta yang tak kurang pentingnya adalah seorang pendapat seorang manager Klab Malam, Kris Biantoro, mengenai peranan wanita dalam jenis hiburan malam. Diharapkan dengan ini beberapa dimensi permasalahan telah berhasil terungkapkan, sekalipun tidak sebanyak yang kita harapkan.-Red.—
Departemen Penerangan bukan polisi moral, Mashuri, Menteri Penerangan RI
Agar dapat melihat landasan-landasan kebijaksanaan serta langkah-langkah teknis operasionil Pemerintah secara lebih mendetail dalam menanggulangi masalah pornografi, perlu difahami lebih dulu kerangka dasar pandangan Pemerintah di bidang ini. Sebagai Bangsa kita memiliki tata nilai sendiri. Adalah merupakan kewajiban kita untuk senantiasa memelihara nilai-nilai itu, karena ia merupakan pencerminan dari Kepribadian Nasional kita sendiri. Dengan demikian wajar kalau kita selalu melakukan penapisan terhadap pengaruh-pengaruh dari luar maupun dari dalam yang mungkin akan merusak nilai-nilai yang kita pelihara bersama. Apalagi pembangunan kita adalah pembangunan manusia seutuhmya, tidak hanya materiil tapi juga mental spirituil. Dalam hal ini Pemerintah sama sekali tidak menganggap dirinya sebagai “polisi moral” atau “moralis” yang hendak “menggurui” media massa atau publik umumnya. Harus juga diingat, bahwa nilai-nilai yang kita miliki akhirnya tokh akan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu maka tidak akan ada kriteria atau patokan yang final tentang pornografi. Pemerintah—dalam hal ini Departemen Penerangan—mengambil sikap mengadakan kesepakatan antara tafsir longgar dan tafsir ketat dari patokan-patokan yang telah ditetapkan. Dalam bidang film misalnya telah ada kriteria penyensoran. Juga dalam bidang pers telah ditetapkan patokan-patokan sebagaimana dicantumkan dalam buku pedoman No. 5 yang telah dikeluarkan oleh Deppen.

Sex menjadi binal ketika kebudayaan jadi akumulatif, Rendra, Penyair, Dramawan
Sex dalam konteks kulturil Gejala sexualisasi mulai nampak seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Seolah-olah mengikutinya secara inheren. Sex muncul dalam komunikasi, dalam perdagangan, dalam industri. Sex muncul dalam berbagai aspek kehidupan. Jika kita melihatnya dalam konteks kulturil, maka gejala ini dapat diterangkan sebagai buah dari perkembangan kebudayaan yang terlalu jauh dari alam. Kalau perkembangan kebudayaan terlalu menekan naluri alamiah, maka akan timbul suatu kebutuhan untuk mengundang unsur alam yang paling dasar dan paling fundamentil secara kasar. Biasanya yang diundang itu adalah maut dan sex. Kadang-kadang juga gairah hidup diundang kembali, tetapi gairah hidup biasanya kreatif. Hingga yang mudah diundang secara kasar adalah sex dan maut itu.

Seks gratis itu hanya “mode”, Irma Hardisurya, Ratu Indonesia 1969, Sarjana Seni Rupa ITB
Sex itu lumrah, wajar untuk dibicarakan. Saya sudah membicarakan perihal sex dengan ibu atau saudara di rumah ketika menanjak dewasa. Dengan kawan pria atau wanita, saya juga membicarakan sex apa adanya. Jadi sex bukan hal yang tabu, hingga perlu ditutup-tutupi atau disembunyikan. Atas dasar itu pula saya sekarang bersedia membicarakannya melalui media pers. Masalah sex kini menjadi lebih terbuka karena pengaruh dari luar. Komunikasi yang demikian maju telah membawa perubahan-perubahan di dalam masyarakat kita, termasuk perubahan-perubahan tingkah laku dalam soal sex. Perubahan-perubahan itu sering kita terima sebagai mode tanpa dihayati sepenuhnya. Salah satu di antaranya adalah mode hubungan sex secara bebas (seks bebas). Seks bebas yang kini nampaknya sudah ada di kota-kota besar seperti Jakarta sebenarnya adalah fenomena Dunia Barat. Mereka sampai berfikir untuk melakukan seks bebas setelah melalui proses tertentu. Negeri kita berlainan dengan di Barat. Di sini seks bebas tidak lebih daripada mode. Maksud saya orang-orang yang melakukannya hanya sekedar sok modern, takut ditolak masuk ke dalam lingkungannya kalau tidak melakukan seks bebas.

Sex: makin dibisniskan, makin tak memuaskan, H. Ali Akbar, Rektor Sekolah Tinggi Kedokteran YARSI
Memang secara garis besarnya akibat kemajuan teknologi banyak hal yang berubah. Kehidupan agraris di mana orang saling harga-menghargai sudah diganti dengan kehidupan individualistis. Agama sudah dikesampingkan karena agama tak lagi memberikan jawaban kepada persoalan kehidupan. Begitu juga dalam kehidupan sex. Dalam masyarakat agraris kehidupan sex lebih tenang dan memuaskan serta alamiah. Pagi-pagi mereka bekerja di sawah, malam hari tidak banyak yang dipersoalkan. Jadilah kehidupan kekeluargaan yang baik. Kita lihat di sini bahwa mereka lebih banyak tinggal di rumah. Mereka takkan keluar rumah untuk hal-hal yang tidak begitu perlu. Dalam lingkungan alamnya, mereka mengakui kekuatan yang lebih tinggi daripadanya. Untuk menghadapi tantangan alam mereka harus bersatu, dalam bentuk gotong-royong dan sebagainya. Hal ini memberikan rasa bermasyarakat yang kuat. Dan apa yang dikatakan “sepi” tak dikenal oleh mereka. Kesepian tidak ada dalam masyarakat agraris. Lain pula di kota. Akibat sifat individualistis yang tebal, rasa bermasyarakat mereka sudah menipis. Dan apa yang dikatakan “sepi” sudah mencekam jiwa orang kota. Oleh karena itulah agama Islam mengajarkan: “Cintailah manusia itu sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri”. Ajaran ini dilandasi bahwa musuh manusia terbesar adalah kesepian.

Bisnis hiburan malam akan semakin baik, Kris Biantoro, Manajer Klab Malam Tropicana
Saya akan menentang keras seandainya di Klaten atau kota kecil lainnya didirikan klab malam atau sebangsanya. Sebab tempat-tempat hiburan semacam itu hanya cocok untuk kota-kota besar, di mana sikap hidup dari masing-masing individu jauh berbeda satu sama lain, dan ketegangan hidup (strain) sudah sedemikian rupa sehingga diperlukan suatu jenis “entertainment” yang lain. Orang yang punya uang tentu tak mau dicampurkan dengan mereka yang tidak punya uang. Masing-masing punya selera sendiri-sendiri untuk santai. Keadaan seperti inilah mungkin yang dimanfaatkan oleh DKI dengan pemberian izin bagi tempat-tempat hiburan malam.
Jadi hiburan malam di kota besar merupakan kebutuhan. Hiburan malam memang sering diissukan sebagai sarang maksiat. Saya kira soal perbuatan maksiat di mana-mana ada, apa itu di Menteng atau di tempat lainnya. Yang penting bagaimana mengontrolnya. Memang image masyarakat yang buruk terhadap kehidupan malam merupakan pil pahit yang harus ditelan. Namun sejauh ini klab malam yang baik selalu menghindari pertunjukan-pertunjukan yang “jorok”. Di Eropa pertunjukan-pertunjukan semacam itu hanya ada pada klab malam yang kecil dan konsumennya pada umumnya pelaut.
Menurut pengalaman saya para pengunjung klab malam sekarang untuk pertunjukkan yang tidak sopan, mereka sudah berani bilang: “Wah, jijik!” Untuk itulah di klab malam yang saya pimpin (Tropicana) acara-acara strip tease menempati urutan paling belakang. Itu saja kita pilih strippers yang berkwalitas baik, sehingga unsur art lebih menonjol daripada unsur yang lain. Acara lain yang mulai dikembangkan adalah program cultural show di mana kebudayaan Indonesia dari Sabang hingga Merauke kita hidangkan kepada pengunjung.
Trend bisnis kehidupan malam menurut saya akan semakin baik. Kita lihat saya misalnya Tokyo di mana kehidupan malamnya menyerap 11 juta penduduknya dari 13 juta total warga kota itu. Jakarta dengan penduduk 5 juta saya kira lambat laun akan menuju ke arah sana.
