Prisma

Dialog: Tiga Skenario Industrialisasi

Pengantar

Pembangunan sektor industri sebagai bagian pembangunan nasional, kembali menjadi bahan pembicaraan di kalangan para ahli dan pejabat pemerintah, lebih-lebih setelah prospek penerimaan negara dari sektor minyak dan gas bumi makin suram untuk masa mendatang. Seolah-olah ada keinginan untuk menelaah kembali strategi industrialisasi guna memacu percepatan tumbuhnya sektor industri, meningkatkan ekspor komoditi industri, memperkuat dan memperdalam struktur industri dan mengoptimalkan daya serap akan tenaga kerja.

Perbincangan mengenai industrialisasi itu meliputi skenario pemanfaatan keunggulan komparatif, delapan wahana transformasi teknologi dan industri, serta program keterkaitan antara sektor industri dan sektor-sektor lain. Ketiga skenario ini memiliki dasar dan alasan masing-masing untuk tujuan pengembangan sektor industri Indonesia.

Menteri Perindustrian, Ir. Hartarto, menilai, ketiga pengelompokan pemikiran industrialisasi itu telah tercakup dalam pola pengembangan industri nasional. Namun dia menolak pendapat tentang program keterkaitan yang dianggap sebagai pola pengembangan. Keterkaitan antar industri, katanya, merupakan prinsip yang digunakan untuk meningkatkan nilai tambah sektor industri. Sedangkan soal keunggulan komparatif juga tetap diperhitungkan oleh berbagai departemen teknis terutama untuk komoditi yang diarahkan ke pasar internasional.

Keunggulan komparatif memang harus dimanfaatkan secara optimal bagi pengembangan industri di Indonesia. Tapi keunggulan komparatif itu, menurut Menteri Muda Urusan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (UP3DN) Ir. Drs. Ginandjar Kartasasmita, pada suatu saat akan kehilangan dayanya. Untuk itulah dunia usaha perlu menyiapkan diri menghadapi kemungkinan itu, di samping kerugian komparatif pun harus diperhitungkan untuk menghasilkan produk yang memiliki daya saing di pasar dalam negeri dan luar negeri.

Bagi Prof. Dr. M. Arsjad Anwar, Guru Besar Ilmu Ekonomi pada Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, titik kritis pembangunan industri di Indonesia lebih banyak dihadapi oleh kelompok-kelompok industri yang telah ada selama ini. Setelah melewati masa yang penuh fasilitas, kini mereka harus menyesuaikan diri dengan suasana baru yang ternyata cukup sulit. Perlakuan yang sama baik terhadap industri yang berorientasi ke luar maupun terhadap yang berkiblat ke dalam, tandasnya, mutlak harus dilakukan pemerintah. Tapi soalnya adalah, berapa besar, sampai kapan dan bagaimana caranya proteksi itu diberikan sehingga industri manufaktur itu mampu berkembang tanpa proteksi dan fasilitas?

Dialog Prisma kali ini membahas pemikiran-pemikiran sekitar industrialisasi ini, efisiensi dan daya saing produksi, serta masa depan sektor industri dikaitkan dengan jumlah investasi. Redaksi

Program Keterkaitan Meningkatkan Nilai Tambah, Hartarto, Menteri Perindustrian RI

Pengelompokan pola pikir industrialisasi ke dalam pengembangan industri yang memiliki keunggulan komparatif (comparative advantage), konsep Delapan Wahana Transformasi Teknologi dan Industri, dan konsep keterkaitan antarindustri, sebenarnya secara an, terutama untuk komoditi yang diarahkan ke pasar internasional.

Keunggulan Komparatif Bisa Berakhir, Ginandjar Kartasasmita, Menteri Muda Urusan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam

Negeri (UP3DN) dan Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM).

Pengembangan industri, tidak bisa tidak, memang harus mengoptimalkan keunggulan komparatif (comparative advantage) yang dimiliki oleh suatu negara. Tanpa itu tak mungkin industri negara tersebut tumbuh secara mantap. Apa pun strategi yang dipilih, landasannya haruslah pengembangan keunggulan komparatif. Pemikiran ini dimiliki oleh banyak sarjana karena di bangku kuliah memang masalah keunggulan komparatif itu dipelajari. Karena itu, pola atau pun pemikiran mengenai keunggulan komparatif ini bukanlah milik suatu kelompok ekonom tertentu. Tapi bagaimana cara mengembangkannya, di situlah terjadi perbedaan pendapat di kalangan para pemikir.

Proteksi, Bersifat Sementara dan Makin Kecil, M. Arsjad Anwar, Guru Besar Tetap dalam ilmu Ekonomi pada Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, Jakarta.

Dalam proses pembangunan ekonomi kita melihat bahwa peranan industri manufaktur dalam Produk Domestik Bruto (PDB) makin lama makin besar. Kejadian ini dapat diterangkan karena berubahnya alokasi sumber-sumber daya ke berbagai sektor yang menyertai pertumbuhan ekonomi atau peningkatan pendapatan nasional per kapita. Terdapat tiga proses universal yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi. Pertama; pergeseran dalam permintaan terhadap barang dan jasa. Kedua; perubahan dalam kuantitas, kualitas dan komposisi faktor produksi serta perkembangan teknologi. Dan ketiga; peningkatan spesialisasi dalam pelaksanaan kegiatan ekonomi baik antar sektor dan unit usaha maupun dalam setiap unit usaha.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan