Prisma

Dialog: Wajah kita dalam film, musik, mode dan iklan

Pengantar

Sjuman Djaya terbilang sutradara yang tak gampang kompromi. Begitu menurut Ami Priyono, yang mulai bikin debut lewat “Kampus Biru”. Dengan mereka ini kita berbincang-bincang tentang film dan perdagangan mimpi.

Guruh Soekarnoputra bilang kita ini suka minder dengan musik kita sendiri. Maka dicobanya memadukan gypsy dan gamelan Bali dalam satu adonan. Tapi dalam mode, seorang yang mengenakan gaun malam “Dior” plus kalung batok dari Bali, norak jadinya. Itu menurut Arthur Tambunan, perancang mode yang lulusan Italia itu.

Tapi bahkan dalam menjajakan barang pun acapkali orang menemukan kesulitan dalam mencari ekspresi Indonesia. Begitu diungkapkan oleh Nuradi, lulusan Harvard yang memimpin biro iklan nasional terbesar, Intervista Advertising. Red.-

Di tangan borjuis kelontong, film hanya barang dagangan, Sjuman Djaya, Sutradara

Kalau kita coba menilai film dalam hubungan dengan kultur pop yang kini berkembang di Indonesia, maka jelas dia merupakan media massa. Lantas kita bertanya mengenai soal fungsi film ini; mau ke mana perkembangan film Indonesia? Ini sebuah pertanyaan lama. Festival-festival film telah mengemukakan pertanyaan serupa yang dianggap kontroversiil. Pertanyaan ini saja sudah menunjukkan kegelisahan dalam kalangan orang-orang film sendiri. Memang ada alasan untuk gelisah. Sebab sinematografi di Indonesia lahir dan berkembang dan berada di bawah kegiatan mereka yang bukan seniman film. Dia berada di bawah kegiatan bisnis. Dan celakanya, bukan di bawah kapitalis-kapitalis atau borjuis-borjuis kelas wahid atau bisnis kelas satu, tetapi berada di bawah kekuasaan orang bisnis kelas kelontongan. Pedagang kelontong. Borjuis kelontong.

Dan ini tidaklah sulit untuk dijelaskan. Kebetulan orang Tionghoa yang menghidupkan jenis kegiatan ini untuk pertama kalinya adalah jenis pedagang yang datangnya dari Shantung dan bukannya dari Hainan atau dari tempat-tempat lainnya. Mereka adalah orang-orang yang menjajakan barangnya dari rumah ke rumah. Pemberi kredit dan para rentenir. Bagaimana bisa mengharapkan sesuatu yang sifatnya kulturil dan artistik dari orang-orang jenis ini? Asalnya saja dari borjuasi kelas bawah. Maka yang dihasilkan betul-betul kerdil. Kalau film untuk pertama kalinya dibuat oleh masyarakat kelas ini maka untuk mereka film tidak lebih dari barang dagangan. Inilah warisan film yang kita punyai. Sekali-kali saja muncul seniman. Tetapi dia tidak dapat melepaskan diri dari selubung yang begitu kuat mengitarinya. Suasana semacam itu sudah begitu menguasai dan mentradisi.

Secara nasional pun borjuasi Indonesia tidak pernah melahirkan industri, tidak melahirkan ilmu pengetahuan atau teknologi seperti borjuasi Eropa. Borjuasi Eropa melahirkan teknologi industri, ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Borjuasi kita dilahirkan untuk menguras habis kekayaan alam. Nenek moyang kitapun sebenarnya sudah pandai menjual barang-barangnya seperti itu. Semua ini sebenarnya sudah berproses dalam segala bidang secara nasional. Sehingga hasilnya serba kerdil. Akhirnya datang beberapa seniman yang mencoba menembus suasana kalut ini seperti Usmar Ismail. Dia memunculkan karya-karyanya yang bermutu tinggi. Tetapi akhirnya dia sendiripun keblinger. Lantas sekarang muncul anak-anak muda yang lain.

Tetapi toh tetap bisa dibayangkan bahwa sebagian besar dari para produsen kita bukanlah produsen murni. Mereka ini adalah para produsen yang dulunya berdagang film-film impor. Karena keadaan yang memaksa dan dipaksa pemerintah akhirnya membuat film. Dan yang tampil bukanlah orang yang kita harapkan tetapi spekulan-spekulan. Masalahnya apakah wajah film Indonesia yang akan datang merupakan personifikasi dari para pedagang-pedagang ini ataukah para seniman? Di sinilah terjadi konflik!

Paling manjur hiburan yang memabukkan, Ami Priyono, Sutradara

Tugas produser film adalah memberikan hiburan untuk masyarakat. Sebagai hiburan, film tak banyak bedanya dengan majalah hiburan: menyajikan cinta, kemewahan, kekerasan, lelucon dan juga “gossip“. Penonton kita adalah orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk bergelut dan mempertahankan hidup. Kita akan kurang menghibur kalau menyajikan lagi kepahitan hidup itu dalam film. Bagi saya, film harus memberikan harapan, bahwa esok lusa masih ada “hari baik”. Di sini letak kesulitannya. Saya selalu dipojokkan kepada kenyataan bahwa hiburan yang paling manjur di negara berkembang ini justru hiburan yang memabukkan.

Memang ada peningkatan dalam selera penonton. Demikian saya dengar dari beberapa orang. Tetapi saya rasa ini baru terjadi pada lapisan menengah atas dari masyarakat kita. Mereka inilah yang menjadi konsumen utama film-film baik seperti Si Dul atau Inem pelayan sexy. Tetapi mayoritas penonton kita masih melalap film-film yang memabukkan.

Yang tak kenal pop, dianggap kampungan, Guruh Soekarnoputra, musikus

Musik pop dahulunya masuk ke negeri kita lewat “anak-anak gedongan” yang orangtuanya bisa membeli piringan hitam di luar negeri. Lalu diputar di rumah, dan kawan-kawannya mendengarkan. Kemudian mereka beli alat-alat band, bikin pesta dan main di sana. Akhirnya masuk ke pemancar-pemancar radio yang dibikin anak-anak muda. Mulailah anak-anak di luar Menteng dan Kebayoran mengenalnya. Lantas timbul anggapan bahwa inilah musik keren, dan kalau tidak kenal sama musik demikian, bakal tetap jadi “orang kampung.”

Apakah musik serius telah tergeser oleh musik pop dewasa ini? Menurut saya tidak. Keadaannya sama saja dengan dahulu, walaupun kelihatannya musik serius tergeser. Hanya saja, teknologi yang makin berkembang melahirkan banyak perusahaan rekaman, dan masyarakat pun memiliki kesempatan makin luas menikmati musik pop. Di balik itu, penggemar musik klasik adalah golongan atas dan “orang intelek” yang jumlahnya tidak begitu banyak dibandingkan dengan penggemar pop. Itulah sebabnya musik serius yang merupakan musik prestise bagaikan tergeser oleh pop. Padahal tidak.

Ada juga orang yang berpendapat bahwa orang-orang berpendidikan yang bisa menikmati musik klasik kadang-kadangpun disebabkan snobisme. Buat membicarakan hal ini, kita harus melihat pembangunan mental serta ideologi bangsa. Ini tidak sama dengan membicarakan pembangunan fisik yang perkembangannya langsung terlihat setelah satu atau dua tahun. Pembangunan mental tidak bisa dilakukan cepat. Dan ini akan berpengaruh pada bidang ekonomi, politik, dan segala segi kebudayaan, termasuk musik.

Dan kita kadang-kadang memang memberikan penghargaan yang terlalu berlebihan terhadap musik klasik, karena kita tidak sadar akan eksistensi kita. Kita sebetulnya jarang berfikir secara hakiki, jarang merenung-renung apa gunanya hidup, bagaimana supaya tidak munafik dan bagaimana supaya jujur. Kita malas dan jarang memikirkan itu. Tetapi menurut saya hal seperti itu tidak apa-apa, karena golongan intelektuil kita dan mereka yang berkesempatan sekolah tetap memiliki rasa ingin mengabdi kepada bangsa dan negara.

Perancang mode seperti Jururamal, Arthur Tambunan, Perancang mode

Saya pernah ke suatu pesta. Dan saya lihat ada seorang nyonya yang berpakaian mewah. Dilihat dari atas okey … dilihat dari bawah okey … Dan rupanya dia memakai evening dress dari DIOR yang bagus sekali. Semuanya bagus. Tetapi … di lehernya bergantungan kalung batok-batok dari Bali. Waaah … apa itu? Hilang semua keserasian! Dan pengalaman seperti ini sangat sering terjadi di sini. Kombinasi yang tidak serasi antara cara berpakaian yang ditirunya dari Barat dan cara berpakaian tradisionil. Hasilnya aneh. Kalau mau menyontek, nyonteklah 100% dan fahami artinya.

Atau seseorang yang berpakaian semuanya bagus serba mahal, lantas tiba-tiba muncul tasnya dari plastik. Mengapa? Di samping pakaian yang serba mahal muncul tas plastiknya yang hanya berharga 4.000-5.000 rupiah. Tahu-tahu dari cara berpakaian saja dia sendiri sebenarnya bisa membeli tas seharga 100.000 rupiah atau malah lebih mahal. Hal seperti itu akan memberikan kesan nora!

Eksibisi

Dalam hidup ini manusia sebenarnya melihat satu kepada yang lain. Dia akan menilai mana yang baik dan mana yang buruk. Setelah itu dia akan mencontoh apa yang pantas dicontoh. Demikian pun dalam pakaian. Ketika kita tidak lagi mengenakan sarung dan menggantikannya dengan rok atau celana kita sudah tidak lagi mengikuti pola berpakaian tradisionil. Apakah itu meniru? Atau apakah buruk melihat cara berpakaian orang lain? Saya sendiri tidak terlalu setuju memakai kata meniru dari Barat. Karena memang sudah dari mulanya kita meniru. Saya lebih suka bahwa kita sejalan dengan mereka. Mereka begitu kita juga begitu. Dan mode yang lagi laris di Eropa walaupun sedikit agak terlambat akan datang juga ke sini. Dan bilamana dilihat dari segi sosial ekonomi di Indonesia pada saat ini klien atau langganan biasanya dari kalangan atas atau boleh dikatakan menengah atas; dan bisa ditambahkan bahwa kalau ada pesanan khusus biasanya berasal dari kalangan high society.

Iklan dan polusi gayahidup, Nuradi, Direktur Intervista Advertising

Kebudayaan iklan (the culture of advertising) adalah suatu gejala dari kemajuan ekonomi. Produksi dilakukan secara massal untuk menghemat biaya satuan; ini tentunya juga memerlukan adanya pembelian secara massal pula. Dan untuk merangsang pembelian atau konsumsi secara massal itulah iklan diciptakan.

Sebenarnya apa yang terjadi di negeri kita belum seberapa jika dibandingkan dengan negara-negara yang sudah maju. Di sana masyarakat sudah terbiasa menerima halaman-halaman iklan yang lebih banyak dalam koran atau majalah. Mereka malahan menganggap hal itu wajar saja; sudah ada kesadaran bahwa justru banyaknya halaman iklan itulah yang memungkinkan mereka menikmati isi koran atau majalah yang mereka gemari.

Di negara kita orang jadi jengkel kalau bacaan mereka banyak memuat iklan. Begitu juga acara-acara TV sering dikecam karena terlalu banyak iklan yang “mengganggu”. Mungkin karena kita semua ini sedang mengalami perkembangan yang tiba-tiba, malahan suatu forced growth, hingga adanya lonjakan dalam munculnya iklan-iklan menyebabkan kita menganggap itu sebagai berlebih-lebihan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan