Prisma

Dialog: Tradisi dan Daya Tahan Indonesia

Pengantar

Berbagai perkembangan pada masa sekarang, baik yang berasal dari kecenderungan yang terjadi di luar negeri, maupun yang berupa realitas dalam negeri sendiri, muncul sebagai tantangan. Semua perkembangan itu, kata Ginandjar Kartasasmita, Menteri Muda Urusan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri, dapat melemahkan posisi kita sebagai bangsa. Bahkan, kedaulatan kita sebagai negara bisa terancam. Dia menyebut masalah pertambahan penduduk yang cukup besar pada akhir abad XX, pergeseran dalam pemanfaatan sumberdaya dan sumber alam, serta perkembangan pesat dalam bidang teknologi, sebagai tantangan-tantangan itu. Ginandjar, yang juga memangku jabatan Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), menguraikan faktorfaktor tersebut sebagai bahan pertimbangan yang membuat kita perlu menyiapkan diri untuk menggiatkan pemakaian produksi dalam negeri.

Menteri Ginandjar berbicara tentang daya tahan ekonomi Indonesia. Daya tahan tersebut, menurut dia, harus bertumpu pada kekuatan pasar dalam negeri dan industri yang memiliki akar pada sumber alam Indonesia — yang perlu digiatkan.

Tapi daya tahan atau resistensi, bukan hanya untuk masalah ekonomi belaka. Kaum gelandangan di berbagai kota, seperti disebut Syamsuddin Nainggolan, juga berusaha melawan “injakan”, guna mempertahankan hidupnya. Syamsuddin, yang juga pernah menggelandang di Ibukota, kini menjadi pekerja sosial, dan mengetuai Yayasan Panca Bhakti di Jakarta. Program yayasan ini, katanya, adalah menolong “lapisan bawah” yang tengah berjuang memperbaiki hidupnya. Dan partisipasi masyarakat, perlu digalakkan, kata Syamsuddin.

“Dialog” kali ini juga menampilkan dua tokoh lain yang berbicara dari sisi budaya dan tradisi. Asrul Sani, berpendapat bahwa dalam melihat perkembangan kebudayaan kita kini tiba-tiba takut, dan mencari pegangan seperti orang akan tenggelam. Itu semua kemudian membuat masuknya kebijaksanaan politik ke dalam kebijaksanaan untuk masalah kebudayaan. Katanya, kita sekarang memakai “penggada besar” — mencoba merangkum masalah yang berbeda-beda dengan satu penyelesaian yang sangat umum sifatnya. Dan “penggada besar” itu adalah bahaya, yang datangnya dari dalam. Tapi, kata Asrul, menyelesaikan masalah-masalah yang bertentangan dengan “penggada besar” tidak akan melahirkan suatu kebenaran.

Budayawan lain, Mochtar Lubis, juga mempersoalkan masalah yang sama. Sastrawan, bekas Pemimpin Redaksi surat kabar Indonesia Raya ini, mencatat bahwa kini pemerintah agak enggan mempersoalkan kebudayaan, karena boleh jadi tak ingin mendiskusikan pendapat yang berbeda-beda. Namun, menurut Mochtar, kita harus berani mengidentifikasi tradisi kita: yang membuat kita lemah, dan yang membuat kita kuat. Segenap tradisi yang baik harus ditegakkan dan kebiasaan yang buruk kita lepaskan. Kita, kata Mochtar Lubis, harus bersikap rasional dan merebut kembali rasa percaya pada diri sendiri.

Daya tahan atau resistensi dan tradisi yang kita miliki, dibicarakan dengan empat tokoh yang muncul pada “Dialog” kali ini. Redaksi

Daya Tahan Ekonomi dan Kekuatan Dalam Negeri, Ginandjar Kartasasmita, Menteri Muda urusan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri dan Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal.

Dasar ekonomi suatu negara yang mandiri adalah kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan barang-barang dan jasa seluruh masyarakatnya dari dalam negerinya sendiri. Hal ini tak berarti bahwa negara itu menganut sikap “tertutup”. Kalau kita melihat kenyataan yang dihadapi negara-negara di dunia, memang tak ada satu bangsa pun yang seratus persen mampu memenuhi kebutuhan rakyatnya dari produksi dalam negeri. Mesti ada beberapa di antaranya yang didatangkan dari luar. Tapi bagi kelangsunngan hidupnya, seharusnya kebutuhan esensial suatu negara — misalnya kebutuhan sandang pangannya sedapat mungkin dipenuhi oleh kemampuan produksi dirinya sendiri. Pada tingkat tertentu, sektor industri pun harus dapat melakukan kemandiriannya. Inilah wawasan politik mengapa kita sebagai bangsa yang telah merdeka selama kurang lebih dari 40 tahun kini mengupayakan gerakan “penggunaan produksi dalam negeri” secara nasional

Memperjuangkan Nasib di Lapisan Bawah, Syamsuddin Nainggolan, Pekerja Sosial dan Ketua Yayasan Panca Bhakti di Jakarta

Sesungguhnya tak seorang pun mau hidup menggelandang di pinggir kali, kolong jembatan, tepian rel kereta api, emper toko dan tempat lain. Mereka sadar, daerah-daerah itu bukanlah tempat pemukiman yang layak bagi kehidupannya. Tapi mereka terpaksa menerima nasib hidup di lembah kemiskinan itu karena tiada jalan lain. Mereka mengadu nasib dan untuk itulah mereka bekerja keras memulai hidup dari bawah, tak peduli apa pun tempat tinggalnya, pekerjaannya dan pergaulan hidupnya sehari-hari.

Penggada Besar: Bahaya dari Dalam, Dialog Asrul Sani, Budayawan

Sebenarnya sejak dulu Indonesia merupakan negeri terbuka dan menjadi tempat persinggahan berbagai macam kebudayaan, seni bahkan agama, yang datang dari luar. Bila dilihat dari segi itu, Indonesia sudah “terlatih” dalam menghadapi perbenturan-perbenturan dengan kebudayaan asing. Perbenturan kebudayaan itu tidak ditentangnya, tetapi senantiasa disesuaikan dengan alam Indonesia. Kita lihat misalnya contoh kecil, bagaimana tarian Ramayana yang menjadi berbeda dengan tarian Ramayana di negara asalnya, India. Juga kita lihat dominannya warna merah yang dipenuhi “kaca-kaca” di belakang pelaminan orang Minangkabau yang sebenarnya dipengaruhi kebudayaan Cina.

Rebut Kembali Rasa Percaya Diri, Mochtar Lubis, Sastrawan dan budayawan.

Banyak masalah mendasar yang kita hadapi dewasa ini. Kita menempuh jalan sesat sudah cukup lama. Tetapi baiklah, kita lihat dulu situasi yang kita rasakan, dan yang kita sadari sekarang. Keadaannya sekarang tidak menentu, mengambang tidak karuan, dan kita tidak tahu kita mau ke mana. Yang kita rasakan kini antara lain adalah tidak sesuainya apa yang dikatakan dengan apa yang jadi kenyataan. Jika kita dengarkan pidato para pemimpin pemerintah kita, rasanya jelas apa yang dikatakan. Tak satu pun isi pidato itu yang bertentangan dengan keinginan kita, baik tentang Pancasila, hak asasi manusia, masalah pemerataan, demokrasi dan sebagainya. Kita akan senang sekali jika semua yang dikatakan dalam pidato itu dilaksanakan. Begitu juga dengan janji untuk memberantas korupsi.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan